Skip to main content
Back

Video inspirasi: Self-sabotage

6 Desember, 2023

 

Kadang kita perlu sadar akan alasan kenapa kita tidak pernah benar-benar berhasil mencapai tujuan besar kita. Mungkin karena belum menemukan kesempatan yang tepat, atau jangan-jangan kita terbiasa menyabotase diri kita sendiri. 

 

Coba refleksikan pertanyaan berikut:

  • Apakah Anda pernah merendahkan kemampuan diri sendiri?
  • Apakah Anda menyadari kebiasaan-kebiasaan yang menghalangi Anda mencapai tujuan dan kesuksesan?

 

Nah, lantas siapa yang mau semakin menjauh dari goals-nya sendiri? Pasti nggak ada, kan? Yuk, kita kenali, hal-hal apa saja, yang terhitung sebagai tindakan menyabotase diri sendiri, apa yang menghalangi kita menjadi pemenang—supaya bisa kita hindari dari sekarang.

 

Lihat semua

Kadang kita perlu sadari alasan kenapa kita tidak pernah benar-benar berhasil mencapai tujuan besar kita. Mungkin saja karena belum ketemu kesempatan yang tepat, atau jangan-jangan kita terbiasa menyabotase diri kita sendiri.

 

Sabotase diri terjadi ketika seseorang terbiasa melakukan hal-hal yang dampaknya cenderung menghalanginya mencapai goals-nya. Sabotase diri meliputi perusakan diri baik secara fisik maupun mental, dengan merendahkan kemampuan diri sendiri. Hal itu bisa terjadi secara sadar atau tidak sadar.

 

Perilaku ini memengaruhi kesuksesan pribadi dan profesional, serta kesehatan mental kita. Bayangkan betapa terbukanya pintu kesempatan jika kita berhasil kontrol diri dan lebih produktif tanpa harus melawan diri sendiri seperti pepatah yang mengatakan “Musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri”

 

Mengakui bahwa ia menyabotase diri adalah sesuatu yang jarang sekali dilakukan seseorang. Namun, fenomena ini adalah sesuatu yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang, baik dalam pekerjaan maupun dalam hubungan.

 

Pada awalnya, mungkin kita kurang sadar bahwa kita sedang melakukan hal-hal yang merusak diri, namun ketika dilanjutkan dan perilaku negatif itu mulai menumpuk menjadi habit, bisa saja kita menghalangi diri sendiri dari peluang yang berharga dan dari mencapai goals kita.

 

Nah, siapa sih yang mau semakin menjauh dari goalsnya sendiri? Pasti nggak ada, kan? Yuk, kita kenali, hal-hal apa saja, sih, yang terhitung sebagai tindakan menyabotase diri sendiri? Apa sih yang menghalangi kita menjadi pemenang—supaya bisa kita hindari dari sekarang.

Menunda-nunda

Menunda-nunda, atau lebih kerennya disebut procrastinating, adalah contoh umum dari tindakan menyabotase diri. Meskipun tak banyak orang yang akan mengakui ia sering melakukannya, kecenderungan untuk menunda sebenarnya sangat lazim terjadi di segala kelompok usia. Bahkan, sebuah riset menunjukkan bahwa setidaknya 20% orang dewasa mengaku sebagai “chronic procrastinators.”

 

Katanya waktu adalah uang. Jika perkataan itu benar, maka menunda-nunda bisa disebut pencuri waktu yang hebat.

 

Waktu adalah salah satu currency yang paling berharga dan tidak bisa dikembalikan. Oleh karena itu, kebiasaan menunda-nunda dapat berisiko dalam jangka panjang, terutama jika dilakukan secara terus-menerus. Jika dijadikan kebiasaan, menunda-nunda dapat menipu, membuat seseorang berpikir bahwa mereka memiliki lebih banyak waktu daripada yang sebenarnya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Apabila orang tersebut terus menunda-nunda pekerjaan penting yang dapat mengubah masa depannya, maka ia akan menghambat dirinya dari mencapai goals jangka panjangnya.

 

Menunda-nunda tidak hanya berefek pada si penunda, namun efek dari penundaan juga dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar mereka. Untuk lebih mengerti, mari kita menarik contoh rencana pendidikan anak. Tentunya pendidikan anak adalah prioritas setiap orang tua. Jika mereka menunda untuk berinvestasi sejak saat dini, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anak mereka yaitu pendidikan yang memadai. Lalu, mereka juga akan dianggap sebagai orang tua yang kurang bertanggung jawab atas masa depan anaknya. Oleh karena itu, para orang tua dianjurkan untuk mulai investasi bahkan sebelum mereka memiliki anak.

