Skip to main content
Back

Video inspirasi: Generasi tanpa pensiun

15 Februari, 2024

 

Sebagian orang termenung saat berbicara tentang persiapan pensiun. Jika pertanyaan tentang pensiun dilontarkan lima tahun lalu dengan aset yang dimiliki, mungkin ada yang akan menjawab “Saya berencana pensiun muda!”. Akan tetapi, sebagian diantaranya ternyata tidak memiliki niat setegas lima tahun lalu dan beralasan bahwa kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan dahulu, saat ini biaya hidup naik drastis mulai dari biaya pendidikan, kesehatan, properti dan pandemi menambah berat semuanya.   

 

Coba refleksikan pertanyaan berikut:

  • Bagaimana persiapan pensiun Anda saat ini? 
  • Apa yang menjadi halangan dalam mempersiapkan masa pensiun?

 

Walau investasi tetap dijalankan bahkan memiliki rumah pribadi, tidak dapat dipungkiri jika ekspektasi lifestyle juga makin tinggi mengakibatkan munculnya kebutuhan baru hingga biaya perawatan baik untuk rumah tinggal hingga kendaraan. Lalu bagaimana solusinya? Silakan tonton video berikut.

  • Bingung bagaimana kelola bekal pensiun Anda?

    Baca selengkapnya
  • Mampukah Anda selamat dari resesi keuangan?

    Baca selengkapnya
  • Kenapa perempuan harus memainkan peran lebih besar dalam keuangan keluarga?

    Secara tradisi dan didukung statistik, mayoritas wanita Indonesia menjabat sebagai menteri keuangan keluarga. 

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Sebagian orang termenung saat berbicara tentang persiapan pensiun. Jika pertanyaan tentang pensiun dilontarkan lima tahun lalu dengan aset yang dimiliki, mungkin ada yang akan menjawab “Saya berencana pensiun muda!”. Akan tetapi, sebagian diantaranya ternyata tidak memiliki niat setegas lima tahun lalu dan beralasan bahwa kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan dahulu, saat ini biaya hidup naik drastis mulai dari biaya pendidikan, kesehatan, properti dan pandemi menambah berat semuanya. Walau investasi masih disiplin dijalankan bahkan memiliki rumah pribadi tidak dapat dipungkiri jika ekspektasi lifestyle juga makin tinggi mengakibatkan munculnya kebutuhan baru hingga biaya perawatan baik untuk rumah tinggal hingga kendaraan.

 

Artikel ini akan membahas tentang pensiun, yaitu sebuah ide di mana ketika di umur sekitar 60 tahun, seseorang sampai di tahap kehidupan di mana tidak perlu lagi mengumpulkan uang, dan menghabiskan hari-hari bersantai tanpa mengkhawatirkan biaya hidup, lakukan hobi kesayangan, minum teh hangat setiap pagi, jalan-jalan hingga silaturahmi keluarga rutin atau apapun yang diinginkan, bebas tanpa memikirkan hal yang merundung Anda selama bertahun-tahun, yaitu pekerjaan.

 

Pertama, angka harapan hidup di seluruh dunia makin tinggi


Sejak awal abad ke 20, rata-rata harapan hidup naik dua kali lipat dan terus meningkat didukung oleh berbagai macam hal, termasuk teknologi kesehatan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 2030, satu dari enam orang di dunia akan berusia 60 tahun atau lebih. Selain itu, menurut Asian Development Bank, pada 2030, satu dari empat orang di Asia akan berusia di atas 60 tahun. Untuk mengetahui lebih banyak informasi, tantangan demografi, serta hubungannya dengan pensiun di negara-negara Asia, khususnya Indonesia. Silakan kunjungi halaman Diverse Asia.


