Skip to main content
Back

Perubahan iklim: Jangan lari dari masalah, tapi jadilah bagian dari solusinya

19 April 2023


Diana Racanelli
, CFA, Senior Portfolio Manager, Capital Appreciation

Craig Bethune, CFA, Senior Portfolio Manager, Capital Appreciation

 

Diana Racanelli
Craig Bethune

Para investor dengan niat yang baik serta berorientasi pada kondisi iklim menggunakan beragam pendekatan untuk menyelaraskan modal mereka dengan masa depan yang mereka inginkan. Salah satu pendekatannya adalah dengan menjauhkan modal mereka dari sektor-sektor beremisi tinggi yang ada saat ini – namun ironisnya, justru sektor-sektor inilah yang memegang kunci bagi masa depan yang rendah karbon.


Dalam artikel ini, kami membahas bagaimana pendekatan yang strategis dan proaktif dapat menjadi lebih efektif baik untuk mengatasi perubahan iklim maupun untuk menangkap value dari industri-industri yang memimpin transisi menuju kondisi rendah karbon.

Kami akan menjelaskan mengenai empat pilar investasi – energi rendah karbon, material transisi, elektrifikasi dan efisiensi, serta ketahanan sumber daya – yang secara bersama-sama akan dapat menghasilkan dampak positif yang terbesar bagi iklim.

 

 

Sanksi yang ditimpakan atas ekspor minyak dan gas Rusia di 2022 menyebabkan terjadinya energy shortage di Eropa, membawa ketahanan dan ketersediaan energi di kawasan tersebut ke dalam kondisi kritis. Untungnya, suhu musim dingin yang lebih hangat dari biasanya turut membantu mengisi kembali persediaan cadangan gas alam, menurunkan kembali harga yang sebelumnya telah menyentuh rekor tertinggi, serta menurunkan risiko terjadinya krisis energi dalam skala besar. 

Meskipun saat ini kondisi di Eropa sepertinya telah tampak stabil, situasi ini memperlihatkan sekali lagi betapa besarnya ketergantungan kita pada bahan bakar fosil: kita belum mampu untuk mengurangi secara signifikan atau bahkan menghilangkan sama sekali penggunaan bahan bakar fosil, dan usaha untuk mewujudkan hal tersebut tanpa dibarengi alternatif yang jelas akan mendorong pada kondisi pasar yang kacau. Perlu dicatat bahwa Eropa adalah salah satu yang paling pertama mengadopsi serta mengadvokasi penggunaan energi berkelanjutan – dengan sekitar 40% produksi listriknya dihasilkan melalui sumber energi terbarukan – namun tetap saja kawasan ini terdampak cukup parah oleh disrupsi pasokan minyak dan gas. Pada kenyataannya, bertransisi kepada masa depan yang berkelanjutan sangatlah kompleks, dan bahan bakar fosil, beserta industri-industri lain yang carbon-sensitive seperti pertambangan – akan memiliki peran yang besar di dalamnya.

 

Konflik Rusia-Ukraina telah menciptakan volatilitas yang besar di dalam pasar energi

Harga gas alam di Uni Eropa (USD per juta metrik British Thermal Unit)

Sumber: Manulife Investment Management, FRED, per Januari 2023.


Pada umumnya, para investor yang berorientasi pada iklim akan sama sekali menghindari industri yang menyebabkan pencemaran berat melalui negative screening. Walau kami dapat memahami gagasan untuk tidak mendukung perusahaan-perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan, kami meyakini bahwa investor yang hanya berfokus pada perusahaan-perusahaan rendah emisi tidak akan dapat memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh transisi rendah karbon. Diperkirakan lebih dari USD 7 triliun setiap tahunnya dihabiskan untuk dekarbonisasi secara global, serta para investor memiliki kesempatan untuk berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang menyediakan solusi tersebut, dan karenanya akan berada pada garis terdepan dalam usaha memitigasi perubahan iklim. Untuk itu, agar para investor dapat membantu memerangi perubahan iklim dengan cara yang paling efektif, kami meyakini ada empat tema utama investasi yang dapat dipertimbangkan:
 

  • Energi rendah karbon
  • Material transisi
  • Elektrifikasi dan efisiensi
  • Ketahanan sumber daya


Energi rendah karbon
 

Sebagai masyarakat, kita telah mulai melakukan pergeseran menuju energi terbarukan sejak dahulu kala, dengan mulai maraknya hidroelektrik dan sumber daya nuklir pada pertengahan abad ke-20. Meski begitu, bahan bakar fosil masih tetap menyumbang 80% dari keseluruhan pasokan energi global. Memang meningkatkan penggunaan energi terbarukan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, namun bila transisinya telah dimulai sejak selama itu, mengapa saat ini baru ada sedikit sekali progres?