Perfeksionisme

Orang-orang perfeksionis adalah mereka yang menempatkan target atau standar yang terlalu besar, bahkan mustahil, pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, mereka cenderung lebih kritis terhadap kinerja mereka sendiri, terutama ketika target yang telah mereka tempatkan tidak tercapai.

 

Tentu, memiliki standar tinggi bukanlah hal yang buruk. Bahkan, standar-standar ini membuktikan bahwa kita memiliki ambisi yang besar. Namun, jika terlalu berpacu dengan waktu untuk memenuhi semua target dengan sempurna, maka risikonya adalah menghambat diri sendiri dari pertumbuhan sebagai pribadi.

 

Langkah pertama untuk mencegah agar tidak menjadi seorang perfeksionis adalah dengan mengubah pola pikir; ketahuilah bahwa kegagalan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna pada percobaan pertama adalah hal yang sangat wajar dan bahwa kemajuan kecil tetaplah sebuah kemajuan.

 

Memperluas wawasan juga merupakan alternatif yang bagus untuk mengalihkan fokus dari target-target berat. Dunia kita penuh dengan berbagai macam informasi dan ada banyak hal yang dapat dicari tahu, seperti bagaimana mengembangkan diri atau bagaimana menyusun target finansial. Informasi-informasi ini juga dapat digunakan nantinya untuk menyusun rencana masa depan.

Takut Akan Perubahan

Pindah ke daerah baru, memulai pekerjaan baru, memulai sebuah keluarga—semua ini merupakan contoh pengalaman yang mengharuskan seseorang untuk memilih. Tentunya, kewajiban untuk membuat sebuah pilihan itu menakutkan. Tapi, jika tidak memberanikan diri untuk melakukannya, kita akan stuck terus pada satu titik dan tidak dapat bergerak maupun berkembang.

 

Contoh lain dari perubahan adalah saat kita sadar akan memasuki masa pensiun. Rasa takut dan khawatir yang timbul karena menyadari betapa dekatnya masa pensiun adalah hal yang sangat biasa. Mungkin ketakutan itu timbul dari perasaan kurang siap untuk menghadapinya. Jika iya, jangan biarkan ketakutan itu menjadi kenyataan dan jangan khawatir, karena rasa takut itu mudah untuk diatasi.

 

Salah satu cara ampuh untuk melawan ketakutan akan perubahan adalah dengan mencari informasi. Manusia takut pada hal-hal yang tidak diketahui atau hal-hal yang tidak pasti. Dengan mencari informasi, akan lebih mudah bagi kita untuk menghadapi rasa takut tersebut.

Membandingkan diri dengan orang lain

Banyak orang yang berpikir mereka tidak cukup kuat, cukup cerdas, cukup berpengalaman atau cukup terampil untuk akhirnya berani mengambil sebuah kesempatan atau mewujudkan cita-cita.

 

Mengejar tujuan besar bagaikan pendakian, semua pasti bermula dari pijakan pertama di titik terendah sebuah gunung, yang bisa kita lakukan hanya terus berjalan naik dan mendaki, satu langkah diikuti langkah lainnya.

 

Masalah yang dimiliki sebagian besar orang adalah mereka cenderung melihat terlalu jauh untuk sebuah hasil akhir atau target pencapaian. Dalam psikologi klinis, ini dikenal sebagai imposter syndrome, yaitu, sebuah kondisi perasaan cemas, secara internal menganggap diri tidak sukses, meskipun kinerjanya tinggi secara eksternal dan objektif. Kondisi ini seringkali membuat orang merasa seperti “penipu” atau “palsu” dan meragukan kemampuannya.

 

Berhentilah membandingkan diri yang sedang berjuang menuju tujuan dengan seseorang yang sudah mencapai titik pendakian tertingginya. Untuk melawan dorongan tersebut hanya perlu fokus memulai dan belajar sebanyak mungkin sepanjang perjalanan hidup.

 

MAMI akan membagikan rahasia kecil yang kami dapatkan sepanjang karier MAMI di industri manajemen investasi.