Kemampuan beradaptasi manusia yang memungkinkan untuk hidup lebih lama tentu merupakan prestasi dan sesuatu yang wajib disyukuri. Namun sama seperti hal-hal baik lainnya dalam hidup, selalu ada konsekuensi di belakangnya, naiknya persentase orang pensiun di seluruh dunia mengakibatkan turut naiknya beban sistem pengelolaan biaya hidup pensiun atau jaminan masa tua di setiap negara di dunia. Diprediksi pada tahun 2050 nanti, populasi lanjut usia Asia akan mencapai 63% dari keseluruhan orang berusia 65 tahun ke atas di seluruh dunia (World Population Prospects, 2022) dengan Jepang saat ini dianggap berada pada tahap super-aged, di mana 28,7% populasinya berusia di atas 65 tahun. Ini merupakan tantangan demografi dan angka tersebut diperkirakan akan terus naik hingga bukan tidak mungkin jika sebuah negara tidak sanggup lagi memberikan jaminan masa tua yang layak. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia kondisinya masih baik populasinya tergolong jauh lebih muda dengan hanya 6,3% populasinya berusia di atas 65 tahun.

 

Kedua, tingkat kelahiran di dunia semakin rendah


Dengan kata lain makin sedikit orang yang tidak bisa atau tidak mau memiliki keturunan. Menurut Database Earth, pada tahun 2022, dunia memiliki tingkat kesuburan total 2,3 kelahiran per wanita. Yang menjadi perhatian adalah tingkat kesuburan total terendah yang mana dicatat oleh negara-negara berpenghasilan menengah ke atas dengan hanya 1,5 kelahiran per wanita. Dia Asia sendiri lumayan memprihatinkan, negara seperti Jepang dengan 1,31 kelahiran per wanita, Republik Korea 0,87 kelahiran per wanita, hingga Hong Kong yang hanya 0,75 kelahiran per wanita menjadi yang terendah. Di Indonesia sebenarnya masih tergolong subur namun sebagai gambaran, Indonesia mengalami penurunan tingkat kesuburan populasi sejak sekitar tahun 1950. Dari total 5.2 menjadi 2.1 kelahiran per wanita, secara persentase, penurunannya cukup dalam yaitu -58,9%.


Beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris mungkin masih nyaman dengan perbandingan 4 orang bekerja dan 1 orang pensiun, namun untuk negara seperti Jepang yang saat ini memiliki rasio tidak sehat di mana 2 orang bekerja berbanding dengan 1 orang pensiun, secara tren angka tersebut bukan tidak mungkin akan terus turun perlahan menuju satu banding satu, ini artinya satu orang pekerja akan membiayai satu orang pensiun yang hingga kini juga ikut berlangsung di seluruh belahan dunia.

 

Ketiga, jumlah pensiunan yang lebih banyak dibandingkan orang bekerja


Hal ini akan berujung pada satu hal yang tidak asing lagi yaitu kenaikan pajak. Pajak akan sangat dibutuhkan oleh sebuah negara untuk mendanai program jaminan masa tua, dan jika hal tersebut tidak berhasil ditambah beban tantangan demografi yang makin memburuk maka sistem pengelolaan biaya hidup saat pensiun sebuah negara hanya menunggu waktu sebelum akhirnya berantakan akibat beban yang terlalu berat.

 

Keempat, biaya hidup yang melonjak tinggi


Dalam beberapa dekade terakhir, biaya hidup yang melonjak sangat tinggi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Harga rumah semakin sulit dijangkau, begitu pula untuk beberapa jenis makanan, transportasi, hingga teknologi modern yang sudah lekat jadi bagian hidup semua orang seperti internet dan smartphone.


Kita semua setuju dengan ide berinvestasi, namun faktanya saat ini generasi milenial di beberapa negara merasa sangat kesulitan untuk berinvestasi bahkan di pasar modal sekalipun dan penyebab utamanya adalah naiknya kebutuhan hidup. Survei yang dilakukan oleh Business Insider dan Insider Intelligence di AS pada 2020 lalu kepada 2.020 responden milenial dengan rentang usia 21 hingga 38 tahun didapatkan jika 41% dari responden saat ini tidak berinvestasi dalam produk keuangan apa pun, dan 48% beralasan tidak punya cukup uang. Mengutip data Federal Reserve pada kuartal tiga 2023, di AS Boomer 8 kali lipat lebih kaya dibandingkan para milenial dan masih kalah dibandingkan Gen X yang masih 4.5 kali lipat lebih kaya. Ini tentunya menunjukkan betapa sulitnya perencanaan pensiun buat generasi milenial dibandingkan generasi sebelumnya. Tren ini juga cenderung berlanjut dan potensi lebih buruk bisa dialami oleh Gen Z di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri statistik dari Kustodian Sentral Efek Indonesia Januari 2023 lalu, menunjukkan hal yang patut kita syukuri, di mana generasi milenial bersama Gen Z-nya menguasai demografi investor pasar modal Indonesia dengan 81% namun sayangnya total asetnya masih kalah jauh dibanding gabungan Boomer dan Gen-X yang dengan 8 kali lipat lebih kaya.

