21 September 2026
Pasar saham Amerika Serikat bergerak fluktuatif pekan lalu di tengah kombinasi kebijakan moneter yang lebih ketat, volatilitas harga minyak, serta yield obligasi US Treasury yang tinggi. Faktor utama penggerak pasar adalah keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3.75%-4.00%, kenaikan pertama sejak 2023. The Fed juga mengindikasikan kemungkinan satu kali kenaikan tambahan pada akhir 2026, yang sempat mendorong imbal hasil Treasury 10 tahun mencapai 5.04%, level tertinggi sejak 2007. Pasar juga dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan gangguan infrastruktur energi Arab Saudi. Kekhawatiran bahwa harga energi yang lebih tinggi dapat memperlambat penurunan inflasi meningkatkan sensitivitas investor terhadap prospek suku bunga. Namun sentimen membaik setelah laporan menunjukkan kerusakan infrastruktur tidak separah yang diperkirakan. Indeks S&P 500 turun -0.08% dan yield UST 10Y naik dari 4.96% ke 4.99%.
Pasar Asia bergerak beragam sepanjang pekan dengan perhatian investor tertuju pada kebijakan suku bunga The Fed dan harga minyak dunia. Indeks MSCI Asia Pacific melemah -0.62% dengan sektor energi melemah terdalam, sementara sektor IT dan kesehatan menopang kinerja pasar. Sektor IT bergerak relatif positif didukung oleh komentar dari CEO Nvidia yang menyatakan penjualan chip Nvidia akan tumbuh dua kali lipat di tahun depan. Bank sentral Jepang (BOJ) menaikkan suku bunga 25bps sesuai ekspektasi pasar. BOJ mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk menjaga laju inflasi tetap pada target bank sentral di 2%. Sementara itu data ekonomi China mengecewakan, dengan penjualan ritel +0.4% YoY di Agustus, turun dari bulan sebelumnya dan juga lebih lemah dari ekspektasi. Selain itu tingkat pengangguran naik ke 5.3% di luar ekspektasi yang memperkirakan stabil di 5.2%.
Di domestik, Presiden Prabowo melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Suahasil menyatakan arahan khusus dari Presiden adalah untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara. Melihat pengalaman panjang Suahasil dalam pengelolaan keuangan negara, kami memandang penunjukan ini sebagai sinyal komitmen pemerintah terhadap kredibilitas fiskal. Pemerintah melaporkan defisit APBN hingga Agustus 2026 mencapai IDR240.1 triliun (0.93% dari PDB), sedikit melebar dari posisi Juli 2026 di defisit 0.91%, namun lebih baik dari posisi Agustus 2025 di defisit 1.35%. Penerimaan negara tumbuh +25.4% YoY, sementara belanja negara tumbuh +17.1% YoY. IHSG melemah -1.53% pekan lalu dengan investor asing mencatat penjualan bersih IDR2.9 triliun. Indeks obligasi BINDO naik +0.04% dengan yield SBN 10Y turun dari 7.15% ke 7.12%. Pekan ini pasar menantikan rapat Bank Indonesia, dengan proyeksi konsensus Bloomberg per Senin pagi BI Rate akan bertahan di 5.75%.
IWH: Kenaikan harga minyak, yield UST, dan ekspektasi Fed Funds Rate
Investment Weekly Highlights
Seeking Alpha September 2026: Perbaikan telah terlihat, kepercayaan masih harus dibangun
Seeking Alpha
Monthly Market Review Agustus 2026
Baca selengkapnya