Skip to main content
Back

Konflik Selat Hormuz dan harga energi kembali menjadi perhatian

13 Juli 2026


Pasar saham Amerika Serikat bergerak fluktuatif pekan lalu dibayangi oleh memanasnya tensi geopolitik AS - Iran. Presiden Trump menyatakan gencatan senjata berakhir yang mendorong kenaikan harga minyak Brent naik +5.4% pekan lalu ke kisaran USD76 per barel. Di sisi lain, kinerja indeks tertopang oleh rebound di sektor teknologi, terutama pada saham semikonduktor dan AI. Pencatatan perdana SK Hynix di bursa AS disambut dengan 7 kali kelebihan pesanan (oversubscribed), mengindikasikan minat yang tetap kuat di emiten teknologi. Indeks S&P 500 menguat +1.23% pekan lalu dan indeks Nasdaq 100 +1.69%. Sementara itu imbal hasil UST 10Y naik dari 4.48% ke 4.56% seiring dengan eskalasi tensi geopolitik. Risalah rapat FOMC bulan Juni menunjukkan perbedaan pendapat pejabat The Fed tentang arah suku bunga ke depannya, mengindikasikan belum ada konsensus jelas terkait arah suku bunga.

Pasar saham kawasan Asia mencatat kinerja negatif pekan lalu, dengan indeks MSCI Asia Pacific turun -1.45%. Sektor teknologi melemah terdalam imbas dari rotasi sektor dari sektor yang telah mencatat kinerja unggul sepanjang tahun. Samsung Electronics melaporkan laba yang kuat, tumbuh 1800% YoY, namun dilanda aksi ambil untung di pasar dan rotasi ke sektor yang underperform seperti finansial dan komunikasi. Data inflasi konsumen China turun ke +1.0% YoY di Juni dari sebelumnya 1.2%. Di sisi lain inflasi harga produsen (PPI) naik dari 3.9% YoY ke 4.1% YoY didorong sektor petroleum, batu bara, dan sektor hulu lain.

Di domestik, data konsumsi domestik relatif lemah, di mana penjualan ritel turun -4.4% YoY di Juni, lebih dalam dari -3.9% YoY di Mei. Indeks keyakinan konsumen turun ke 117.8 di Juni, level terendah sejak September 2025. Lembaga pembuat indeks S&P Dow Jones Indeces mengindikasikan dapat menurunkan klasifikasi pasar Indonesia menjadi Frontier Market apabila isu transparansi kepemilikan saham masih membayangi. Pemerintah melaporkan defisit APBN per akhir Juni di IDR196.5 triliun (0.76% dari PDB), selaras dengan level Juni 2025 di defisit IDR197 triliun (0.81 dari PDB). Pemerintah memproyeksikan defisit APBN 2026 di IDR734.3 triliun (2.85% dari PDB), melebar dari target defisit awal di 2.68%. IHSG ditutup +0.83% pekan lalu dengan investor asing mencatat penjualan bersih IDR1.7 triliun. Indeks obligasi BINDO turun -0.13% dengan imbal hasil SBN 10Y naik dari 7.13% ke 7.23%. Nilai tukar Rupiah kembali melemah melewati level 18000, ditutup di 18055 per USD di tengah eskalasi geopolitik. Cadangan devisa naik ke USD145.6 miliar di Juni dari sebelumnya USD144.9 miliar, mengakhiri penurunan lima bulan beruntun.


 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • Monthly Market Review Juni 2026

    Monthly Market Review

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Juli 2026: Stabilitas dan konsistensi kebijakan jadi harapan penopang kinerja pasar

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
  • IWH: Data ekonomi domestik mengecewakan

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
Lihat semua

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Siaran Pers

Manulife Wealth & Asset Management Akuisisi Schroders Indonesia. Selengkapnya.

View more