Skip to main content
Back

Peluang Sektoral Pasar Saham Indonesia di Tengah Berbagai Tantangan

14 September, 2022

 

 

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Equity Analyst, Erisa Nazrin Habsjah.

Sebagai lembaga intermediasi yang memiliki peranan penting dalam perekonomian, bagaimana performa sektor perbankan di tengah pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung di Indonesia?

Sektor perbankan Indonesia mengalami peningkatan kinerja seiring dengan pemulihan ekonomi. Di bulan Juni pertumbuhan kredit mencapai 10.3% YoY dan terjadi menyeluruh di semua kategori yaitu kredit konsumsi, kredit modal kerja, dan kredit investasi. Dari sisi segmen, pertumbuhan tertinggi terjadi di segmen UMKM yang tumbuh 17.4% YoY. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami peningkatan, naik 8.9% YoY. Kualitas aset terus mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi, dengan Non-Performing Loan (NPL) terjaga di level 3%. Di tengah kenaikan suku bunga acuan bulan Agustus - dan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) ke level 9% di bulan September ini - likuiditas perbankan masih sangat baik, dengan Loan to Deposit (LDR) berada di level 84%. Secara umum, belum ada tekanan mendesak yang membuat sektor perbankan harus menaikkan suku bunga tabungan maupun pinjaman secara agresif.


Sekarang beralih ke bank digital, setelah sempat menunjukkan kinerja saham yang fenomenal di tahun lalu, bagaimana potensi bank digital mengingat saat ini bank konvensional juga berlomba memasuki ranah digital?

Potensi bank digital masih sangat baik karena penetrasi perbankan masih relatif jauh lebih rendah dibandingkan negara lain. Di Indonesia, masih ada kelompok besar masyarakat yang belum terlayani oleh sektor perbankan (underserved segment), sehingga keberadaan bank digital diharapkan meningkatkan inklusi masyarakat bertransaksi perbankan. Kunci keberhasilan bank digital terletak pada ekosistem yang akan dituju. Selama memiliki ekosistem yang jelas, bank digital dapat melayani pihak-pihak yang berada dalam ekosistem tersebut.


Secara historis – mengacu pada tahun 2008 hingga tahun 2013 – kenaikan harga komoditas dapat mendorong lonjakan permintaan di sektor properti. Apakah harga komoditas yang cukup tinggi selama satu tahun ini berhasil mendorong permintaan yang kuat di sektor properti?

Kenaikan harga komoditas memiliki dampak pada kenaikan permintaan di sektor properti. Perbedaannya, di tahun 2020 – 2022 ini kenaikan permintaan properti lebih banyak terjadi di daerah-daerah penghasil komoditas seperti di Medan, Sumatera Utara. Sementara itu di daerah-daerah non penghasil komoditas, permintaan properti lebih didorong oleh peningkatan permintaan perumahan secara struktural. Oleh sebab itu, properti yang paling laku terjual adalah rumah dengan harga per unit di bawah IDR2 miliar.


Rilis kinerja perusahaan ritel dengan pangsa pasar menengah atas menunjukkan penjualan di semester pertama 2022 masih solid. Perilaku revenge shopping (fenomena berbelanja untuk mengkompensasi keinginan yang tertunda selama pandemi) disinyalir menjadi pendorong bagusnya kinerja tersebut. Bagaimana potensi pertumbuhan ke depannya?

Pembukaan kembali aktivitas ekonomi, normalisasi jam operasional mal dan pusat perbelanjaan memberi dampak positif pada penjualan sektor ritel. Belanja Lebaran juga turut mendorong peningkatan sektor ritel di kuartal dua di tahun ini. Namun kenaikan BBM di bulan September tentunya berdampak pada daya beli masyarakat, khususnya masyarakat segmen menengah ke bawah, sehingga perusahaan ritel yang memiliki prospek lebih baik adalah perusahaan yang fokus pada segmen menengah atas. Selain itu, perusahaan penjual bahan-bahan kebutuhan pokok yang efisien dengan memanfaatkan sistem teknologi informasi juga memiliki potensi kinerja yang lebih tinggi.


Bagaimana peluang sektor home personal care di tengah berbagai tantangan seperti kenaikan sejumlah harga komoditas yang mempengaruhi biaya produksi, dan penyesuaian harga BBM yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat?

Di tengah penyesuaian harga BBM dan kenaikan harga komoditas, sektor home personal care memiliki tantangan yang cukup berat. Dari sisi konsumen, kondisi ini dapat menurunkan daya beli, dan membuat konsumen beralih pada produk dengan harga yang lebih murah. Sementara dari sisi produsen, kenaikan harga produk menjadi tidak terhindarkan karena kenaikan harga komoditas. Oleh karenanya tantangan bagi sektor ini mencari keseimbangan antara harga dan volume penjualan, karena peningkatan harga yang terlampau besar dapat memukul volume penjualan. Selain itu, efisiensi distribusi dan efektivitas promosi juga menjadi faktor yang sangat penting untuk menunjang perusahaan ke depannya.

 

 

Unduh Dokumen

  • IDB: BI mempertahankan suku bunga di 6%

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Februari 2024: Dampak penurunan Fed Funds Rate terhadap pasar saham Indonesia

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm