Skip to main content
Back

Monthly Market Review Mei 2026

12 Juni 2026

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Bukan untuk umum.

ULASAN MAKROEKONOMI
 

  • Inflasi umum naik ke 3,1% YoY di bulan Mei dari 2,4% di April, terutama didorong oleh kenaikan inflasi pangan menjadi 4,9% YoY dari 3,1% YoY dikontribusi oleh kenaikan harga minyak goreng (+9,3% YoY) dan cabai (+8,1% YoY). Inflasi transportasi juga meningkat menjadi 2,3% YoY dari 1,6%, seiring harga BBM non-subsidi yang secara rata-rata naik 10%. Sementara itu di periode yang sama inflasi inti naik ke 2,6% YoY dari 2,4%. Kami memperkirakan tekanan inflasi di paruh kedua 2026 akan lebih tinggi lagi, terutama jika potensi El Nino yang kuat terealisasi.
     
  • Di tengah tekanan nilai tukar yang meningkat, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50bps, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 25bps. Selain itu, BI juga menurunkan batas pembelian valuta asing tunai tanpa underlying menjadi USD25 ribu per pembeli per bulan dari sebelumnya USD50 ribu, efektif mulai Juni 2026.

  • Surplus perdagangan turun tajam menjadi USD0,1 miliar di bulan April dari USD3,3 miliar pada bulan sebelumnya, terutama akibat kenaikan impor minyak. Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan sampai bulan April, surplus perdagangan menyusut signifikan menjadi USD5,6 miliar dibandingkan USD11,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Impor migas naik 43,8% MoM, sementara impor nonmigas meningkat 28,8% MoM dari kontraksi -15,0% di bulan Maret, terutama didorong oleh kenaikan impor bahan baku dan barang konsumsi.  Di sisi lain, ekspor tumbuh 12,3% MoM dari 1,5% di bulan Maret, atau 22,0% YoY, setelah sebelumnya terkontraksi -3,1% YoY. Kinerja ekspor didorong oleh komoditas seperti minyak sawit mentah, nikel, batu bara, besi dan baja, serta oleh produk non-komoditas seperti mesin, kendaraan, dan petrokimia.

  • Di bulan Mei 2026 indeks PMI Indonesia naik ke 50,0 dari 49,1 di April  yang merupakan level terendah dalam sepuluh bulan terakhir, menunjukkan kondisi manufaktur yang secara umum stabil. Pesanan baru kembali tumbuh, namun pesanan ekspor turun untuk ketiga kalinya berturut-turut dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021, seiring berlanjutnya gangguan perdagangan akibat konflik di Timur Tengah.

  • Defisit fiskal bulan Mei tercatat IDR16 triliun, berbalik dari surplus IDR76 triliun pada April, sehingga kumulatif defisit sepanjang tahun berjalan meningkat menjadi IDR180 triliun atau 0,7% dari PDB, dari sebelumnya sampai April 0,6%. Belanja pemerintah naik 5,5% MoM menjadi IDR283 triliun, setelah bulan sebelumnya turun -17,0% MoM. Sementara itu, penerimaan negara turun 22,4% MoM menjadi IDR267 triliun, mencerminkan normalisasi setelah batas akhir pelaporan pajak di bulan April.
     

PASAR SAHAM
 

  • Pasar saham Indonesia terkoreksi tajam di bulan Mei. Selain volatilitas harga energi global, pasar domestik juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap pelemahan nilai tukar dan kondisi fiskal. Sejumlah perubahan kebijakan yang cukup mendasar - termasuk sentralisasi ekspor melalui Danantara serta wacana perubahan lanjutan atas arah kebijakan strategis sebelumnya - menambah ketidakpastian dan memicu sikap hati-hati investor. Investor asing mencatatkan arus keluar bersih sebesar -USD271 juta. IHSG turun -11,9%, tertinggal dari pasar global (MSCI World +4,4%), pasar Asia Pasifik (MSCI Asia Pacific ex-Japan +9,8%), dan pasar negara berkembang (MSCI Emerging Market +9,5%). Seluruh sektor membukukan kinerja negatif, dengan material dasar -22,6% dan energi -22,5% menjadi sektor dengan pelemahan terdalam.

  • Lamanya perang dan dinamika harga minyak masih menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi global, pertumbuhan ekonomi, dan pasar keuangan. Di dalam negeri, pengelolaan fiskal yang kuat serta arah kebijakan yang jelas akan sangat penting untuk menopang kepercayaan pasar. Ketika volatilitas pasar mereda ke depan, kami memperkirakan fundamental Indonesia yang tetap kuat - termasuk kekayaan komoditas dan ketergantungan yang relatif rendah terhadap ekspor - dapat kembali mendukung minat investor asing terhadap Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang.

PASAR OBLIGASI
 

  • Pasar obligasi domestik secara umum masih berada dalam tekanan sepanjang Mei. Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun meningkat signifikan sebesar 39bps dari 6,24% menjadi 6,63%, sejalan dengan tren kenaikan imbal hasil SRBI. Sementara itu, obligasi tenor 10 tahun relatif lebih resilien dengan penurunan imbal hasil sebesar 12bps dari 6,83% ke 6,70%. Indeks BINDO mencatat kinerja sedikit positif sebesar +0,21% MoM, namun secara tahun berjalan masih mencatatkan kinerja negatif sebesar -0,88%. Pergerakan imbal hasil tenor 2 tahun juga sejalan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury (UST) tenor 2 tahun sebesar 13bps dari 3,87% ke 4,00%  namun berlawanan arah dengan UST tenor 10 tahun yang naik 7bps dari 4,37% ke 4,44%.  Selisih antara SBN tenor 10 tahun dan UST menyempit dari 245bps menjadi 228bps, namun masih relatif lebar dibandingkan rata-rata 1 tahun terakhir sebesar 222bps.

  • Faktor utama penggerak pasar berasal dari kombinasi sentimen global dan domestik. Proses negosiasi damai AS – Iran yang masih berlangsung namun belum stabil tetap menjadi fokus utama selama periode tersebut, dan mendorong harga minyak menembus level di atas USD100 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi dan risiko pelemahan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, Bank Indonesia mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps dari 4,75% menjadi 5,25%, disertai kenaikan simetris pada suku bunga fasilitas simpanan dan pinjaman masing-masing sebesar 50 bps menjadi 4,25% dan 6,00%. BI memberi sinyal bahwa prioritas kebijakan mereka saat ini adalah menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global. BI  juga melanjutkan strategi peningkatan penerbitan SRBI di pasar untuk menarik minat investor, dengan rata-rata imbal hasil SRBI tenor 12 bulan naik tajam dari 6,22% menjadi 6,92%. Dari sisi fiskal, pasar tetap berhati-hati, khususnya terkait pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia yang ditujukan untuk menangani praktik under‑invoicing dan under‑reporting.

  • Dari pasar perdana khususnya lelang rutin SUN, total penawaran yang masuk menurun dibandingkan dengan  bulan sebelumnya, yaitu sebesar Rp51,40 triliun dan Rp57,30 triliun pada Mei, lebih rendah dari rata-rata penawaran tahun 2026 di kisaran Rp68 triliun. Selain itu, penawaran yang masuk pada lelang SBSN tercatat turun tajam di bawah rata-rata 2026 sebesar Rp34 triliun, masing-masing hanya Rp21,20 triliun dan Rp18,80 triliun. Di segmen obligasi ritel, pemerintah berencana menerbitkan ST016T2 (tenor 2 tahun) dengan kupon 6,05% dan ST016T4 green sukuk (tenor 4 tahun) dengan kupon 6,25%, dengan target awal sebesar Rp15 triliun.   Dari sisi global, pemerintah menerbitkan global bond dalam mata uang  USD dan EUR dengan tenor 5 hingga 12 tahun, dengan total penerbitan USD 2 miliar dan EUR 1,25 miliar. Penerbitan ini diharapkan dapat menjadi penopang tambahan bagi cadangan devisa ke depan.

  • Sepanjang bulan Mei investor asing mencatatkan penjualan bersih senilai Rp3,70 triliun, sehingga porsi kepemilikan asing kembali turun menjadi 12,61% dari 12,74% di bulan sebelumnya. Pembeli bersih terbesar bulan Mei adalah  Asuransi dan Dana Pensiun yang menambah kepemilikannya sebesar Rp19,13 triliun, membuat persentase kepemilikan  meningkat menjadi 20,31%.

  • Di periode ini kurva imbal hasil membentuk pola yang beragam,  flattening di tenor pendek dan steepening di tenor panjang.   Imbal hasil tenor 2 tahun paling kalah unggul dengan kenaikan 39bps. 


Unduh Dokumen



Tabel & Grafik

Kepemilikan obligasi pemerintah


Kurva imbal hasil obligasi

 

 

Lihat semua

Tabel & Grafik

Kepemilikan obligasi pemerintah


Kurva imbal hasil obligasi

 

 

Siaran Pers

Manulife Wealth & Asset Management Akuisisi Schroders Indonesia. Selengkapnya.

View more