24 Agustus 2026
Pasar saham Amerika Serikat melemah pekan lalu di tengah naiknya yield US Treasury (UST) yang membebani selera investasi pasar. Yield UST 30Y naik ke kisaran 5.30%, mencapai level tertinggi sejak 2008, dan yield 10Y juga naik dari 4.69% ke 4.73%. Kenaikan yield UST dipengaruhi postur fiskal AS, meningkatnya emisi utang, serta risiko inflasi dari harga energi yang persisten tinggi di tengah konflik Iran. Harga minyak kembali menembus level USD90 per barel, di tengah komentar Presiden Trump yang akan melancarkan "economic warfare" terhadap Iran, mengindikasikan konflik berkepanjangan dapat terus terjadi. Sementara itu kementerian keuangan AS menyatakan akan meningkatkan besaran buyback US Treasury tenor 10Y hingga 30Y untuk mendukung tingkat yield, yang meredakan kekhawatiran pasar secara sementara. Indeks S&P 500 melemah -1.43% pekan lalu. Pekan ini pasar akan memperhatikan data inflasi PCE AS dan pidato dari Fed Chair Warsh pada simposium Jackson Hole untuk mengevaluasi potensi kenaikan suku bunga The Fed.
Pasar saham kawasan Asia bergerak fluktuatif pekan lalu dengan indeks MSCI Asia Pacific turun -0.35%. Naiknya harga minyak dunia dan yield UST menekan selera investasi di pasar terutama di sektor growth stock seperti IT dan Industrial. Data ekonomi China mengecewakan dengan data produksi industri bulan Juli tercatat tumbuh 4.5% YoY dan penjualan ritel tumbuh +0.6% - keduanya di bawah ekspektasi – sementara pengangguran justru naik ke 5.2%. Sementara itu SK Hynix dan Samsung Electronics mengumumkan program untuk meningkatkan shareholder return, dengan SK Hynix berencana melakukan buyback saham senilai KRW40 triliun, sementara Samsung rencana dividen tunai senilai KRW30 triliun di 3Q, serta buyback KRW15 triliun untuk remunerasi pegawai. Inflasi Jepang meningkat ke level +1.9% YoY di Juli dan inflasi inti juga naik ke +1.9% YoY, sehingga mendorong ekspektasi BOJ akan melanjutkan kenaikan suku bunga.
Di domestik, pasar saham dan obligasi menguat pekan lalu merespons RAPBN 2027 yang mengindikasikan komitmen disiplin fiskal dari pemerintah. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2027 yang konservatif di 2.4% dari PDB. Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5.75% sesuai dengan ekspektasi pasar, dan menyatakan fokus kebijakan saat ini tetap untuk menjaga stabilitas Rupiah. Sikap ini memberi sinyal kontinuitas dari BI pasca mundurnya Perry Warjiyo dari posisi gubernur Juli lalu. BI mengumumkan perluasan insentif swap lindung nilai, mengindikasikan preferensi untuk mengurangi ketergantungan pada SRBI untuk menjaga stabilitas Rupiah. Pasar merespons positif postur kebijakan BI dengan indeks BINDO +0.81% pekan lalu dan imbal hasil SBN 10Y turun dari 7.18% ke 6.95%, dan tenor pendek 2Y turun dari 6.83% ke 6.64%. Rata-rata yield SRBI 12-bulan dalam lelang Jumat lalu turun ke 7.36% dari pekan sebelumnya 7.59%. IHSG menguat +1.93% dengan sektor material dan energi menguat tertinggi. Investor asing mencatat pembelian bersih IDR2.2 triliun di pasar saham.
IWH: RAPBN 2027 disambut pasar dengan netral
Investment Weekly Highlights
Monthly Market Review Juli 2026
Baca selengkapnyaSeeking Alpha Agustus 2026: Menjaga Daya Tahan Portofolio di Tengah Gelombang Pasar
Seeking Alpha