Skip to main content
Back

Monthly Market Review September 2022

10 Oktober, 2022

 

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.


ULASAN MAKROEKONOMI

Indikator makroekonomi Indonesia terus menunjukkan pemulihan. Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan USD5.75 miliar, naik 36.5% MoM. Surplus tersebut didukung oleh ekspor yang tumbuh 9.2% MoM sementara impor tumbuh 3.8% MoM. Secara sektor, non-migas mencatat surplus USD7.74 miliar sementara sektor migas defisit USD1.98 miliar karena harga minyak mentah yang tinggi menyebabkan impor migas meningkat. Pertumbuhan surplus di sektor non migas didukung oleh turunnya tarif pungutan ekspor kelapa sawit dan naiknya harga batu bara.

Dari sisi fiskal, pendapatan pajak tetap kuat, naik 53% YoY di 8M22 (vs. 13% di 8M21), didukung pemulihan ekonomi domestik dan naiknya pendapatan dari komoditas. Sementara itu belanja fiskal tumbuh lebih sedikit, 6% YoY di 8M22 dari 2% di 8M21. Subsidi dan kompensasi energi tetap sebagai kontributor utama, tumbuh 146% YoY. Hingga akhir Agustus, Pemerintah mencatat surplus fiskal 0.6% dari PDB. Kami perkirakan defisit fiskal dapat terjadi di 4Q22 karena Pemerintah akan mulai membayar kompensasi energi di Sep-Okt 2022.

Inflasi naik 1.17% MoM di September, menyebabkan inflasi tahunan naik menjadi 5.95% YoY dari bulan sebelumnya 4.69% YoY. Kenaikan harga BBM merupakan kontributor utama bagi inflasi bulanan (0.92ppt), diikuti transportasi (0.15ppt). Sementara itu harga pangan deflasi -0.08ppt karena normalisasi harga minyak goreng dan bumbu dapur. Inflasi inti meningkat jadi 3.21% YoY dari sebelumyna 3.04% YoY.


PASAR SAHAM

The Fed menaikkan suku bunga 75bps dan mengindikasikan arah kebijakan tetap agresif karena prioritas utamanya adalah menahan laju inflasi. IHSG melemah -1.92%, walaupun unggul dibandingkan pasar global, regional, dan kawasan negara berkembang. MSCI World melemah -9.46%, MSCI Asia Pacific ex Japan -12.92%, dan MSCI Emerging Market -11.92%. Koreksi IHSG terjadi walau investor asing mencatat pembelian bersih USD209.2 juta ke pasar saham Indonesia. Secara sektoral, kesehatan (+4.26%) dan energi (+1.10%) mencatat kinerja terbaik sementara sektor teknologi (-10.96%) dan transportasi & logistic (-10.70%) mencatat pelemahan terdalam. Rupiah melemah -2.59% MoM, namun unggul dibanding regional (SGD -2.73%, THB -3.48%, dan MYR -3.62%).

Tingginya inflasi global dan respon kebijakan yang berhubungan dengannya, serta perang yang berkepanjangan merupakan risiko utama bagi pasar. Bagi Indonesia, Bank Indonesia diperkirakan melanjutkan kenaikan suku bunga untuk menjaga daya tarik Rupiah dan aset finansial Indonesia. Kenaikan inflasi tahun ini diperkirakan tetap terjaga dan akan lebih rendah dibandingkan >8% inflasi di periode pengetatan moneter 2013. Pembukaan kembali ekonomi dan pertumbuhan laba perushaan yang tinggi merupakan faktor pendukung bagi pasar saham. Kami melihat bahwa eksposur di ekonomi Indonesia akan tetap positif dan potimis melihat potensi jangka panjang investasi di Indonesia.


PASAR OBLIGASI

Pasar obligasi kembali mengalami koreksi, indeks BINDO mencatat penurunan bulanan -1.14%, membuat kinerja tahun berjalan kembali ke zona negatif -0.40% di bulan September. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun naik signifikan dari 7.11% ke 7.35% di akhir periode, sejalan dengan kenaikan imbal hasil UST yang sempat mencapai 4%, pertama kali sejak 2010, sebelum akhirnya turun kembali ke 3.83%. Berita utama yang berkontribusi terhadap koreksi pasar terutama dipicu oleh bank-bank sentral yang semakin memperketat kebijakan moneternya. The Fed mengafirmasi sikap hawkishnya dengan menaikkan suku bunga acuan 75bps (kenaikan 75bps sekaligus yang ketiga kalinya berturut-turut), membawa suku bunga acuan ke level 3.00 – 3.25%. Dot Plot mengindikasikan sampai akhir tahun masih mungkin terjadi kenaikan 100 – 125 bps lagi. Selain kenaikan suku bunga, di tengah bulan The Fed pun kembali mengurangi neracanya sebesar USD95 miliar, terdiri dari surat utang (USD60 miliar) dan efek beragun aset (USD35 miliar). Kemungkinan perlambatan ekonomi soft landing sulit tercapai, seiring ketua The Fed Jerome Powell yang menyatakan sangat sulit untuk menjinakkan inflasi tanpa dampak yang menyakitkan.

Mengikuti kenaikan agresif Amerika Serikat, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya 50 bps ke 4.25%. Kebijakan ini bersifat antisipatif untuk menurunkan inflasi inti dan ekspektasi inflasi ke depan, serta untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah yang melemah tertekan situasi global. Kali ini pasar mencerna langkah agresif ini dengan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun ke level 7.40%. Walaupun imbal hasil meningkat, pasar obligasi tetap resilien, dimana kenaikannya hanya 24bps sementara kenaikan imbal hasil UST mencapai 64bps. Ketahanan pasar domestik ditopang oleh likuiditas berlimpah dan topangan kuat dari investor domestik. Likuiditas masih baik karena pertumbuhan kredit masih lambat hanya naik 10.62% YoY (sebelumnya 10.71% YoY). Investor domestik, terutama investor ritel, terus menunjukkan minat atas penerbitan Sukuk Ritel SR017, memecahkan rekor jumlah investor (65 ribu) dan penerbitan tertinggi di tahun 2022. Di pasar primer, pemerintah menerbitkan obligasi seri acuan FR0098 dengan jatuh tempo di tahun 2037.

Investor asing membukukan jual bersih senilai IDR29.26triliun, persentase kepemilikannya turun ke 14.31% dari bulan sebelumnya 15.24%. Perbankan komersial menambah IDR28.07 triliun dengan persentase turun ke level 24.85%. Bank Indonesia juga menambah kepemilikan sebesar IDR33.47 triliun, sehingga kepemilikan naik dari 25.88% ke 25.95%. Baik asuransi maupun dana pensiun juga mencatat pembelian, dengan kepemilikan naik menjadi 16.54% dari sebelumnya 16.29%. Reksa dana mencatat penurunan sebesar IDR0.47 triliun, dengan persentase kepemilikannya turun ke 3.06%. Investor individu dan lain lain menjadi pembeli terbesar bulan lalu, dengan kepemilikan naik dari 14.59% ke 15.29%.

Kurva imbal hasil menunjukkan pola bearish. Imbal hasil tenor pendek 2 dan 5 tahun naik masing-masing 7 dan 5bps. Imbal hasil tenor menengah 10 dan 15 tahun naik masing-masing 24 dan 14bps. Kurva tenor panjang juga naik, dimana imbal hasil tenor 20 tahun naik signifikan 31bps sementara tenor 30 tahun naik sedikit 3bps.
 

Unduh Dokumen

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm