Skip to main content
Back

Tekanan nilai tukar Asia di tengah tingginya harga minyak dunia

4 Mei 2026


Pasar saham Amerika Serikat mencatat kinerja positif pekan lalu dengan indeks S&P 500 +0.91% didukung oleh laporan earnings emiten yang positif. 63% emiten dalam S&P 500 telah melaporkan earnings, dengan 84% mencatat laba lebih tinggi dari ekspektasi. Emiten teknologi besar seperti Alphabet, Amazon, Microsoft, dan Meta melaporkan kinerja yang positif dan kembali merevisi naik proyeksi belanja modal. Pertumbuhan ekonomi AS menguat di 1Q-2026 ke 2.0% dari kuartal sebelumnya di 0.5%, didukung oleh komponen investasi, terutama terkait AI. Sementara itu The Fed mempertahankan suku bunga sesuai dengan ekspektasi, namun terdapat meningkatnya perbedaan pendapat antar pejabat The Fed yang berargumen untuk arah kebijakan The Fed lebih netral di tengah ancaman inflasi. Pandangan pejabat The Fed yang lebih hawkish mendorong imbal hasil UST 10Y naik dari 4.30% ke 4.37%. Harga minyak dunia tetap tinggi pekan lalu di kisaran USD108 per barel, di tengah kabar Presiden Trump menolak proposal perdamaian Iran dan mempertimbangkan opsi militer lebih lanjut.

Pasar saham kawasan Asia bergerak fluktuatif pekan lalu dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia dan kekhawatiran eskalasi tensi AS - Iran. Harga minyak dunia yang persisten tinggi meningkatkan kekhawatiran risiko inflasi bagi kawasan Asia dan tekanan terhadap nilai tukar, di mana Peso FIlipina melemah -1.22% pekan lalu, Indonesia Rupiah -0.86%, India Rupee -0.70%, Taiwan Dollar -0.54%, dan Thailand Baht -0.51%. Bank sentral Jepang mempertahankan suku bunga di 0.75% sesuai ekspektasi, namun mengindikasikan outlook suku bunga yang sulit diproyeksi karena ketidakpastian dari dampak konflik Iran. Indeks MSCI Asia Pacific menguat +0.43% pekan lalu, ditopang oleh sektor teknologi. Rencana belanja modal besar dari emiten teknologi global menjadi faktor positif bagi emiten teknologi Asia. Samsung Electornics melaporkan laba operasi yang mencapai rekor tertinggi, mengungguli ekspektasi konsensus.

Pasar saham dan obligasi domestik melemah pekan lalu di tengah pelemahan Rupiah. Indeks saham IDX80 turun -3.17% dan IHSG -2.42%. Investor asing mencatat penjualan bersih IDR7.1 triliun di pasar saham pekan lalu. Indeks obligasi BINDO melemah -0.47% dengan imbal hasil SBN 10Y naik dari 6.78% ke 6.85%.  Bank Indonesia kembali menaikkan imbal hasil SRBI untuk menarik dana asing dan membantu menjaga stabilitas Rupiah. Imbal hasil SRBI 12-bulan meningkat dalam lelang pekan lalu, dengan rata-rata yield di 6.21% dari sebelumnya 5.91%.


 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • IWH: Tensi di Selat Hormuz kembali memanas

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • IWH: De-eskalasi konflik Timur Tengah mengangkat sentimen pasar global

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha April 2026: Mengkaji peluang dan risiko pasar saham terkini

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
Lihat semua

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Siaran Pers

Manulife Wealth & Asset Management Akuisisi Schroders Indonesia. Selengkapnya.

View more