Skip to main content
Back

Peluang pasar saham di tengah ancaman resesi AS

12 Mei 2023

 

 

 

 

 

 

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Senior Portfolio Manager - Equity, Samuel Kesuma, CFA



 

Sepanjang tahun 2023 volatilitas pasar masih membayangi pasar finansial dunia. Bagaimana Anda melihat kondisi pasar memasuki kuartal kedua?

Sepanjang tahun ini pasar dibayangi oleh beberapa faktor seperti ketidakpastian arah suku bunga The Fed, kejutan dari jatuhnya beberapa perbankan di AS, dan kekhawatiran resesi ekonomi. Positifnya, The Fed diperkirakan sudah mencapai puncak suku bunganya di rapat Mei lalu sehingga mengurangi faktor ketidakpastian bagi pasar. Namun dalam jangka pendek masih terdapat ketidakpastian terkait kondisi perbankan regional AS dan pelemahan ekonomi lebih lanjut yang dapat menyebabkan volatilitas di pasar.  

 

Kekhawatiran resesi di AS semakin mengemuka. Bagaimana dampak resesi ekonomi terhadap pasar saham?

 

Resesi ekonomi biasanya disebabkan oleh kejadian tidak terduga seperti perang, lonjakan harga komoditas, gagalnya sistem finansial, atau pandemi yang menyebabkan tekanan negatif bagi ekonomi dan pasar finansial. Namun berbeda dengan episode resesi sebelumnya yang cenderung mengejutkan, kali ini pasar secara bertahap sudah memperhitungkan terjadinya resesi terlihat dari pelemahan indeks S&P 500 yang sudah turun -19% di 2022. Harapannya adalah dengan pasar yang sudah memperkirakan kondisi resesi dari tahun lalu, maka risiko pelemahan pasar lebih lanjut di tahun ini dapat lebih terbatas.

 

Faktor lain yang menjadi dukungan bagi pasar adalah harapan bahwa resesi yang terjadi adalah resesi ringan. Sektor tenaga kerja AS yang resilien dan excess saving masyarakat AS dari periode pandemi lalu dapat menjadi bantalan yang menopang tingkat konsumsi. Riset JPMorgan mengindikasikan masih terdapat excess saving USD900 miliar di masyarakat AS, dari stimulus dan tabungan yang meningkat ketika pandemi.

 

Kawasan Asia umumnya dipandang rentan terhadap kondisi pelemahan ekonomi AS. Bagaimana Anda memandang risiko ini?


Secara historis Asia memang dapat terdampak pelemahan ekonomi di Amerika, baik dari sisi perdagangan yang melemah maupun dari sisi arus dana di pasar finansial. Namun kali ini kami melihat kondisi yang berbeda di Asia, di mana ekspektasi pertumbuhan ekonomi Asia diperkirakan tetap resilien. Pembukaan ekonomi pasca lockdown Covid menjadi faktor yang mendukung ekonomi domestik di kawasan Asia. Baru-baru ini IMF merevisi naik proyeksi ekonomi Asia menjadi 4.6% di 2023 (sebelumnya 4.3%) didorong pemulihan ekonomi China yang lebih baik dari ekspektasi dan ekonomi India yang resilien. 

 

Daya tarik Asia juga didukung oleh tren pelemahan USD seiring dengan ekspektasi The Fed sudah mendekati siklus puncak suku bunga dan ekspektasi pelemahan ekonomi di kawasan negara maju, yang menjadikan kawasan Asia relatif lebih menarik. Sepanjang tahun ini arus dana asing ke pasar saham Asia tetap positif, mengindikasikan pandangan investor yang konstruktif terhadap Asia.

 

Spesifik pada Indonesia, apakah ancaman resesi AS berisiko terhadap Indonesia?

 

Kami melihat kondisi makroekonomi Indonesia pada posisi yang kuat menghadapi risiko resesi ekonomi AS. Berlawanan dengan kondisi AS yang melemah, Indonesia sedang dalam kondisi pemulihan ekonomi seiring pembukaan kembali ekonomi pasca pandemi Covid. Beberapa indikator ekonomi menunjukkan momentum pemulihan seperti penjualan ritel, penjualan otomotif, dan aktivitas manufaktur. Selain itu ekonomi Indonesia juga ditopang oleh pemulihan ekonomi China yang merupakan negara mitra dagang terbesar kita. Potensi meningkatnya permintaan dari China diharapkan dapat memitigasi risiko melambatnya permintaan dari kawasan negara maju. Ekspor kita ke China mencapai 25% dari total ekspor, lebih besar dari ekspor ke Amerika di kisaran 9%. Kondisi ekonomi Indonesia yang stabil juga menjadi faktor positif bagi arus dana asing yang sepanjang tahun ini mencatat pembelian bersih di pasar saham dan obligasi Indonesia sehingga mengurangi risiko defisit bagi neraca pembayaran Indonesia.

 

Bagaimana potensi pertumbuhan laba emiten Indonesia di tengah risiko resesi AS?


Kami melihat momentum earnings emiten tetap positif di 1Q23 didukung oleh perbaikan aktivitas ekonomi. Indikasi awal mengindikasikan konsumsi di periode Lebaran tahun ini cukup positif, di mana survei penjualan eceran diperkirakan tumbuh 7%MoM, 1% YoY di April. Pertumbuhan ekonomi yang resilien akan menjadi katalis bagi pertumbuhan earnings emiten tahun ini. Kami memperkirakan pertumbuhan earnings 6% untuk tahun ini, angka yang tidak terlihat fantastis, namun apabila sektor komoditas dikesampingkan dalam perhitungan, masih banyak sektor lain yang dapat mencatat pertumbuhan earnings >10% tahun ini.

 

Apa katalis yang dapat mengangkat kinerja pasar saham Indonesia?

 

Stabilitas kondisi domestik merupakan fondasi untuk mendukung kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia. Dari sisi ini kami melihat pasar Indonesia sangat potensial didukung faktor seperti pertumbuhan ekonomi stabil, inflasi yang menurun dan nilai tukar Rupiah yang stabil. Dari sisi global, salah satu faktor ketidakpastian telah berkurang, di mana The Fed diperkirakan sudah mencapai puncak suku bunganya sehingga dapat mendukung sentimen investor. Potensi katalis bagi pasar adalah apabila terdapat indikasi bahwa The Fed mulai mempertimbangkan untuk melakukan pemangkasan suku bunga, atau apabila terdapat indikasi bahwa pelemahan ekonomi di AS lebih terbatas dari ekspektasi pasar. Faktor lain yang dapat dipertimbangkan investor adalah tingkat valuasi pasar saham Indonesia saat ini yang atraktif. PE ratio IHSG saat ini di kisaran 13x yang masih di bawah rata-rata 15x sehingga menawarkan titik masuk menarik bagi investor.

 

Apa sektor unggulan Anda untuk menghasilkan alpha bagi portofolio?


Di tengah volatilitas global, strategi portofolio diarahkan pada sektor yang diuntungkan dari pemulihan ekonomi domestik, potensi pertumbuhan struktural jangka panjang Indonesia, dan periode puncak suku bunga. Beberapa sektor yang menangkap tema investasi ini contohnya adalah sektor finansial yang merupakan proksi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan neraca yang konservatif dibanding emiten perbankan di negara maju. Untuk tema pertumbuhan struktural, sektor yang berhubungan dengan green economy merupakan unggulan kami karena diuntungkan dari tren jangka panjang dekarbonisasi dan meningkatnya adopsi teknologi energi terbarukan. Sementara itu sektor teknologi berpotensi diuntungkan dari strategi sebagian besar perusahaan yang saat ini lebih berfokus pada profitabilitas dan semakin jelasnya kebijakan The Fed sudah mencapai puncak suku bunga.

 

 

 

Unduh Dokumen

  • IDB: BI mempertahankan suku bunga di 6%

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Februari 2024: Dampak penurunan Fed Funds Rate terhadap pasar saham Indonesia

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm