Skip to main content
Back

Seeking Alpha Mei 2024: Pasar obligasi setelah kenaikan BI Rate dan ‘Higher for longer’ The Fed

21 Mei, 2024

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Portfolio Manager - Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Laras Febriany.


Pasar obligasi mencatat pelemahan di bulan April. Bisa Anda jelaskan apa yang mempengaruhi kinerja pasar?

 

Pemicu utama adalah data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi di mana inflasi umum AS cenderung meningkat di periode Januari hingga Maret 2024. Imbasnya, The Fed mengindikasikan masih butuh waktu lebih lama untuk lebih yakin lagi bahwa inflasi domestiknya sudah benar-benar dalam tren penurunan, sebelum melakukan pemangkasan. Kondisi ini sempat meningkatkan volatilitas di pasar saham, obligasi, dan mata uang secara global, Asia, hingga Indonesia, yang kemudian mendorong pasar untuk menyesuaikan kembali ekspektasinya terkait suku bunga.

 

Namun kabar baik terakhir, Ketua The Fed mengemukakan bahwa walaupun suku bunga belum akan turun secepat ekspektasi pasar sebelumnya, potensi kenaikan lebih lanjut pun sangat kecil, sehingga langkah berikutnya ke depan adalah pemotongan suku bunga. Hal ini dapat dipahami karena sebenarnya mayoritas komponen inflasi AS telah mereda, kecuali komponen shelter dan transportasi yang memang masih cukup tinggi.

 

Di tengah ekspektasi suku bunga yang dinamis, bagaimana sebetulnya kondisi ekonomi global? Apakah resesi masih menjadi ancaman di era suku bunga tinggi saat ini?

 

IMF memproyeksikan ekonomi global tahun ini tumbuh 3.2%. Penopang utamanya adalah kawasan negara berkembang yang diproyeksikan tumbuh 4.2%, disusul oleh kawasan negara maju yang tumbuh 1.7%. Yang menarik, semua angka-angka ini lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya yang dirilis bulan Januari lalu, sehingga kekhawatiran resesi sepertinya sudah tidak menjadi skenario di pasar. Optimisme pertumbuhan ini didukung oleh tingkat permintaan yang kuat, tabungan era pandemi yang masih lebih dari cukup, dan juga dampak positif stimulus pemerintah. Ekonomi yang resilien juga terjadi bersamaan dengan tren disinflasi, didukung oleh pemulihan rantai pasok global, ketersediaan tenaga kerja, dan turunnya harga energi. Tapi memang benar, walaupun inflasi global sudah menjinak, bank sentral dunia belum dapat menurunkan suku bunga, karena cenderung menunggu langkah The Fed. Masalahnya, The Fed memberi sinyal masih butuh waktu untuk lebih yakin lagi bahwa inflasi domestiknya sudah benar-benar dalam tren penurunan, sebelum melakukan pemangkasan. 

 

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 6.25% di bulan April. Apakah ini langkah yang tepat, atau justru suku bunga tinggi dapat memukul ekonomi dan daya beli masyarakat?

 

Menurut kami BI mengambil langkah tepat dengan menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas Rupiah. Depresiasi Rupiah yang signifikan dapat menyebabkan risiko imported inflation (kenaikan harga barang dan bahan baku yang diimpor karena pelemahan Rupiah) yang membebani dunia usaha dan daya beli masyarakat dalam jangka pendek. Selain itu stabilitas Rupiah juga penting untuk menarik dana investor asing masuk ke pasar Indonesia. Kami melihat pasar juga mengapresiasi keputusan BI, terlihat dari nilai tukar Rupiah yang membaik dan stabil di kisaran 16000, imbal hasil SBN 10Y berhasil turun dari puncaknya di 7.25% ke level saat ini di bawah 7%, dan investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi di bulan Mei. 

 

Bagaimana outlook kebijakan BI? Apakah ada potensi BI kembali menaikkan suku bunga?

 

Outlook kebijakan BI akan bergantung pada kondisi pasar global yang dapat mempengaruhi stabilitas Rupiah. Apabila data ekonomi dan inflasi AS mereda, kondisi ini dapat mengurangi tekanan penguatan Dolar AS sehingga BI tidak perlu menaikkan suku bunga. Selain dari tekanan Rupiah kami melihat tidak ada faktor lain yang dapat memicu BI untuk menaikkan suku bunga, terutama karena inflasi domestik masih terjaga. Saat ini pasar masih memperkirakan ada potensi pemangkasan Fed Funds Rate satu hingga dua kali, sehingga kami memperkirakan BI Rate dapat berada di kisaran 5.75% - 6.25% di akhir tahun.

 

Bagaimana pandangan Anda terhadap pasar obligasi di tengah dinamika ketidakpastian kebijakan suku bunga saat ini?

 

Kuartal dua 2024 memang diawali perubahan-perubahan ekspektasi, yang kemudian diikuti dengan volatilitas tinggi dan sentimen pasar yang kurang kondusif. Namun dengan berjalannya waktu, pasar pun melakukan penyesuaian, volatilitas terlihat mereda, dan sentimen mulai pulih. Yang perlu kita ingat, secara keseluruhan perekonomian global tahun ini diperkirakan masih bertumbuh, dan inflasi global pun dalam tren menurun. 
 

Di Indonesia sendiri, fundamental ekonomi masih terjaga kuat, dan katalis-katalis penopang dan potensi pasar finansial pun masih sangat cukup. Mari kita fokus pada peluang jangka menengah panjang, dan jadikan volatilitas jangka pendek sebagai peluang yang belum tentu datang kembali, terutama dengan pandangan pemangkasan suku bunga yang masih dapat terjadi.

 

Bagaimana strategi pengelolaan portofolio reksa dana obligasi MAMI dalam kondisi ini?

 

Kami masih melihat potensi yang menarik di pasar obligasi didukung oleh adanya potensi pemangkasan suku bunga. Namun memang perlu dicermati dalam jangka pendek volatilitas masih dapat terjadi karena faktor ketidakpastian suku bunga The Fed. Oleh karena itu, kami selalu mengelola portofolio secara aktif, bergerak dinamis antara defensif dan agresif untuk membentuk portofolio yang optimal. Strategi portofolio akan disesuaikan berdasarkan tinjauan makroekonomi terkini serta fokus pada manajemen durasi, kas dan pemilihan efek untuk membentuk portofolio yang dapat bergerak dengan lincah.

 

Unduh Dokumen

 

 


 

 

Tentang PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) adalah manajer investasi dengan total dana kelolaan terbesar di Indonesia, yaitu Rp102 triliun (Maret 2024) dengan pangsa pasar 12,3% (Desember 2023) di antara >90 perusahaan manajer investasi. MAMI telah hadir dan mendampingi langkah dari lebih dari 2 juta investor individu dan institusi (per akhir Desember 2023) selama 27 tahun sejak 1996. MAMI adalah bagian dari Manulife Investment Management dan Manulife Financial Corporation yang berkantor pusat di Toronto, Kanada.

  • IDB: Pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IWH: Outlook defisit fiskal AS melebar

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • IDB: Pelemahan sektor teknologi menekan kinerja pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more