25 Mei 2026
Pasar saham Amerika Serikat bergerak fluktuatif di tengah kekhawatiran dampak kenaikan harga energi yang semakin terasa di ekonomi. Indeks keyakinan konsumen AS dan U. of Michigan turun ke 44.8 mencetak rekor terendah, dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi masyarakat yang meningkat. Risalah rapat FOMC The Fed bulan April mengindikasikan mayoritas pejabat The Fed memperhatikan risiko inflasi, dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi persisten di atas 2%. Di sisi lain, laporan earnings yang kuat dari Nvidia mendorong sentimen pasar di sektor teknologi, dan perkembangan perundingan AS - Iran juga mendukung sentimen di pasar. Nvidia melaporkan earnings yang mengungguli ekspektasi pasar didukung oleh divisi data center, dan memberikan proyeksi earnings 2Q yang juga mengungguli ekspektasi pasar. Sementara itu Presiden Trump menyatakan perundingan dengan Iran berjalan konstruktif, mendukung harapan pasar perjanjian damai dapat tercapai. Harga minyak Brent turun -5.2% pekan lalu ke USD103 per barel. Indeks S&P 500 ditutup +0.88% dan imbal hasil UST 10Y turun dari 4.59% ke 4.55%.
Pasar saham kawasan Asia juga bergerak fluktuatif, namun indeks MSCI Asia Pacific berhasil ditutup +0.99%. Sektor teknologi menjadi penopang kinerja indeks, merespons laporan earnings Nvidia yang kuat mengindikasikan permintaan chip AI tetap kuat. Pertumbuhan PDB Jepang menguat ke +2.1% di 1Q-2026, naik dari +0.8% di kuartal sebelumnya, didukung pertumbuhan konsumsi dan ekspor. Sementara itu data ekonomi China mengecewakan, di mana penjualan ritel tumbuh +0.2% YoY di April, turun dari sebelumnya +1.7%, dan juga lebih rendah dari ekspektasi. Industrial production juga tumbuh lebih rendah dari ekspektasi di +4.1% YoY. Data ini mendukung pandangan kebijakan pemerintah China dapat bergerak lebih suportif ke depannya.
Di domestik, Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50bps ke level 5.25%, mengejutkan pasar yang hanya memperkirakan kenaikan 25bps. BI memberi sinyal prioritas kebijakan saat ini adalah stabilitas di tengah kondisi eksternal yang dinamis. Sementara itu pemerintah mengumumkan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategi melalui BUMN Danantara Sumber daya Indonesia. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan praktik under invoicing dan under accounting yang merugikan negara. Di sisi lain detail dan implementasi kebijakan belum jelas yang menimbulkan ketidakpastian tinggi di industri dan pasar finansial. Lembaga pemeringkat Moody's dan S&P berkomentar kebijakan ini dapat mempengaruhi sentimen investor terhadap Indonesia. IHSG ditutup turun -8.35% pekan lalu dan investor asing mencatat penjualan bersih IDR809 miliar. Indeks obligasi BINDO juga melemah -0.41% dengan imbal hasil SBN 10Y naik dari 6.69% ke 6.73%. Rata-rata yield SRBI 12-bulan dalam lelang Jumat lalu naik ke 6.75% dari sebelumnya di 6.45%. Pemerintah melaporkan defisit APBN di level IDR164.4 triliun (0.64% dari PDB) per April 2026, membaik dari defisit IDR240.1 triliun di Maret. Sementara itu Defisit neraca transaksi berjalan (CAD) melebar ke USD4.0 miliar (1.1% PDB) di 1Q-2026, dari kuartal sebelumnya USD2.5 miliar (0.70% PDB).
Seeking Alpha Mei 2026: Mencari keseimbangan pertumbuhan & stabilitas
Seeking Alpha
IWH: Meningkatnya kekhawatiran inflasi global
Investment Weekly Highlights
Monthly Market Review April 2026
Monthly Market Review