 

MAMI berhasil menjadi yang terbesar di industri manajemen investasi Indonesia bukan merupakan hasil kerja semalam. MAMI baru berhasil mengeluarkan produk investasi pertamanya Phinisi Dana Saham yang memiliki filosofi kapal yang tahan terhadap terjangan ombak di tengah badai krisis moneter, pada 11 Agustus 1998, dua tahun setelah hadir di Indonesia pada 1996. Per Juni 2023, MAMI memiliki 35 produk reksa dana, 58 kontrak pengelolaan dana, dan 2 perjanjian penasihat investasi. Hadir lebih dari 27 tahun di Indonesia, MAMI memiliki Rp101 triliun dana kelolaan. Untuk informasi selengkapnya silakan klik di sini.

 

Yang kembali MAMI ingin sampaikan adalah selama kita tidak berhenti berusaha dan terus mengerjakan seluruh kebutuhan untuk mencapai goals kita, bahkan perbaikan atau pencapaian sedikit saja akan mendorong kita ke depan para pesaing kita.

Mengkritik diri secara berlebihan

Kritik diri dipelajari dan dibahas dalam psikologi sebagai ciri kepribadian negatif di mana identitas diri seseorang terganggu. Kritik diri melibatkan bagaimana seseorang mengevaluasi diri sendiri. Berbeda dengan refleksi diri yang merupakan keterampilan penting untuk pemulihan dan pertumbuhan emosi—tetapi hanya jika dilakukan dengan benar.

 

Di luar pentingnya menganalisis diri atau refleksi diri akan apa saja yang sudah dilakukan dan berlalu, mengkritik diri di setiap kesempatan dengan cara yang sangat berlebihan akan berkontribusi terhadap pelemahan mental dan harga diri.

 

Bagaimana kita bisa berharap akan mencapai goals kita jika kita sendiri tidak percaya atas kemampuan kita sedari awal?

 

Percaya diri adalah resep utama dari memastikan kita untuk mampu mengatasi berbagai rintangan. Rasa percaya ini mematri diri kita untuk terus terdorong dan melakukan berbagai hal melebihi batas kemampuan kita saat ini, melewati zona nyaman kita dan melawan rasa ragu kita.

Overthinking

Banyak di antara kita yang akrab dengan pengalaman overthinking, atau berpikir berlebihan, dan banyak juga yang menganggap ini hal yang wajar. Perlu disadari bahwa, secara umum, berpikir berlebihan mengacu pada proses pemikiran yang berulang dan tidak produktif. Bayangkan jika ini terjadi dengan sering di mana pemikiran biasanya terfokus pada banyak hal yang berbeda.

 

Penelitian secara umum membedakan antara merenung tentang masa lalu dan masa kini dan khawatir tentang masa depan. Terlepas dari kata apa yang digunakan, overthinking-lah yang dibicarakan, yaitu pemikiran terus-menerus dan berputar-putar yang tampaknya tidak memiliki penyelesaian.

 

Kebiasaan overthinking yang dilakukan terus-menerus dari waktu ke waktu akan berakibat pada cara seseorang memandang dunia sekitarnya, menjadikannya sebagai orang yang hidup pesimis memandang jauh ke depan. Dan yang paling merugikan adalah overthinking mencegah kita dari menetapkan atau mengambil keputusan-keputusan terbaik yang penting dalam hidup. Hal ini berpotensi mengakibatkan depresi dan kecemasan yang sangat dekat dengan masalah kesehatan mental kronis.

 

Lalu bagaimana cara menghindarinya? Topik ini akan menarik untuk dibahas secara khusus lain kali, tapi setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti mencoba untuk lebih santai, memperdalam kecerdasan spiritual, membiasakan diri melihat sesuatu dalam sudut pandang berbeda-beda, mencoba berpikir fokus kepada penyelesaian masalah, mencari teman bicara, hingga mencari bantuan profesional.

 

Secara umum setidaknya kita bisa berhenti untuk menekan diri atas hal-hal kecil dan relakan banyak hal yang di luar kontrol dan kecil kemungkinan untuk kita ubah. Sebaliknya fokuslah pada hal-hal yang penting dan berhubungan dengan hajat hidup keluarga. 
 

 


 

Referensi

Blatt, S. J. (2008). Polarities of experience: Relatedness and Self-definition in Personality Development, Psychopathology, and the Therapeutic Process. American Psychological Association (APA).

