13 Maret 2023
Penutupan tiga perusahaan pemberi pinjaman yang berfokus pada perusahaan teknologi di Amerika Serikat hanya dalam waktu empat hari telah menimbulkan gelombang kejut di seantero pasar finansial dalam bentuk guncangan ketidakpastian berskala besar. Sekalipun perkembangan masalah ini bisa dikatakan bersifat idiosinkratis, dampak dari apa yang telah terjadi – termasuk respons dari pembuat kebijakan – bisa menjadi sangat luas.

Jangan salah: Apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir – dan apa yang akan terjadi dalam minggu-minggu (atau bahkan bulan-bulan) mendatang – akan menjadi obyek pelajaran para sarjana, pembuat regulasi, maupun para sejarawan untuk bertahun-tahun ke depan.
Menurut pandangan kami, penutupan tiga entitas perbankan yang berpengaruh tersebut telah mendatangkan risiko-risiko kunci ke dalam latar belakang makroekonomi. Para investor bertanya-tanya apakah peristiwa ini akan berubah menjadi risiko sistemis yang berdampak luas dan menumbuhkan rasa tidak percaya yang tidak dapat diperbaiki lagi di kalangan investor terhadap sistem perbankan. Yang terpenting, apakah peristiwa yang terjadi dalam empat hari terakhir tersebut adalah pertanda awal akan adanya sebuah bahaya (“a canary in a coal mine”)? Apakah akan terjadi lagi peristiwa-peristiwa yang sama ke depannya?
Sumber: Manulife Investment Management, per 13 Maret 2023. The Fed mengacu pada U.S. Federal Reserve. FDIC singkatan dari Federal Deposit Insurance Corporation.
Berdasarkan informasi yang kami miliki sejauh ini, kemungkinan peristiwa ini akan berkembang menjadi risiko sistemis berdampak luas adalah kecil; meski begitu, risiko kecil bukan berarti tidak ada. Hingga tulisan ini dibuat, harga-harga saham sektor perbankan di AS pada hari Senin menunjukkan bahwa kepercayaan pada sektor perbankan AS mengalami pelemahan, meski perlu pula dicatat bahwa Departemen Keuangan AS, Federal Deposit Insurance Corporation, dan The Fed telah mengambil langkah-langkah terkoordinasi untuk memitigasi risiko nyata serta masalah-masalah sentimen menyangkut skenario terburuk yang telah terjadi sejak 10 Maret.
Dari sudut pandang ekonomi, peristiwa di akhir minggu kemarin telah memperkuat ekspektasi base-case kami mengenai perekonomian AS:
Tidak pernah mudah untuk memprediksi apa yang akan dilakukan The Fed, terutama di dalam kondisi tertekan; meski begitu, kami berpendapat bahwa The Fed tidak dapat lagi mengambil tindakan dan keputusan hanya berdasarkan kondisi di seputar inflasi. Bank sentral ini harus mulai memperhitungkan kembali potensi untung rugi dari setiap kenaikan suku bunga.
Beberapa pertanyaan kunci yang harus dihadapi The Fed di minggu-minggu mendatang:
Probabilitas: Menengah
Probabilitas: rendah-menengah
Probabilitas: rendah
Masih ada banyak informasi yang harus diolah di hari-hari dan bulan-bulan mendatang. Masalahnya, banyak di antara informasi tersebut yang menyangkut rasa percaya dan suasana psikologis para investor, sesuatu yang sangat sulit untuk diprediksi.
Yang jelas, saat ini The Fed – serta bank-bank sentral lainnya – tidak lagi dapat terfokus hanya pada usaha mengatasi inflasi. Memang biaya-biaya yang berhubungan dengan suku bunga yang lebih tinggi semakin meningkat dan akan menjadi bahan pertimbangan sehubungan dengan manfaat yang terus menurun. Menurut pandangan kami, hal ini akan memperkuat kemungkinan akan adanya lebih banyak kenaikan suku bunga ke depannya.
Fluktuasi harga energi fosil topang urgensi transisi energi global
Kebutuhan dunia untuk membangun sistem energi yang lebih beragam, efisien, dan berkelanjutan. Transisi menuju ekonomi rendah karbon kini tidak hanya didorong oleh komitmen untuk mengurangi emisi, tetapi juga oleh kebutuhan menjaga ketahanan energi di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
60:40, Cara Pandang Baru tentang Warisan dan Masa Pensiun
Asia Care Survey 2026 – survei tahunan yang digelar Manulife dengan melibatkan 9,000 responden Asia termasuk Indonesia – menemukan bahwa responden Indonesia, secara rata-rata, berencana menggunakan 60% aset mereka untuk mempersiapkan masa pensiun sementara 40% sisanya, itulah yang akan diwariskan kepada keluarga.
Ketika balas budi anak tak lagi jadi rencana pensiun orang tua
Selama bertahun-tahun, di antara masyarakat Asia termasuk Indonesia, terdapat sebuah kesepakatan tak tertulis antara anak dan orang tua: Orang tua memberikan bekal berupa pendidikan dan warisan harta, dan anak membalas budi dengan menjadi penyokong hidup orang tua hingga tutup usia.