 

Kelima, krisis finansial


2008 hingga pandemi mulai 2019 lalu disadari atau tidak memberi andil terhadap naiknya kebutuhan hidup. Kenaikan gaji bulanan belum tentu sanggup menutup, ditambah lagi dengan inflasi. Generasi milenial saat ini mungkin hanya mendapatkan 20% lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya atas pekerjaan yang serupa. Salah satu cara mengatasi hal ini adalah dengan mempertimbangkan strategi multi-aset yang berorientasi pada pendapatan dan diversifikasi jangka panjang saat merencanakan masa pensiun. Hal ini memungkinkan kita mencari dan mendapatkan pendapatan berkelanjutan dari aset yang dimiliki dengan imbal hasil lebih tinggi serta keuntungan dari apresiasi modal yang mungkin muncul di seluruh geografi dan sektor dengan imbal hasil di atas inflasi.


Fakta menarik didapatkan dari Retirement Income Forecaster MAMI, rata-rata masyarakat Indonesia akan hanya memperoleh kurang dari 20% pendapatan mereka saat ini setelah pensiun nanti. Sedangkan Dalam sebuah survei terpisah yang diadakan oleh Manulife Investment Management terungkap bahwa masyarakat Indonesia memperkirakan mereka membutuhkan rata-rata Rp16,52 juta setiap bulannya untuk dapat mempertahankan gaya hidup yang nyaman di masa pensiun, ini artinya sekitar 90% dari pendapatan rata-rata mereka saat ini. Rentang yang terlampau jauh dan tentu tidak cukup.


Solusinya terasa mudah di ucapkan, tapi sulit dijalankan. Yaitu, jangan bergantung penuh pada penghasilan bulanan dari perusahaan tempat Anda bekerja. Sudah makin banyak orang yang menyadari hal ini dan mulai memberanikan diri lakukan usaha sampingan dan berharap berhasil. Mendapatkan penghasilan tambahan atau sampingan yang berkembang seiring waktu secara positif membantu Anda keluar dari perangkap mindset dan ketergantungan gaji bulanan yang seringkali tidak sesuai dengan kenaikan inflasi tahun ke tahun. Penghasilan tambahan dapat digunakan sebagai sumber dana investasi Anda bahkan jika berkembang bisa jadi bisnis full-time Anda.

 

Keenam, biaya kesehatan dan rumah sakit makin mahal


Tidak ada jalan keluar terbaik untuk hal yang satu ini, semakin tua umur kita, menjaga dan merawat kesehatan akan menjadi prioritas kita, tanpa program BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) atau program asuransi dari perusahaan tempat kita bekerja, kita harus membayar biaya kesehatan kita sendiri baik secara tunai atau melalui asuransi kesehatan yang kita beli yang tentunya juga semakin mahal. Tanpa sumber penghasilan lain untuk menopang hidup atau menambah aset, biaya kesehatan akan menjadi alasan utama kita untuk terus bekerja di umur pensiun kita. Di masa depan pemerintah mungkin akan secara perlahan menaikkan umur pensiun sebagai solusi masalah demografi yang menua dan tentunya agar terus mendapatkan pemasukan pajak. Anda sadari atau tidak, setiap pemerintahan di seluruh dunia sudah melakukan hal tersebut baik penambahan umur pensiun maupun kenaikan pajak.

 

Ketujuh, milenial dan Gen Z sulit memiliki rumah sendiri


Pada 2020 lalu hampir 1 dari 5 milenial di AS menyatakan menyerah berusaha memiliki rumah (Millennial Homeownership Report, 2021) dan 18,2% nya diperkirakan terpaksa untuk terus menyewa dikarenakan tingginya harga rumah yang naik dari tahun ke tahun.

 

Kedelapan, tingginya ekspektasi gaya hidup masa kini


Fakta di mana kita tumbuh dewasa bersama budaya populer yang sering kali memiliki standar terlalu tinggi dan pengaruh media sosial makin hari semakin kuat menambah eksposur gaya hidup modern yang lebih mewah dibandingkan gaya hidup generasi-generasi sebelumnya. Tidak hanya soal kepemilikan barang, tetapi juga tuntutan atau kebiasaan generasi muda atas produk pengalaman seperti travelling atau konser musik untuk disimpan selamanya dalam ingatan yang sesungguhnya cenderung mahal dan membutuhkan banyak biaya.


Usia pensiun kita mungkin terasa masih sangat jauh, dan uang yang kita miliki saat ini secara emosional pantas digunakan untuk mendapatkan pengalaman dan keseruan sekali seumur hidup. Hal ini sama sekali tidak salah, namun karena hubungannya dengan uang, maka solusinya tentu manajemen keuangan sehingga Anda tidak harus kehilangan kesempatan, dan di sisi lain prioritas tetap dijalankan agar semua pengeluaran dilakukan dalam kesadaran penuh dan mawas diri.

 

Sebuah penutup


Akan sangat mudah untuk akhirnya terjebak mengeluarkan uang untuk hal yang jarang kita gunakan atau tidak memberikan banyak manfaat. Fokus saja pada hal yang benar-benar Anda inginkan dan butuhkan dalam hidup serta yakinkan diri jika yang Anda kejar tersebut punya nilai dan bukan mengubah uang menjadi sampah lainnya. Hidup optimis sangat penting, namun hidup di masa depan mungkin tidak selalu semudah yang kita bayangkan. Terus disiplin sisihkan sebagian penghasilan Anda dan usahakan untuk terus diinvestasikan dalam aset yang menghasilkan seperti reksa dana guna membantu diri Anda di masa tua nanti.
 

Generasi milenial cenderung tidak berminat untuk pensiun, dan besar kemungkinan memang perlu terus bekerja. Hal positif yang berkembang hingga hari ini adalah mereka lebih banyak memilih untuk mengikuti dan mengejar passion mereka. Belajar menyesuaikan diri untuk hidup dari hal yang merupakan passion atau bukan, selama Anda menyenangi dan menikmati hal yang Anda lakukan sebagai pekerjaan mungkin akan menjadi kunci utama untuk tidak terperangkap seperti generasi sebelumnya. Dulu kakek nenek atau orang tua Anda terus bekerja dengan sebuah pekerjaan yang mungkin tidak mereka sukai seumur hidup mereka demi mendapatkan kenyamanan hidup di hari pensiun nanti. Jangan jadikan masa pensiun Anda sebagai bentuk kedamaian dan kenyamanan yang tertunda, sebaliknya terus lakukan hal yang Anda cintai, walau kedengarannya sangat idealis tapi kenyataannya saat ini kita semua mungkin akan bekerja seumur hidup. Hal terbaik adalah untuk menjadikan masa tua kita sebagai salah satu tujuan di mana kita bisa terus hidup damai, bekerja produktif, terus kreatif, dan memberikan banyak manfaat pada dunia dan kemanusiaan hingga akhir hayat kita.

 

 

Kadang kita perlu sadari alasan kenapa kita tidak pernah benar-benar berhasil mencapai tujuan besar kita. Mungkin saja karena belum ketemu kesempatan yang tepat, atau jangan-jangan kita terbiasa menyabotase diri kita sendiri.

 

Sabotase diri terjadi ketika seseorang terbiasa melakukan hal-hal yang dampaknya cenderung menghalanginya mencapai goals-nya. Sabotase diri meliputi perusakan diri baik secara fisik maupun mental, dengan merendahkan kemampuan diri sendiri. Hal itu bisa terjadi secara sadar atau tidak sadar.

 

Perilaku ini memengaruhi kesuksesan pribadi dan profesional, serta kesehatan mental kita. Bayangkan betapa terbukanya pintu kesempatan jika kita berhasil kontrol diri dan lebih produktif tanpa harus melawan diri sendiri seperti pepatah yang mengatakan “Musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri”

 

Mengakui bahwa ia menyabotase diri adalah sesuatu yang jarang sekali dilakukan seseorang. Namun, fenomena ini adalah sesuatu yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang, baik dalam pekerjaan maupun dalam hubungan.

 

Pada awalnya, mungkin kita kurang sadar bahwa kita sedang melakukan hal-hal yang merusak diri, namun ketika dilanjutkan dan perilaku negatif itu mulai menumpuk menjadi habit, bisa saja kita menghalangi diri sendiri dari peluang yang berharga dan dari mencapai goals kita.

 

Nah, siapa sih yang mau semakin menjauh dari goalsnya sendiri? Pasti nggak ada, kan? Yuk, kita kenali, hal-hal apa saja, sih, yang terhitung sebagai tindakan menyabotase diri sendiri? Apa sih yang menghalangi kita menjadi pemenang—supaya bisa kita hindari dari sekarang.

Menunda-nunda

Menunda-nunda, atau lebih kerennya disebut procrastinating, adalah contoh umum dari tindakan menyabotase diri. Meskipun tak banyak orang yang akan mengakui ia sering melakukannya, kecenderungan untuk menunda sebenarnya sangat lazim terjadi di segala kelompok usia. Bahkan, sebuah riset menunjukkan bahwa setidaknya 20% orang dewasa mengaku sebagai “chronic procrastinators.”

 

Katanya waktu adalah uang. Jika perkataan itu benar, maka menunda-nunda bisa disebut pencuri waktu yang hebat.

 

Waktu adalah salah satu currency yang paling berharga dan tidak bisa dikembalikan. Oleh karena itu, kebiasaan menunda-nunda dapat berisiko dalam jangka panjang, terutama jika dilakukan secara terus-menerus. Jika dijadikan kebiasaan, menunda-nunda dapat menipu, membuat seseorang berpikir bahwa mereka memiliki lebih banyak waktu daripada yang sebenarnya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Apabila orang tersebut terus menunda-nunda pekerjaan penting yang dapat mengubah masa depannya, maka ia akan menghambat dirinya dari mencapai goals jangka panjangnya.

 

Menunda-nunda tidak hanya berefek pada si penunda, namun efek dari penundaan juga dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar mereka. Untuk lebih mengerti, mari kita menarik contoh rencana pendidikan anak. Tentunya pendidikan anak adalah prioritas setiap orang tua. Jika mereka menunda untuk berinvestasi sejak saat dini, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anak mereka yaitu pendidikan yang memadai. Lalu, mereka juga akan dianggap sebagai orang tua yang kurang bertanggung jawab atas masa depan anaknya. Oleh karena itu, para orang tua dianjurkan untuk mulai investasi bahkan sebelum mereka memiliki anak.

Perfeksionisme

Orang-orang perfeksionis adalah mereka yang menempatkan target atau standar yang terlalu besar, bahkan mustahil, pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, mereka cenderung lebih kritis terhadap kinerja mereka sendiri, terutama ketika target yang telah mereka tempatkan tidak tercapai.

 

Tentu, memiliki standar tinggi bukanlah hal yang buruk. Bahkan, standar-standar ini membuktikan bahwa kita memiliki ambisi yang besar. Namun, jika terlalu berpacu dengan waktu untuk memenuhi semua target dengan sempurna, maka risikonya adalah menghambat diri sendiri dari pertumbuhan sebagai pribadi.

 

Langkah pertama untuk mencegah agar tidak menjadi seorang perfeksionis adalah dengan mengubah pola pikir; ketahuilah bahwa kegagalan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna pada percobaan pertama adalah hal yang sangat wajar dan bahwa kemajuan kecil tetaplah sebuah kemajuan.