Kenyataannya adalah kita telah menjadi terlalu terbiasa menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi yang mudah diperoleh dan cost-effective. Untuk menggantikan bahan bakar fosil, kita membutuhkan teknologi yang lebih baik, bukan hanya dari sudut pandang lingkungan, namun juga dari perspektif cost. Kami meyakini bahwa kita telah menemukan solusi untuk hal ini pada energi surya dan angin.

Berkat teknologi tersebut, nilai rata-rata LCOE (Levelized Cost of Energy / Biaya Energi Rata-rata = biaya total yang dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik dibagi dengan produksi energinya) secara global untuk energi angin dan surya telah menurun secara signifikan sejak 2010. Secara spesifik, LCOE untuk proyek-proyek pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik menurun sebesar 85%, tenaga surya terkonsentrasi sebesar 68%, pembangkit listrik tenaga angin (onshore) sebesar 56%, dan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai sebesar 48%. Faktanya, untuk jangka panjang, saat ini memproduksi listrik dengan tenaga surya dan angin lebih murah daripada dengan bahan bakar fosil, walau perlu pula diingat bahwa energi yang dihasilkan oleh angin dan surya bersifat intermiten, atau terputus-putus.

 

Listrik terbarukan saat ini adalah opsi yang lebih murah daripada bahan bakar fosil

Nilai rata-rata LCOE global (USD/kWh)

Sumber: International Renewable Energy Agency, World Energy Transitions Outlook (Outlook Transisi Energi Dunia), 2022.


Dengan menjadi lebih murahnya produksi listrik tenaga surya dan angin, kami melihat adanya akselerasi yang pesat dalam transisi energi. Produksi energi tenaga angin dan surya meningkat 14% dan 23% di 2021, sementara produksi energi dengan bahan bakar fosil hanya 6%. Meski begitu, investasi yang sangat besar akan sangat dibutuhkan untuk terus mendorong pertumbuhan pesat tersebut, dan para private investor akan memainkan peranan yang sangat penting untuk menutup kesenjangan pendanaan tersebut.

 

Produksi energi tenaga angin akan harus bertumbuh lebih pesat lagi untuk dapat mencapai net zero

Produksi energi tenaga angin (TWh)

Sumber: IEA, September 2022.

 

Studi kasus: Sebuah perusahaan yang terkemuka dengan praktik-praktik berwawasan lingkungan yang unggul
 

Meski perusahaan-perusahaan rendah karbon secara keseluruhan menguntungkan bagi keberlangsungan planet kita, analisa fundamental dan security selection di dalam sektor tersebut  tetaplah sangat penting untuk dilakukan untuk berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang unggul baik dari sisi wawasan lingkungannya maupun dari sisi komersialnya.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri tenaga angin yang menarik perhatian kami, memiliki tidak hanya market share yang dominan serta neraca yang kuat, tapi juga menonjol dari sudut pandang lingkungan – intensitas karbonnya 7% lebih rendah dari rata-rata industri.1 Perusahaan tersebut juga mencanangkan untuk berstatus bebas karbon pada 2030 serta telah menginvestasikan lebih dari 20% dari keseluruhan laba kotornya di 2021 kepada penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi turbin-turbin mereka.  Hal tersebut mengindikasikan kepada kami bahwa perusahaan tersebut bukan hanya memiliki posisi komersial yang baik, namun juga berkomitmen untuk memberikan dampak yang signifikan kepada lingkungan, baik hari ini maupun di masa depan.
 

Material transisi
 

Untuk terus menggerakkan transisi hijau yang tengah berlangsung dan mencapai net zero pada 2050, International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa investasi global di sektor energi bersih akan harus meningkat tiga kali lipat pada 2030 hingga sekitar USD4 triliun. Namun transisi juga tidak dapat berlangsung tanpa dilakukannya penambangan lebih banyak mineral.