Harriott, J., & Ferrari, J. R. (1996). Prevalence of Procrastination among Samples of Adults. Psychological Reports, 78(2), 611–616. https://doi.org/10.2466/pr0.1996.78.2.611

Imposter Syndrome: Definition, symptoms & Tips to Overcome it. (n.d.). https://www.betterup.com/blog/what-is-imposter-syndrome-and-how-to-avoid-it

Overthinking: Definition, causes, & How to Stop. (n.d.). The Berkeley Well-Being Institute. https://www.berkeleywellbeing.com/overthinking.html

Kadang kita perlu sadari alasan kenapa kita tidak pernah benar-benar berhasil mencapai tujuan besar kita. Mungkin saja karena belum ketemu kesempatan yang tepat, atau jangan-jangan kita terbiasa menyabotase diri kita sendiri.

 

Sabotase diri terjadi ketika seseorang terbiasa melakukan hal-hal yang dampaknya cenderung menghalanginya mencapai goals-nya. Sabotase diri meliputi perusakan diri baik secara fisik maupun mental, dengan merendahkan kemampuan diri sendiri. Hal itu bisa terjadi secara sadar atau tidak sadar.

 

Perilaku ini memengaruhi kesuksesan pribadi dan profesional, serta kesehatan mental kita. Bayangkan betapa terbukanya pintu kesempatan jika kita berhasil kontrol diri dan lebih produktif tanpa harus melawan diri sendiri seperti pepatah yang mengatakan “Musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri”

 

Mengakui bahwa ia menyabotase diri adalah sesuatu yang jarang sekali dilakukan seseorang. Namun, fenomena ini adalah sesuatu yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang, baik dalam pekerjaan maupun dalam hubungan.

 

Pada awalnya, mungkin kita kurang sadar bahwa kita sedang melakukan hal-hal yang merusak diri, namun ketika dilanjutkan dan perilaku negatif itu mulai menumpuk menjadi habit, bisa saja kita menghalangi diri sendiri dari peluang yang berharga dan dari mencapai goals kita.

 

Nah, siapa sih yang mau semakin menjauh dari goalsnya sendiri? Pasti nggak ada, kan? Yuk, kita kenali, hal-hal apa saja, sih, yang terhitung sebagai tindakan menyabotase diri sendiri? Apa sih yang menghalangi kita menjadi pemenang—supaya bisa kita hindari dari sekarang.

Menunda-nunda

Menunda-nunda, atau lebih kerennya disebut procrastinating, adalah contoh umum dari tindakan menyabotase diri. Meskipun tak banyak orang yang akan mengakui ia sering melakukannya, kecenderungan untuk menunda sebenarnya sangat lazim terjadi di segala kelompok usia. Bahkan, sebuah riset menunjukkan bahwa setidaknya 20% orang dewasa mengaku sebagai “chronic procrastinators.”

 

Katanya waktu adalah uang. Jika perkataan itu benar, maka menunda-nunda bisa disebut pencuri waktu yang hebat.

 

Waktu adalah salah satu currency yang paling berharga dan tidak bisa dikembalikan. Oleh karena itu, kebiasaan menunda-nunda dapat berisiko dalam jangka panjang, terutama jika dilakukan secara terus-menerus. Jika dijadikan kebiasaan, menunda-nunda dapat menipu, membuat seseorang berpikir bahwa mereka memiliki lebih banyak waktu daripada yang sebenarnya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Apabila orang tersebut terus menunda-nunda pekerjaan penting yang dapat mengubah masa depannya, maka ia akan menghambat dirinya dari mencapai goals jangka panjangnya.

 

Menunda-nunda tidak hanya berefek pada si penunda, namun efek dari penundaan juga dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar mereka. Untuk lebih mengerti, mari kita menarik contoh rencana pendidikan anak. Tentunya pendidikan anak adalah prioritas setiap orang tua. Jika mereka menunda untuk berinvestasi sejak saat dini, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anak mereka yaitu pendidikan yang memadai. Lalu, mereka juga akan dianggap sebagai orang tua yang kurang bertanggung jawab atas masa depan anaknya. Oleh karena itu, para orang tua dianjurkan untuk mulai investasi bahkan sebelum mereka memiliki anak.

Perfeksionisme

Orang-orang perfeksionis adalah mereka yang menempatkan target atau standar yang terlalu besar, bahkan mustahil, pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, mereka cenderung lebih kritis terhadap kinerja mereka sendiri, terutama ketika target yang telah mereka tempatkan tidak tercapai.