 

Memperluas wawasan juga merupakan alternatif yang bagus untuk mengalihkan fokus dari target-target berat. Dunia kita penuh dengan berbagai macam informasi dan ada banyak hal yang dapat dicari tahu, seperti bagaimana mengembangkan diri atau bagaimana menyusun target finansial. Informasi-informasi ini juga dapat digunakan nantinya untuk menyusun rencana masa depan.

Takut Akan Perubahan

Pindah ke daerah baru, memulai pekerjaan baru, memulai sebuah keluarga—semua ini merupakan contoh pengalaman yang mengharuskan seseorang untuk memilih. Tentunya, kewajiban untuk membuat sebuah pilihan itu menakutkan. Tapi, jika tidak memberanikan diri untuk melakukannya, kita akan stuck terus pada satu titik dan tidak dapat bergerak maupun berkembang.

 

Contoh lain dari perubahan adalah saat kita sadar akan memasuki masa pensiun. Rasa takut dan khawatir yang timbul karena menyadari betapa dekatnya masa pensiun adalah hal yang sangat biasa. Mungkin ketakutan itu timbul dari perasaan kurang siap untuk menghadapinya. Jika iya, jangan biarkan ketakutan itu menjadi kenyataan dan jangan khawatir, karena rasa takut itu mudah untuk diatasi.

 

Salah satu cara ampuh untuk melawan ketakutan akan perubahan adalah dengan mencari informasi. Manusia takut pada hal-hal yang tidak diketahui atau hal-hal yang tidak pasti. Dengan mencari informasi, akan lebih mudah bagi kita untuk menghadapi rasa takut tersebut.

Membandingkan diri dengan orang lain

Banyak orang yang berpikir mereka tidak cukup kuat, cukup cerdas, cukup berpengalaman atau cukup terampil untuk akhirnya berani mengambil sebuah kesempatan atau mewujudkan cita-cita.

 

Mengejar tujuan besar bagaikan pendakian, semua pasti bermula dari pijakan pertama di titik terendah sebuah gunung, yang bisa kita lakukan hanya terus berjalan naik dan mendaki, satu langkah diikuti langkah lainnya.

 

Masalah yang dimiliki sebagian besar orang adalah mereka cenderung melihat terlalu jauh untuk sebuah hasil akhir atau target pencapaian. Dalam psikologi klinis, ini dikenal sebagai imposter syndrome, yaitu, sebuah kondisi perasaan cemas, secara internal menganggap diri tidak sukses, meskipun kinerjanya tinggi secara eksternal dan objektif. Kondisi ini seringkali membuat orang merasa seperti “penipu” atau “palsu” dan meragukan kemampuannya.

 

Berhentilah membandingkan diri yang sedang berjuang menuju tujuan dengan seseorang yang sudah mencapai titik pendakian tertingginya. Untuk melawan dorongan tersebut hanya perlu fokus memulai dan belajar sebanyak mungkin sepanjang perjalanan hidup.

 

MAMI akan membagikan rahasia kecil yang kami dapatkan sepanjang karier MAMI di industri manajemen investasi.

 

MAMI berhasil menjadi yang terbesar di industri manajemen investasi Indonesia bukan merupakan hasil kerja semalam. MAMI baru berhasil mengeluarkan produk investasi pertamanya Phinisi Dana Saham yang memiliki filosofi kapal yang tahan terhadap terjangan ombak di tengah badai krisis moneter, pada 11 Agustus 1998, dua tahun setelah hadir di Indonesia pada 1996. Per Juni 2023, MAMI memiliki 35 produk reksa dana, 58 kontrak pengelolaan dana, dan 2 perjanjian penasihat investasi. Hadir lebih dari 27 tahun di Indonesia, MAMI memiliki Rp101 triliun dana kelolaan. Untuk informasi selengkapnya silakan klik di sini.

 

Yang kembali MAMI ingin sampaikan adalah selama kita tidak berhenti berusaha dan terus mengerjakan seluruh kebutuhan untuk mencapai goals kita, bahkan perbaikan atau pencapaian sedikit saja akan mendorong kita ke depan para pesaing kita.