Pembangkit energi terbarukan biasanya terletak di lokasi yang terpencil – contohnya pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai yang bisa berlokasi bermil-mil jauhnya dari pantai – dan untuk mendistribusikan energi yang dihasilkan ke pusat-pusat populasi akan membutuhkan lebih banyak kabel transmisi yang terbuat dari tembaga. Selain itu, kendaraan listrik (EV) membutuhkan bahan mineral hingga enam kali lebih banyak dari kendaraan konvensional berbahan bakar bensin maupun solar. Faktanya, menurut IEA, pasar material transisi penting seperti tembaga, kobalt, litium, dan nikel akan harus meningkat tujuh kali lipat pada 2030 agar mampu mencapai net zero pada 2050.

 

Teknologi energi bersih lebih banyak bergantung pada mineral

Mineral yang digunakan dalam mobil dan sumber pembangkit listrik terpilih 

Sumber: IEA, 2022. Baja dan aluminium tidak termasuk. Nilai kendaraan adalah untuk keseluruhan kendaraan, termasuk baterai, motor, dan glider.


Memang bukan rahasia lagi bahwa penambangan mineral akan menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) – sektor pertambangan bertanggung jawab atas 4%-7% emisi GRK global. Karenanya kami meyakini, walaupun peningkatan revenue sebagai akibat dari naiknya permintaan atas mineral akan memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan operasional produksi mereka serta berkontribusi kepada transisi hijau dengan menyediakan lebih banyak mineral, namun perusahaan-perusahaan yang juga berfokus pada bagaimana mereka melakukan penambangan serta menjalankan operasinya guna mengurangi jejak karbon mereka melalui rantai value adalah mereka yang akan memberikan dampak positif yang paling besar kepada lingkungan.
 

Studi kasus: Sebuah perusahaan yang menjadi pelaku pencemaran lingkungan di masa lalu, kini turut membantu memerangi perubahan iklim
 

Menghasilkan emisi GRK adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan bagi kebanyakan perusahaan pertambangan. Namun dari sudut pandang para investor yang berorientasi pada lingkungan, transparansi serta adanya action plan untuk mengendalikan emisi GRK adalah hal yang terpenting di dalam sektor yang carbon-sensitive ini. Sebagai contoh, salah satu perusahaan yang ada dalam portofolio kami menghasilkan lebih dari 4 juta ton ekuivalen karbon dioksida (Mt CO2e) di 20203,  yang setara dengan emisi yang dihasilkan oleh sekitar 800.000 mobil berbahan bakar bensin dalam setahun. Tidak dapat dipungkiri – perusahaan tersebut secara historis adalah pelaku pencemaran lingkungan (heavy polluter). 

Namun, dengan menambang tembaga, nikel, dan kobalt, perusahaan tersebut memiliki kontribusi yang signifikan dalam usaha transisi energi, dan mereka melakukannya dengan intensitas karbon yang 40% lebih rendah daripada rata-rata industri.1 Ditambah lagi, perusahaan tersebut adalah salah satu perusahaan pertama dalam industrinya yang menerbitkan laporan yang sejalan dengan Task Force on Climate-related Financial Disclosures dalam kegiatannya yang berhubungan dengan lingkungan (transparansi) serta yang mencanangkan target pengurangan emisi GRK yang cukup agresif yaitu 30% pada 2025 dan 50% pada 2030 (action plan). 
 

Elektrifikasi dan efisiensi
 

Memproduksi energi yang lebih bersih serta menambang lebih banyak material transisi adalah hal yang sangat penting dalam transisi hijau, namun juga hanya sebagian dari keseluruhan cerita – bagaimana kita menggunakannya adalah juga sebuah faktor kunci. Guna memberikan dampak lingkungan yang terbesar, men-dekarbonisasi area-area di dalam perekonomian riil yang bergantung pada bahan bakar fosil seperti transportasi dan sistem pemanas (heating) juga harus diprioritaskan. 

Sektor transportasi dan sistem pemanas bertanggung jawab atas hampir 25% dan 40% emisi karbondioksida (CO2) global yang berhubungan dengan energi, yang terutama disebabkan oleh rendahnya penggunaan energi terbarukan pada kedua sektor ini. Untuk mengurangi emisi GRK dan demi masa depan yang lebih berkelanjutan, kedua sektor ini memerlukan investasi yang signifikan untuk melakukan modernisasi dan retrofitting

 

Terdapat perbedaan yang besar antara bauran energi (energy mix) untuk listrik dengan untuk transportasi dan sistem pemanas

Penggunaan energi dari sumber daya rendah karbon (%) 

Sumber: Manulife Investment Management, IEA, Renewables 2022.

 

Meski begitu, berpindah dari bahan bakar fosil dalam industri ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena infrastruktur dan sistem yang telah dibangun selama beberapa dekade ke belakang memang didesain untuk menggunakan bahan bakar fosil. Karenanya, mengadaptasikan dan mengintegrasikan teknologi listrik akan membutuhkan waktu dan modal yang tidak sedikit, terutama untuk kedua sektor di atas. 

Terlebih lagi terdapat wilayah-wilayah dalam sektor tersebut di mana secara struktural sulit untuk mengganti penggunaan bahan bakar fosil serta belum terjangkau oleh teknologi listrik. Sebagai contoh, tungku yang dipergunakan untuk memproduksi baja dan semen membutuhkan panas yang sangat tinggi – lebih dari 1000ºC – dan suhu setinggi itu sulit didapatkan tanpa menggunakan bahan bakar fosil.

Elektrifikasi bergantung pada teknologi, dan para investor dapat membantu perusahaan untuk terus berinovasi. Kami meyakini bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki produk dan jasa yang mendorong masyarakat agar mengurangi karbon serta lebih efisien dalam menggunakan energi, akan terus memperoleh permintaan yang berkelanjutan dari investor dalam jangka panjang. 
 

Studi kasus: Sebuah gelombang baru elektrifikasi
 

Ketika kita berpikir mengenai elektrifikasi, terutama pada sektor transportasi, yang terbayang pertama kali biasanya adalah kendaraan listrik (EV). Namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di dalam sektor ini. Telah diakui secara luas bahwa bila kita ingin berhasil dalam menghadapi perubahan iklim, elektrifikasi harus dilakukan bukan hanya kepada mobil dan bis, tapi menjangkau lebih jauh hingga kapal laut, kereta, dan truk berukuran besar, yang tentunya menjadi tantangan yang lebih besar daripada mobil dan bis karena kendaraan-kendaraan tersebut mengangkut beban yang lebih berat untuk jarak yang lebih jauh.

Salah satu perusahaan di dalam portofolio kami telah mulai melangkah ke arah tersebut, mengembangkan teknologi yang dibutuhkan untuk elektrifikasi kapal feri. Lama perjalanan penyeberangan dengan kapal feri tersebut tidak berubah dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk mengisi ulang baterainya, namun hal ini telah mengurangi produksi CO2 hingga 28.000 ton per tahunnya. Terlebih lagi, perusahaan tersebut tidak membuat kapal feri; mereka hanya menyediakan teknologi baterai untuk mengubah kapal feri bermesin diesel menjadi kapal feri bertenaga listrik. Hal ini tentunya dapat membatasi dampak lingkungannya.

Tentu saja masih butuh waktu lama sebelum kita dapat menyeberangi Samudera Atlantik dengan kapal feri bertenaga listrik, karena jarak yang dapat ditempuh oleh kapal feri listrik besutan perusahaan tersebut saat ini baru hanya beberapa kilometer saja, namun perusahaan tersebut telah menjadi agen inovasi pada sektor yang sangat penting bagi transisi hijau.
 

Ketahanan sumber daya
 

Sementara tiga pilar investasi yang telah kita bahas di atas – energi rendah karbon, material transisi, serta elektrifikasi dan efisiensi – terutama bertujuan untuk mengurangi emisi GRK global dalam jangka panjang serta membatasi naiknya suhu planet bumi agar kurang dari 2% di atas level masa pra-industrial, tujuan utama dari pilar ketahanan sumber daya adalah untuk membantu mengatasi konsekuensi dari meningkatnya suhu.

Dari perubahan pola cuaca dan naiknya permukaan laut hingga kejadian alam yang lebih sering dan intens seperti kekeringan yang berkepanjangan dan banjir besar, peningkatan suhu udara akan menjadi tantangan bagi ekosistem kita yang kondisinya telah rapuh ini untuk beberapa dekade ke depan. Ancaman ini terutama berpengaruh besar terhadap ketahanan pangan dan air, karena dampak perubahan iklim biasanya paling dirasakan melalui air dan tanah. Kita hidup di dunia dengan sumber daya yang terbatas untuk menghidupi populasi yang terus bertumbuh dengan standar hidup yang terus meningkat, sehingga kita tidak boleh kehilangan tanah yang subur dan sumber air minum gara-gara perubahan iklim. Namun pada kenyataannya hal ini sangatlah mungkin terjadi.

