20 Juli 2026
Pasar saham Amerika Serikat melemah dipengaruhi oleh memanasnya kembali tensi AS - Iran, naiknya harga minyak dunia, serta konsolidasi di sektor teknologi. Harga minyak Brent naik +15.9% ke level USD88 per barel seiring dengan memanasnya kondisi di Selat Hormuz. Presiden Trump sempat mempertimbangkan tarif 20% bagi kargo yang melewati Selat Hormuz, namun membatalkan rencana tersebut. Konsolidasi di sektor teknologi membayangi kinerja pasar seiring dengan rotasi sektor yang terjadi dan kekhawatiran terhadap valuasi dan dampak rencana belanja modal besar untuk AI terhadap profitabilitas emiten. Di sisi lain, data ekonomi AS relatif positif, di mana inflasi lebih rendah dari ekspektasi. Inflasi bulanan -0.4% MoM di Juni, lebih rendah dari ekspektasi -0.1%, dan inflasi harga produsen (PPI) turun ke +5.5% YoY dari sebelumnya 6.0%, sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga. Imbal hasil UST 10Y turun dari 4.56% ke 4.54% pekan lalu. Musim laporan earnings emiten AS 2Q dimulai positif, di mana perbankan besar seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs melaporkan earnings lebih baik dari ekspektasi pasar.
Pasar saham kawasan Asia melemah pekan lalu dengan indeks MSCI Asia Pacific turun -3.77%. Sektor IT melemah terdalam menjadi pemberat kinerja, sementara sektor energi menguat tertinggi seiring dengan kenaikan harga minyak dunia. Konsolidasi sektor teknologi global membayangi pasar dengan eksposur besar di emiten teknologi seperti Korea Selatan (Kospi -8.8%), dan Taiwan (Taiex -5.9%), walau TSMC (produsen chip terbesar di dunia dari Taiwan) melaporkan earnings dan proyeksi penjualan yang lebih kuat dari ekspektasi pasar. Sementara itu pasar Hong Kong menjadi salah satu pasar yang unggul (Hang Seng +1.6%) didukung oleh rotasi pasar ke saham yang lagged tahun ini seperti di sektor internet dan otomotif. Pertumbuhan PDB China 2Q-2026 melandai ke +4.3% YoY dari kuartal sebelumnya 5.0%, level terendah sejak 2022, dipengaruhi oleh konsumsi dan investasi domestik yang lemah. Sementara itu sektor eksternal China menopang ekonomi, tercermin dari data ekspor tumbuh +27% YoY di Juni mencapai rekor USD412 miliar didukung oleh ekspor produk berhubungan dengan teknologi.
Di domestik, S&P Global Ratings mempertahankan rating Indonesia di 'BBB' dengan outlook stabil. S&P menilai positif rekam jejak disiplin fiskal Indonesia dan memperkirakan defisit fiskal akan tetap dijaga di bawah 3% dari PDB. Kabar ini direspons positif oleh pasar dan mendukung penguatan Rupiah +0.89% terhadap USD ke level 17895. IDX menambah 37 emiten dalam daftar high shareholding concentration (HSC) menjadi total 51 emiten. IDX menambahkan kriteria price impact ratio bagi saham dengan kapitalisasi pasar di atas IDR10 triliun, sebagai screening tambahan, dan menekankan bahwa saham dalam HSC tidak bisa masuk dalam indeks utama seperti LQ45, IDX80, dan IDX30. IHSG menguat +4.34% pekan lalu dengan investor asing mencatat pembelian bersih IDR448 miliar. Indeks BINDO menguat +0.14% dengan imbal hasil SBN 10Y naik dari 7.23% ke 7.25%. Rata-rata imbal hasil SRBI 12-bulan dalam lelang Jumat turun ke 7.64% dari pekan sebelumnya 7.67% seiring dengan Rupiah yang menguat +0.5% ke level 17895 per USD. Pekan ini pasar menantikan rapat Bank Indonesia, dengan konsensus memperkirakan BI Rate tetap di 5.75%.
IWH: Konflik Selat Hormuz dan harga energi kembali menjadi perhatian
Investment Weekly Highlights
Monthly Market Review Juni 2026
Monthly Market Review
Seeking Alpha Juli 2026: Stabilitas dan konsistensi kebijakan jadi harapan penopang kinerja pasar
Seeking Alpha