Mengkritik diri secara berlebihan

Kritik diri dipelajari dan dibahas dalam psikologi sebagai ciri kepribadian negatif di mana identitas diri seseorang terganggu. Kritik diri melibatkan bagaimana seseorang mengevaluasi diri sendiri. Berbeda dengan refleksi diri yang merupakan keterampilan penting untuk pemulihan dan pertumbuhan emosi—tetapi hanya jika dilakukan dengan benar.

 

Di luar pentingnya menganalisis diri atau refleksi diri akan apa saja yang sudah dilakukan dan berlalu, mengkritik diri di setiap kesempatan dengan cara yang sangat berlebihan akan berkontribusi terhadap pelemahan mental dan harga diri.

 

Bagaimana kita bisa berharap akan mencapai goals kita jika kita sendiri tidak percaya atas kemampuan kita sedari awal?

 

Percaya diri adalah resep utama dari memastikan kita untuk mampu mengatasi berbagai rintangan. Rasa percaya ini mematri diri kita untuk terus terdorong dan melakukan berbagai hal melebihi batas kemampuan kita saat ini, melewati zona nyaman kita dan melawan rasa ragu kita.

Overthinking

Banyak di antara kita yang akrab dengan pengalaman overthinking, atau berpikir berlebihan, dan banyak juga yang menganggap ini hal yang wajar. Perlu disadari bahwa, secara umum, berpikir berlebihan mengacu pada proses pemikiran yang berulang dan tidak produktif. Bayangkan jika ini terjadi dengan sering di mana pemikiran biasanya terfokus pada banyak hal yang berbeda.

 

Penelitian secara umum membedakan antara merenung tentang masa lalu dan masa kini dan khawatir tentang masa depan. Terlepas dari kata apa yang digunakan, overthinking-lah yang dibicarakan, yaitu pemikiran terus-menerus dan berputar-putar yang tampaknya tidak memiliki penyelesaian.

 

Kebiasaan overthinking yang dilakukan terus-menerus dari waktu ke waktu akan berakibat pada cara seseorang memandang dunia sekitarnya, menjadikannya sebagai orang yang hidup pesimis memandang jauh ke depan. Dan yang paling merugikan adalah overthinking mencegah kita dari menetapkan atau mengambil keputusan-keputusan terbaik yang penting dalam hidup. Hal ini berpotensi mengakibatkan depresi dan kecemasan yang sangat dekat dengan masalah kesehatan mental kronis.

 

Lalu bagaimana cara menghindarinya? Topik ini akan menarik untuk dibahas secara khusus lain kali, tapi setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti mencoba untuk lebih santai, memperdalam kecerdasan spiritual, membiasakan diri melihat sesuatu dalam sudut pandang berbeda-beda, mencoba berpikir fokus kepada penyelesaian masalah, mencari teman bicara, hingga mencari bantuan profesional.

 

Secara umum setidaknya kita bisa berhenti untuk menekan diri atas hal-hal kecil dan relakan banyak hal yang di luar kontrol dan kecil kemungkinan untuk kita ubah. Sebaliknya fokuslah pada hal-hal yang penting dan berhubungan dengan hajat hidup keluarga. 
 

 


 

Referensi

Blatt, S. J. (2008). Polarities of experience: Relatedness and Self-definition in Personality Development, Psychopathology, and the Therapeutic Process. American Psychological Association (APA).

Harriott, J., & Ferrari, J. R. (1996). Prevalence of Procrastination among Samples of Adults. Psychological Reports, 78(2), 611–616. https://doi.org/10.2466/pr0.1996.78.2.611

Imposter Syndrome: Definition, symptoms & Tips to Overcome it. (n.d.). https://www.betterup.com/blog/what-is-imposter-syndrome-and-how-to-avoid-it

Overthinking: Definition, causes, & How to Stop. (n.d.). The Berkeley Well-Being Institute. https://www.berkeleywellbeing.com/overthinking.html

Confirm