Skip to main content
Back

Pelemahan data ekonomi membayangi pasar

10 April, 2023

​Pekan lalu​

 

Pasar saham Amerika Serikat melemah pekan lalu dibayangi kekhawatiran resesi setelah rangkaian rilis data ekonomi AS menunjukkan pelemahan. Di sektor tenaga kerja, data nonfarm payroll turun dari 326 ribu ke 236 ribu di Maret dan pertumbuhan upah (hourly earnings) juga melandai ke 4.2% YoY dari bulan lalu 4.6%. Ketersediaan pekerjaan (JOLTS) turun ke 9.9 juta di Februari, pertama kalinya turun di bawah 10 juta sejak Mei 2021. Aktivitas sektor jasa juga melemah di mana ISM Services turun dari 55.1 ke 51.2 di Maret. Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS Q1 dari Atlanta Fed juga terus direvisi turun menjadi 1.5% dari 3.5% di dua pekan sebelumnya. Selain itu OPEC+ mengejutkan pasar dengan mengumumkan pemangkasan produksi mencapai 1 juta barel per hari, yang dikhawatirkan dapat memberikan tekanan terhadap inflasi global. Harga minyak Brent menguat 6.71% pekan lalu ke USD85.12 per barel. Indeks S&P 500 melemah 0.10% pekan lalu dan indeks Nasdaq -1.10%. Imbal hasil UST 10Y turun dari 3.47% ke 3.39%.

Pasar saham kawasan Asia bergerak fluktuatif pekan lalu dibayangi oleh kekhawatiran tekanan inflasi dari kenaikan harga minyak dunia. Kawasan Asia merupakan net importir minyak yang sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Sementara itu Samsung Electronics memangkas produksi semikonduktor untuk menopang harga memory chip yang lemah di tengah permintaan konsumer dunia yang lesu. Kabar ini menjadi sentimen positif bagi emiten semikonduktor dunia. Indeks MSCI Asia Pacific melemah 0.48% pekan lalu.

Di domestik, inflasi melandai di bulan Maret di mana inflasi bulanan di 0.18% MoM dan inflasi tahunan di 4.97% YoY dari sebelumnya 5.47% yang positif bagi BI untuk mempertahankan tingkat suku bunga. IHSG melemah 0.18% pekan lalu dengan sektor teknologi mencatat pelemahan terdalam, sementara sektor energi mencatat kinerja terbaik. Investor asing kembali mencatat pembelian bersih IDR2.7 triliun pekan lalu di tengah kondisi global yang fluktuatif. Pasar obligasi Indonesia menguat 0.44% pekan lalu seiring dengan ekspektasi kebijakan lebih dovish dari bank sentral dunia. Imbal hasil obligasi pemerintah 10Y turun dari 6.79% ke 6.66%.

 

Pekan Ini


Data inflasi AS akan menjadi perhatian pekan ini di mana inflasi umum diperkirakan melandai ke 5.1% YoY dari sebelumnya sementara inflasi inti resilien di 5.6% YoY. Penjualan ritel diperkirakan tetap lemah di -0.4% MoM seiring dengan keyakinan konsumen yang menurun di Mei.

Di Asia, inflasi China diperkirakan tetap stabil di 1.0% YoY yang membuka ruang pelonggaran moneter lebih lanjut. Sementara ekspor diperkirakan tertekan karena melemahnya permintaan dunia. 

 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua


Pekan ini

Data inflasi AS akan menjadi perhatian pekan ini di mana inflasi umum diperkirakan melandai ke 5.1% YoY dari sebelumnya sementara inflasi inti resilien di 5.6% YoY. Penjualan ritel diperkirakan tetap lemah di -0.4% MoM seiring dengan keyakinan konsumen yang menurun di Mei.

Di Asia, inflasi China diperkirakan tetap stabil di 1.0% YoY yang membuka ruang pelonggaran moneter lebih lanjut. Sementara ekspor diperkirakan tertekan karena melemahnya permintaan dunia. 

 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Confirm