9 Maret 2026
Pasar global dibayangi oleh kekhawatiran konflik Iran yang berkepanjangan dan dampaknya terhadap harga energi dan inflasi global. Harga minyak Brent menembus USD100 per barel pada Senin pagi, merespons kabar negara produsen minyak di Teluk Persia seperti Kuwait, Irak, dan UAE memangkas produksi minyak karena tutupnya Selat Hormuz. Konflik Iran belum menunjukkan sinyal mereda di tengah retorika kedua pihak yang tetap agresif. Nilai tukar USD menguat pekan lalu (indeks DXY +1.4%) di tengah preferensi terhadap aset safe haven. Sementara itu, data ekonomi AS mengecewakan dengan data nonfarm payroll turun 92 ribu pada Februari dari bulan sebelumnya +126 ribu, menunjukkan pengurangan pekerjaan. Tingkat pengangguran naik dari 4.3% menjadi 4.4%. Penjualan ritel juga mengalami kontraksi -0.2% MoM di Januari. Indeks S&P 500 melemah -2.02% pekan lalu dengan seluruh sektor mencatat pelemahan. Imbal hasil UST 10Y naik dari 3.94% ke 4.14%.
Pasar saham kawasan Asia melemah pekan lalu dengan indeks MSCI Asia Pacific turun -6.37%. Pasar Asia dipandang dirugikan dalam kondisi konflik Iran karena banyak negara Asia merupakan net importir minyak dan mengandalkan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah. Sementara itu Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4.5%-5.0% sesuai dengan ekspektasi pasar. Target defisit anggaran ditetapkan di kisaran 4% dari PDB, konsisten dengan target 2025. Pemerintah China tetap konsisten menetapkan prioritas kebijakan untuk mendukung konsumsi domestik, serta mengembangkan kapabilitas teknologi dan advanced manufacturing.
Di domestik, inflasi meningkat melebihi ekspektasi menjadi 4.76% YoY pada Februari dari bulan sebelumnya 3.55% karena kenaikan harga pangan dan emas perhiasan. Pemerintah melaporkan realisasi APBN hingga Februari mencatat defisit IDR135.7 triliun atau 0.53% dari PDB, melebar dari posisi Januari di defisit 0.21% dari PDB. Penerimaan negara tumbuh +12.8% YoY mencapai IDR358 triliun, sementara belanja negara tumbuh +41.9% YoY mencapai IDR493.8 triliun. Menkeu Purbaya menyampaikan akan tetap mempertahankan defisit fiskal di bawah 3% dari PDB dan mengindikasikan dapat memangkas pos pengeluaran untuk menjaga defisit. Lembaga pemeringkat Fitch menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif, sementara sovereign rating tetap di 'BBB'. Fitch menyoroti konsistensi dan kredibilitas kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi outlook fiskal dan sentimen investor. Indeks obligasi BINDO melemah -0.51% pekan lalu dengan imbal hasil SBN 10Y naik dari 6.43% ke 6.61%. Imbal hasil SRBI 12 bulan naik ke 5.21% pekan lalu dari 5.16% pekan sebelumnya. Indeks saham IDX80 melemah -7.71% dan IHSG -7.89%. Investor mencatat pembelian bersih IDR2.2 triliun, namun mengecualikan transaksi crossing, di pasar reguler investor asing mencatat penjualan bersih IDR2.3 triliun.
IWH: S&P Ratings soroti risiko fiskal Indonesia
Investment Weekly Highlights
IWH: Mahkamah Agung AS putuskan tarif Trump ilegal
Investment Weekly Highlights
Monthly Market Review Januari 2026
Monthly Market Review