Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Bukan untuk umum.
ULASAN MAKROEKONOMI
Inflasi umum bulan Juli tercatat sebesar 2,9% YoY, turun dibandingkan dengan bulan sebelumnya 3,3%. Penurunan ini terutama didorong oleh melandainya inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi 3,0% YoY dari 4,7% pada Juni, seiring turunnya harga pangan di tengah panen raya. Mengecualikan emas, inflasi inti sedikit naik ke 2,3% YoY dari 2,2% di bulan Juni, didorong oleh pelemahan Rupiah dan kenaikan harga produsen. Ke depannya, inflasi pangan diperkirakan kembali meningkat seiring potensi dampak El Nino yang lebih kuat.
Neraca perdagangan bulan Juni tercatat defisit -USD0,5 miliar, lebih kecil dibandingkan defisit USD-1,6 miliar di bulan Mei. Mengecilnya defisit terutama ditopang oleh kenaikan tajam ekspor minyak sawit mentah yang mengindikasikan bahwa pelemahan pada Mei bersifat sementara. Ekspor bulanan Juni naik 9,7% MoM, berbalik dari kontraksi -8,3% pada di bulan sebelumnya. Secara tahunan, ekspor tumbuh 8,8% YoY, membaik dari angka bulan sebelumnya -5,7% YoY. Kenaikan tajam ini dikontribusi terutama oleh ekspor minyak sawit mentah sebesar USD1,4 miliar, naik 64% MoM dibandingkan kontraksi -27% pada Mei, kemungkinan mencerminkan normalisasi setelah gangguan sementara akibat sentimen negatif terhadap kebijakan ‘ekspor satu pintu’. Di sisi lain, impor meningkat 4,4% MoM - setelah di bulan Mei turun -1,6% - setara dengan pertumbuhan 34,2% YoY dari bulan sebelumnya 22,2% YoY. Kenaikan impor terutama berasal dari impor nonmigas yang naik 5,2% MoM dari -1,5%, terutama didorong oleh impor bahan baku.
Pertumbuhan PDB kuartal kedua 2026 tercatat 5,3% YoY, turun dari 5,6% kuartal sebelumnya dan juga kuartal keempat 2025 di 5.4%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat ke 5,1% YoY dari sebelumnya 5,5%, sementara belanja pemerintah tumbuh 16,0% YoY, dibandingkan 21,8% pada di kuartal terakhir 2025, terutama akibat turunnya belanja bahan mentah. Investasi meningkat ke 6,9% YoY dari 6,0%, didukung oleh belanja modal. Impor naik 8,8% YoY dari 7,2%, kenaikan yang lebih rendah dari ekspektasi, sementara ekspor naik ke 4,1% dari 0,9%, sehingga kontribusi ekspor bersih di PDB sedikit membaik menjadi -0,8ppt dari kuartal sebelumnya -1,0 ppt.
Sektor manufaktur bulan Juli 2026 membaik seiring kenaikan PMI ke level 50,2 dari sebelumnya 46,9. Perbaikan ini didorong oleh peningkatan produk jadi dan stabilisasi pesanan baru, seiring membaiknya permintaan domestik, sementara itu untuk pertama kalinya dalam 5 bulan dunia bisnis juga mulai kembali menambah tenaga kerja baru. Namun pemulihan masih belum merata, pesanan ekspor masih tetap terkontraksi untuk bulan kelima berturut-turut, sementara aktivitas pembelian juga masih lemah dan biaya bahan baku tetap tinggi di tengah turunnya tekanan inflasi.
PASAR SAHAM
Setelah berbulan-bulan terkoreksi, di bulan Juli pasar saham Indonesia berbalik naik 10,5% mengungguli pasar global (MSCI World 0,46%), Asia Pasifik (MSCI Asia Pacific ex Japan -2,55%), dan kawasan berkembang (MSCI Emerging Market -3,31%). Pasar menyambut positif kebijakan pemerintah yang lebih akomodatif, termasuk penekanan pada fleksibilitas anggaran (seperti penurunan anggaran program MBG dan Koperasi Desa. Keputusan S&P mempertahankan outlook peringkat kredit Indonesia juga menjadi katalis positif. Setelah berbulan-bulan arus dana keluar dari Indonesia, di bulan Juli investor asing mencatatkan pembelian bersih senilai USD88,5 Juta. Namun penguatan mulai mereda pada pekan terakhir Juli akibat ketidakpastian terkait pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI). Seluruh sektor mencatat kenaikan, dengan material dasar (+19,3%) dan Energi (+15,3%) menjadi yang terunggul, sementara transportasi (+2,4%) naik paling minim.
Dinamika harga energi dan keputusan The Fed menjadi beberapa faktor utama yang memengaruhi inflasi global, kebijakan moneter, dan pasar keuangan. Dari sisi domestik, pengelolaan fiskal yang kuat serta arah kebijakan yang jelas tetap penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Posisi saham Indonesia dalam indeks MSCI masih menjadi sumber ketidakpastian karena proses peninjauan yang kembali diperpanjang sampai November. Penurunan status pasar saham Indonesia ke frontier market bukan merupakan skenario dasar kami, mengingat regulator telah melakukan sejumlah reformasi untuk merespons perhatian MSCI. Ketika volatilitas pasar yang tinggi mereda ke depan, kami memperkirakan fundamental Indonesia yang kuat, termasuk kekayaan komoditas dan ketergantungan yang relatif rendah terhadap ekspor akan kembali mendukung minat investor asing terhadap Indonesia dalam jangka menengah panjang.
PASAR OBLIGASI
Pasar obligasi domestik menguat tipis pada bulan Juli, tercermin dari BINDO Index yang mencatat kenaikan bulanan sebesar +0.02%, membuat kinerja tahun berjalan menjadi -2.53%. Imbal hasil SBN 10 tahun naik 19bps dari 7.13% ke 7.32%, sejalan dengan pergerakan imbal hasil US Treasurytenor 10 tahun yang meningkat 26bps dari 4.47% ke 4.74%. Alhasil selisih imbal hasil SBN dan UST sama-sama tenor 10 tahun menyempit dari 266bps ke 258bps, namun masih tergolong lebar dibandingkan rata-rata selisih 1 tahun sebesar 229bps.
Beberapa hal yang memengaruhi kinerja pasar obligasi bulan Juli adalah tensi AS – Iran yang tak kunjung reda, kebijakan The Fed dan BI, afirmasi rating dari S&P, serta pengunduran diri Gubernur BI. Konflik AS-Iran yang belum terselesaikan, ditandai oleh gencatan senjata yang kemudian kembali diikuti eskalasi perang, membuat harga minyak naik kembali ke kisaran USD90 per barel, mendorong potensi kenaikan inflasi. Di bulan Juli lalu The Fed mempertahankan suku bunga di level 3.50% - 3.75%, level yang dipertahankan selama 5 bulan terakhir. Di lain pihak data ekonomi AS yang beragam disertai inflasi yang masih tinggi memperkuat komitmen Ketua The Fed Kevin Warsh yang menyatakan siap memperketat kebijakan apabila risiko inflasi tetap berlanjut.
Dari dalam negeri, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5.75% dan mengumumkan tambahan instrumen kebijakan lainnya, mencakup perluasan insentif Giro Wajib Minimum (GWM) bagi perbankan yang mengurangi kepemilikan obligasi dan menyalurkannya menjadi kredit ke sektor-sektor prioritas, serta penguatan fasilitas swap lindung nilai valuta asing untuk menarik arus dana asing. Positifnya di bulan yang sama S&P Global Ratings mengafirmasi peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Sementara itu di akhir bulan Gubernur BI Perry Warjiyo mengundurkan diri karena alasan pribadi. Berita pengunduran diri tersebut menekan pasar dengan imbal hasil SBN 10 tahun naik tipis dari 7.35% ke 7.37%, sementara Rupiah melemah hingga menembus level IDR 18 ribu per Dolar AS.
Dari pasar perdana khususnya lelang reguler SBN, minat pada lelang SUN membaik dibandingkan bulan sebelumnya, masing-masing sebesar IDR55.09 triliun dan IDR67.89 triliun mendekati rata-rata tahun 2026 sebesar IDR64 triliun. Selain itu, minat pada lelang SBSN juga meningkat menjadi IDR32.47 triliun dan IDR24.88 triliun, mendekati rata-rata 2026 sebesar IDR30 triliun. Dari pasar obligasi ritel, pemerintah menerbitkan ORI030T3 tenor 3 tahun dengan kupon 6.90% dan ORI030T6 tenor 6 tahun dengan kupon 7.00%, dengan total penerbitan sebesar IDR40 triliun, jauh di atas target awal sebesar IDR30 triliun.
Investor asing tetap menjadi pembeli bersih pada bulan Juli sebesar IDR6.79 triliun sehingga kepemilikan asing naik menjadi 12.91% dibandingkan dengan bulan Juni di level 12.75%. Sepanjang bulan Juli, pembeli bersih terbesar adalah BI yang menambah kepemilikannya sebesar IDR6.95 triliun, sehingga porsi kepemilikan meningkat menjadi 25.06%.
Kurva imbal hasil membentuk pola bearish flattening, seiring pelemahan obligasi tenor 5 tahun yang lebih dalam dibandingkan tenor lainnya. Sebaliknya, imbal hasil tenor 2 tahun turun merespons pernyataan BI yang berniat mengurangi penerbitan dan menurunkan imbal hasil SRBI.
Sehubungan dengan libur nasional Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, kantor kami tidak beroperasi pada Senin, 17 Agustus 2026 dan akan kembali beroperasi pada Selasa, 18 Agustus 2026. Selengkapnya
View more
Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI.Selengkapnya
View more
Informasi libur
Sehubungan dengan libur nasional Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, kantor kami tidak beroperasi pada Senin, 17 Agustus 2026 dan akan kembali beroperasi pada Selasa, 18 Agustus 2026. Selengkapnya
View more
Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI.Selengkapnya