 

Tentu, memiliki standar tinggi bukanlah hal yang buruk. Bahkan, standar-standar ini membuktikan bahwa kita memiliki ambisi yang besar. Namun, jika terlalu berpacu dengan waktu untuk memenuhi semua target dengan sempurna, maka risikonya adalah menghambat diri sendiri dari pertumbuhan sebagai pribadi.

 

Langkah pertama untuk mencegah agar tidak menjadi seorang perfeksionis adalah dengan mengubah pola pikir; ketahuilah bahwa kegagalan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna pada percobaan pertama adalah hal yang sangat wajar dan bahwa kemajuan kecil tetaplah sebuah kemajuan.

 

Memperluas wawasan juga merupakan alternatif yang bagus untuk mengalihkan fokus dari target-target berat. Dunia kita penuh dengan berbagai macam informasi dan ada banyak hal yang dapat dicari tahu, seperti bagaimana mengembangkan diri atau bagaimana menyusun target finansial. Informasi-informasi ini juga dapat digunakan nantinya untuk menyusun rencana masa depan.

Takut Akan Perubahan

Pindah ke daerah baru, memulai pekerjaan baru, memulai sebuah keluarga—semua ini merupakan contoh pengalaman yang mengharuskan seseorang untuk memilih. Tentunya, kewajiban untuk membuat sebuah pilihan itu menakutkan. Tapi, jika tidak memberanikan diri untuk melakukannya, kita akan stuck terus pada satu titik dan tidak dapat bergerak maupun berkembang.

 

Contoh lain dari perubahan adalah saat kita sadar akan memasuki masa pensiun. Rasa takut dan khawatir yang timbul karena menyadari betapa dekatnya masa pensiun adalah hal yang sangat biasa. Mungkin ketakutan itu timbul dari perasaan kurang siap untuk menghadapinya. Jika iya, jangan biarkan ketakutan itu menjadi kenyataan dan jangan khawatir, karena rasa takut itu mudah untuk diatasi.

 

Salah satu cara ampuh untuk melawan ketakutan akan perubahan adalah dengan mencari informasi. Manusia takut pada hal-hal yang tidak diketahui atau hal-hal yang tidak pasti. Dengan mencari informasi, akan lebih mudah bagi kita untuk menghadapi rasa takut tersebut.

Membandingkan diri dengan orang lain

Banyak orang yang berpikir mereka tidak cukup kuat, cukup cerdas, cukup berpengalaman atau cukup terampil untuk akhirnya berani mengambil sebuah kesempatan atau mewujudkan cita-cita.

 

Mengejar tujuan besar bagaikan pendakian, semua pasti bermula dari pijakan pertama di titik terendah sebuah gunung, yang bisa kita lakukan hanya terus berjalan naik dan mendaki, satu langkah diikuti langkah lainnya.

 

Masalah yang dimiliki sebagian besar orang adalah mereka cenderung melihat terlalu jauh untuk sebuah hasil akhir atau target pencapaian. Dalam psikologi klinis, ini dikenal sebagai imposter syndrome, yaitu, sebuah kondisi perasaan cemas, secara internal menganggap diri tidak sukses, meskipun kinerjanya tinggi secara eksternal dan objektif. Kondisi ini seringkali membuat orang merasa seperti “penipu” atau “palsu” dan meragukan kemampuannya.

 

Berhentilah membandingkan diri yang sedang berjuang menuju tujuan dengan seseorang yang sudah mencapai titik pendakian tertingginya. Untuk melawan dorongan tersebut hanya perlu fokus memulai dan belajar sebanyak mungkin sepanjang perjalanan hidup.

 

MAMI akan membagikan rahasia kecil yang kami dapatkan sepanjang karier MAMI di industri manajemen investasi.

 

MAMI berhasil menjadi yang terbesar di industri manajemen investasi Indonesia bukan merupakan hasil kerja semalam. MAMI baru berhasil mengeluarkan produk investasi pertamanya Phinisi Dana Saham yang memiliki filosofi kapal yang tahan terhadap terjangan ombak di tengah badai krisis moneter, pada 11 Agustus 1998, dua tahun setelah hadir di Indonesia pada 1996. Per Juni 2023, MAMI memiliki 35 produk reksa dana, 58 kontrak pengelolaan dana, dan 2 perjanjian penasihat investasi. Hadir lebih dari 27 tahun di Indonesia, MAMI memiliki Rp101 triliun dana kelolaan. Untuk informasi selengkapnya silakan klik di sini.