 

“…dunia akan harus meningkatkan produksi pangan hingga lebih dari 50 persen untuk memenuhi kebutuhan hampir 10 miliar penduduk pada 2050.”

World Resources Institute

 

“Pada tahun 2050, lebih dari setengah populasi dunia dan setengah dari produksi biji-bijian global akan harus menghadapi kelangkaan air yang parah.”

 

United Nations Convention to Combat Desertification (Konvensi PBB Untuk Memerangi Desertifikasi)

 

Meski begitu, kami meyakini bahwa hal ini dapat menjadi tantangan maupun peluang: Para investor yang memerhatikan kekuatan-kekuatan yang turut bermain dalam mencapai masa depan yang berkelanjutan dapat turut membantu menyelesaikan masalah utama ini dengan berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang berkontribusi pada rantai pasokan pangan dan air global yang lebih kuat.
 

Studi kasus: Melihat gambaran yang lebih besar
 

Sebuah perusahaan yang kami anggap sebagai kontributor yang kuat untuk gerakan transisi hijau adalah pemimpin di sektor manufaktur peralatan pertanian. Kebanyakan produk flagship-nya saat ini masih menggunakan mesin diesel, yang bila digunakan akan menghasilkan emisi GRK yang cukup besar. Karena jejak karbon yang tinggi ini, perusahaan ini semestinya tidak akan lolos dari kebanyakan negative screening. Meski begitu, perusahaan tersebut menginvestasikan sebagian besar revenue nya pada pertanian presisi (precision agriculture) serta mengembangkan teknologi untuk mengurangi emisi maupun kebutuhan atas pupuk. 

Dengan menyediakan peralatan yang dibutuhkan para petani untuk menjadi lebih efisien di dalam setiap aspek proses produksi mereka, dari meningkatkan hasil panen hingga memperbaiki manajemen penggunaan air, perusahaan tersebut membantu para petani untuk menyediakan pangan bagi populasi dunia yang tengah bertumbuh serta memanfaatkan sumber daya alam kita yang terbatas dengan sebaik mungkin.
 

Berinvestasi secara efektif untuk memerangi perubahan iklim
 

Walaupun transisi hijau saat ini terus berlangsung dengan cepat, masih jauh bagi kita untuk mencapai net zero, dan modal dari para investor tentunya akan menjadi kunci bagi perusahaan-perusahaan untuk terus meningkatkan kapasitas energi terbarukan mereka, mengembangkan teknologi baru, serta men-dekarbonisasi operasional produksi mereka. Kami meyakini bahwa para investor yang ingin memberikan dampak terbesar terhadap perubahan iklim seharusnya tidak membatasi investasinya hanya pada perusahaan-perusahaan dengan tingkat emisi yang rendah, namun juga perusahaan-perusahaan yang tengah membantu dunia mengurangi emisi karbon dan mengatasi dampak perubahan iklim yang terus meningkat.

Kami meyakini bahwa perusahaan-perusahaan yang menambang material transisi, yang berperan besar dalam evolusi kita menuju bauran energi yang rendah karbon, yang merupakan agen inovasi dan elektrifikasi, serta yang membantu menjaga ketahanan sumber daya bagi populasi dunia yang terus berkembang, harus pula dipertimbangkan saat investor membangun portofolio yang berfokus pada iklim. Ironisnya, menurut pandangan kami, masa depan yang berkelanjutan akan sulit dicapai bila para investor memutuskan untuk menghindari masalah dan menyingkirkan sepenuhnya perusahaan-perusahaan yang menjadi penyebab pencemaran lingkungan dari portofolio mereka, padahal justru di sinilah investasi yang signifikan diperlukan guna mengurangi emisi.

Bagi kami, menjadi bagian dari solusi untuk masalah perubahan iklim dan berinvestasi secara efektif pada transisi hijau adalah berarti mengaplikasikan proses security selection yang ketat dan menyeluruh yang tidak hanya mempertimbangkan metrik lingkungan sederhana seperti tingkat emisi GRK saat ini serta menggunakan empat pilar investasi kami untuk menilai daya saing sebuah perusahaan di masa depan serta kontribusi mereka terhadap transisi menuju kondisi rendah karbon.

 

 


 

 

1 Manulife Investment Management, 2022

2 Laporan tahunan perusahaan tersebut di 2021

3 Laporan tahunan perusahaan tersebut di 2021

Lihat semua
Confirm