23 Februari 2026
Pasar saham Amerika Serikat mencatat kinerja positif pekan lalu, terutama didukung perdagangan Jumat merespons keputusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan sebagian kebijakan tarif Trump tidak sesuai dengan kewenangan Presiden dalam Undang-Undang IEEPA 1977. Walau demikian, Presiden Trump menerapkan tarif sementara 15% merata secara global berdasarkan UU Perdagangan 1974 selama 150 hari, kecuali Presiden mendapat persetujuan Kongres untuk memperpanjang durasi. Terlepas dari kabar tersebut, data ekonomi AS cenderung variatif. Pertumbuhan PDB AS 4Q-2025 di +1.4%, lebih lemah dari ekspektasi 2.8% dan juga dari kuartal sebelumnya di 4.4% imbas dari government shutdown. Selain itu inflasi PCE naik ke 2.9% YoY di Desember dari sebelumnya 2.8%. Risalah rapat FOMC The Fed Januari mengindikasikan pandangan yang terpecah antara fokus menjaga sektor tenaga kerja atau inflasi yang masih tinggi, mendukung pandangan suku bunga akan tetap bertahan untuk saat ini. Selain itu pasar juga menantikan perkembangan negosiasi AS - Iran, di mana Presiden Trump tetap membuka opsi serangan militer. Indeks S&P 500 ditutup +1.07% pekan lalu sementara imbal hasil UST 10Y naik dari 4.05% ke 4.09%.
Di Asia, aktivitas perdagangan relatif sepi karena beberapa pasar masih libur Imlek. Indeks MSCI Asia Pacific ditutup +0.15% didukung penguatan sektor energi dan IT. Kinerja sektor energi ditopang oleh kenaikan harga minyak (Brent +5.9%) di tengah ketidakpastian negosiasi AS - Iran. Sementara itu sektor teknologi menguat didukung oleh komitmen dari Meta dan OpenAI yang akan meningkatkan kerja sama dengan Nvidia dan menggunakan chip nya dalam pengembangan infrastruktur AI. Pasar Korea Selatan yang didominasi oleh sektor teknologi mencatat kinerja unggul pekan lalu (Kospi +5.48%).
Di domestik, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 4.75% sesuai ekspektasi. BI mengindikasikan fokus saat ini pada stabilitas Rupiah di tengah volatilitas pasar finansial yang tinggi. Pemerintah menandatangani kesepakatan dagang dengan AS yang akan menurunkan tarif AS terhadap Indonesia menjadi 19%, dengan beberapa komoditas tertentu mendapat pengecualian seperti sawit, kopi, dan kakao. Sementara itu neraca transaksi berjalan mencatat defisit -USD2.5 miliar (0.7% dari PDB) di 4Q-2025, dari kuartal sebelumnya surplus USD4.0 miliar (1.1% dari PDB). Pasar saham mencatat kinerja positif dengan IDX80 +0.41% dan IHSG +0.72%. Investor asing mencatat pembelian bersih IDR2.06 triliun di pasar saham, berlawanan dari outflow -IDR5.4 triliun pekan sebelumnya. Indeks obligasi BINDO juga ditutup +0.04% pekan lalu dengan imbal hasil SBN 10Y naik dari 6.40% ke 6.46%.
Monthly Market Review Januari 2026
Monthly Market Review
Seeking Alpha Februari 2026: Wake up call untuk pasar saham Indonesia
Seeking Alpha
IWH: Revisi outlook Moody's menambah tekanan pasca teguran MSCI
Investment Weekly Highlights