Skip to main content
Back

Seeking Alpha: Prospek Pasar Saham di Paruh Kedua 2021

1 Agustus, 2021

Memasuki paruh kedua di tahun 2021, apakah arah perekonomian global yang diekspektasikan sejak paruh pertama lalu masih valid? 

Sebelumnya saya akan menjelaskan bahwa ada beberapa tema global yang telah kami utarakan di awal tahun yang diperkirakan masih akan berlanjut di paruh kedua ini, seperti efek lonjakan inflasi Amerika Serikat yang bersifat transitory, dan berlanjutnya siklus pemulihan ekonomi global menuju level pra-pandemi.   Namun memasuki paruh kedua tahun ini ada dua tema global yang agak berubah, yaitu rencana normalisasi kebijakan Fed – ekspektasi kenaikan Fed rate yang lebih cepat, beserta wacana tapering yang semakin mengemuka – dan kekhawatiran baru terkait penyebaran COVID-19 varian Delta di berbagai belahan dunia.  

Yang menarik, reaksi pasar terlihat cenderung netral dan stabil menghadapi sikap Fed yang lebih ‘ketat’, dimana kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sudah mengantisipasi kebijakan pengetatan bank sentral yang lebih cepat dibandingkan perkiraan. Langkah pengetatan yang sudah diantispasi ini juga turut menurunkan ekspekasi inflasi Amerika Serikat seperti yang ditunjukkan oleh turunnya US Breakeven Rate yang dapat berkontribusi pada membaiknya sentimen di pasar keuangan.  Sementara itu langkah vaksinasi yang digenjot di berbagai negara diharapkan dapat memutus rantai penyebaran dan mutasi virus.

 

Tadi sempat disinggung soal lonjakan inflasi lebih bersifat transitory, apakah bisa dijelaskan lebih lanjut?

Pertumbuhan inflasi Amerika Serikat di bulan Mei mencapai level tertinggi sejak tahun 2008 sebesar 5.0% YoY. Meskipun secara angka terlihat fantastis, namun jika ditelaah lebih lanjut lonjakan tersebut lebih disebabkan oleh kenaikan harga komponen inflasi yang bersifat sementara – didorong faktor pembukaan kembali ekonomi – seperti rental mobil, harga mobil bekas dan tiket pesawat.  Sementara komponen inflasi yang kenaikan harganya lebih sticky seperti perumahan malah relatif terjaga. Ke depannya setelah low base effect dari kenaikan harga komponen yang bersifat sementara tadi terlewati, lonjakan inflasi diperkirakan dapat turun.   

 

Di tengah berbagai sentimen yang tadi sempat disebutkan – seperti rencana normalisasi kebijakan Fed dan penyebaran varian delta – bagaimana kondisi dan ekspektasi terhadap Asia sekarang?

Sama halnya dengan negara maju, prospek ekonomi Asia juga turut bergantung pada perkembangan penanganan pademi, dimana setiap negara menghadapi tantangan yang berbeda.  Namun berita baiknya adalah sektor manufaktur di kawasan Asia masih bertumbuh dengan baik didukung oleh kuatnya permintaan ekspor.  Sebagai bagian dari rantai pasokan dunia, pemulihan global menguntungkan kawasan Asia.  Harga komoditas yang kuat juga turut mengangkat sentimen. Kami menilai bahwa aset finansial di Asia masih menarik didukung oleh kebijakan moneter yang akomodatif dan Asia berada pada posisi yang lebih baik dibandingkan dengan periode Fed Taper di 2013. Ketergantungan yang lebih rendah pada pendanaan eksternal, ketahanan ekonomi yang lebih baik dan tren global yang suportif dapat meminimalisir volatilitas pasar. Ke depannya, kecepatan peluncuran vaksinasi menjadi faktor penting yang menentukan seberapa cepat permintaan domestik dapat pulih. 

 

Tadi sudah dibahas mengenai kondisi terkini di pasar global, bagaimana kondisi kesehatan ekonomi domestik memasuki paruh kedua di tahun ini? 