 

Yang kembali MAMI ingin sampaikan adalah selama kita tidak berhenti berusaha dan terus mengerjakan seluruh kebutuhan untuk mencapai goals kita, bahkan perbaikan atau pencapaian sedikit saja akan mendorong kita ke depan para pesaing kita.

Mengkritik diri secara berlebihan

Kritik diri dipelajari dan dibahas dalam psikologi sebagai ciri kepribadian negatif di mana identitas diri seseorang terganggu. Kritik diri melibatkan bagaimana seseorang mengevaluasi diri sendiri. Berbeda dengan refleksi diri yang merupakan keterampilan penting untuk pemulihan dan pertumbuhan emosi—tetapi hanya jika dilakukan dengan benar.

 

Di luar pentingnya menganalisis diri atau refleksi diri akan apa saja yang sudah dilakukan dan berlalu, mengkritik diri di setiap kesempatan dengan cara yang sangat berlebihan akan berkontribusi terhadap pelemahan mental dan harga diri.

 

Bagaimana kita bisa berharap akan mencapai goals kita jika kita sendiri tidak percaya atas kemampuan kita sedari awal?

 

Percaya diri adalah resep utama dari memastikan kita untuk mampu mengatasi berbagai rintangan. Rasa percaya ini mematri diri kita untuk terus terdorong dan melakukan berbagai hal melebihi batas kemampuan kita saat ini, melewati zona nyaman kita dan melawan rasa ragu kita.

Overthinking

Banyak di antara kita yang akrab dengan pengalaman overthinking, atau berpikir berlebihan, dan banyak juga yang menganggap ini hal yang wajar. Perlu disadari bahwa, secara umum, berpikir berlebihan mengacu pada proses pemikiran yang berulang dan tidak produktif. Bayangkan jika ini terjadi dengan sering di mana pemikiran biasanya terfokus pada banyak hal yang berbeda.

 

Penelitian secara umum membedakan antara merenung tentang masa lalu dan masa kini dan khawatir tentang masa depan. Terlepas dari kata apa yang digunakan, overthinking-lah yang dibicarakan, yaitu pemikiran terus-menerus dan berputar-putar yang tampaknya tidak memiliki penyelesaian.

 

Kebiasaan overthinking yang dilakukan terus-menerus dari waktu ke waktu akan berakibat pada cara seseorang memandang dunia sekitarnya, menjadikannya sebagai orang yang hidup pesimis memandang jauh ke depan. Dan yang paling merugikan adalah overthinking mencegah kita dari menetapkan atau mengambil keputusan-keputusan terbaik yang penting dalam hidup. Hal ini berpotensi mengakibatkan depresi dan kecemasan yang sangat dekat dengan masalah kesehatan mental kronis.

 

Lalu bagaimana cara menghindarinya? Topik ini akan menarik untuk dibahas secara khusus lain kali, tapi setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti mencoba untuk lebih santai, memperdalam kecerdasan spiritual, membiasakan diri melihat sesuatu dalam sudut pandang berbeda-beda, mencoba berpikir fokus kepada penyelesaian masalah, mencari teman bicara, hingga mencari bantuan profesional.

 

Secara umum setidaknya kita bisa berhenti untuk menekan diri atas hal-hal kecil dan relakan banyak hal yang di luar kontrol dan kecil kemungkinan untuk kita ubah. Sebaliknya fokuslah pada hal-hal yang penting dan berhubungan dengan hajat hidup keluarga. 
 

 


 

Referensi

Blatt, S. J. (2008). Polarities of experience: Relatedness and Self-definition in Personality Development, Psychopathology, and the Therapeutic Process. American Psychological Association (APA).

Harriott, J., & Ferrari, J. R. (1996). Prevalence of Procrastination among Samples of Adults. Psychological Reports, 78(2), 611–616. https://doi.org/10.2466/pr0.1996.78.2.611

Imposter Syndrome: Definition, symptoms & Tips to Overcome it. (n.d.). https://www.betterup.com/blog/what-is-imposter-syndrome-and-how-to-avoid-it

Overthinking: Definition, causes, & How to Stop. (n.d.). The Berkeley Well-Being Institute. https://www.berkeleywellbeing.com/overthinking.html

Confirm