Khususnya di kuartal kedua lalu, sebetulnya arah perekonomian domestik semakin membaik.  Hal ini  tercermin dari  beberapa indikator seperti manufaktur, ekspor, mobilitas, yang  bahkan sudah melampaui level sebelum terjadinya pandemi di tahun lalu. Namun sayangnya memasuki kuartal ketiga ini momentum pemulihannya terhambat oleh peningkatan tajam kasus COVID-19 yang membuat diberlakukannya PPKM Darurat. Seberapa besar dampaknya terhadap perekonomian akan bergantung pada periode berlangsungnya PPKM Darurat, karena pulau Jawa dan Bali berkontribusi sebesar 60% dari total perekonomian Indonesia.  Kementerian Keuangan sempat berkomentar bahwa jika penyebaran virus dapat terkendali di bulan Juli dan aktivitas ekonomi dapat kembali normal di bulan Agustus maka pertumbuhan PDB di kuartal ketiga berpotensi mencapai 5% vs proyeksi sebelumnya 6.5%. 

Ke depannya pemerintah akan mengerahkan berbagai upaya untuk menggenjot vaksinasi guna memutus rantai penyebaran dan mutasi virus. Pemerintah menargetkan 100% vaksinasi pada populasi sasaran vaksin pada Maret 2022. Banyaknya populasi masyarakat negara maju yang telah mendapatkan satu dosis vaksin – misalnya 65% dari total populasi di Inggris dan 53% dari total populasi di Amerika Serikat – diharapkan dapat meredakan kekhawatiran kekurangan pasokan vaksin global. Apabila semua yang direncanakan pemerintah dapat berjalan dengan baik maka pemulihan ekonomi Indonesia diharapkan dapat terus berlanjut ke depannya.  

 

Sekarang ini perhatian pasar tertuju kepada kenaikan angka kasus COVID-19 yang naik signifikan, bagaimana pandangan Anda terhadap outlook pasar saham Indonesia? 

Sejauh ini pasar finansial Indonesia menunjukkan kinerja yang cukup terjaga, tercermin dari pergerakan IHSG yang cukup stabil. Koreksi yang terjadi pada saham big caps – seperti ditunjukkan pada kinerja LQ45 – diimbangi oleh kenaikan beberapa saham mid small cap yang didorong oleh tema spesifik. Pada level saat ini, ekspektasi negatif di beberapa saham sepertinya mulai priced-in, sehingga kami melihat koreksi ini tampaknya tidak akan berlanjut terlalu panjang.  

Berkaca pada pengalaman negara yang mengalami gelombang kenaikan kasus harian, disrupsi terhadap ekonomi dan pasar finansial cenderung lebih terbatas dikarenakan penyesuaian aktivitas masyarakat selama pandemi dan kecenderungan pelaku pasar yang ‘forward looking’ terhadap pemulihan ekonomi, didorong optimisme laju vaksinasi yang semakin cepat. Kondisi makro ekonomi yang lebih suportif seperti masuknya investasi portofolio asing, kinerja ekspor yang tinggi, CAD yang rendah dan cadangan devisa yang tinggi juga membantu menjaga stabilitas pada nilai tukar rupiah. 

 

Apa risiko yang Anda cermati saat ini? 

Defisit anggaran pemerintah menjadi salah satu risiko yang kami cermati, sebagai akibat dari penerapan PPKM Darurat akan mengharuskan pengucuran stimulus kembali untuk mendorong perekonomian untuk masyarakat kalangan bawah sehingga ada risiko realokasi anggaran belanja pemerintah dari sektor yang dianggap lebih rendah prioritasnya. 

 

Apa strategi investasi yang diterapkan guna menghasilkan kinerja yang baik pada portfolio dan apa sektor andalan Anda saat ini? 

Kami menilai ke depannya sector new economy atau perusahaan yang bisa berkolaborasi dengan new economy akan lebih unggul karena dapat beradaptasi dengan ‘cara baru’ melakukan usaha yang akan semakin dominan kedepannya. Beberapa bank besar pun turut beradaptasi dengan trend saat ini; dengan meluncurkan aplikasi digital dan memanfaatkan ekosistem yang telah mereka miliki saat ini yang skalanya juga sudah jauh lebih besar dibandingkan dengan beberapa bank digital baru yang baru mucul belakangan. Di samping itu kami juga melihat ada opportunity pada beberapa saham big caps yang telah terkoreksi cukup dalam untuk dapat kembali unggul begitu situasi pandemi membaik dalam beberapa bulan mendatang. 

 

Unduh Dokumen

  • IDB: Sentimen global dibayangi pergeseran ekspektasi pemangkasan suku bunga

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha April 2024: Memahami dinamika & volatilitas pasar terkini

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
  • IDB: Sentimen global masih mendominasi pasar finansial domestik

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Confirm