Skip to main content
Back

Kenaikan harga minyak, yield UST, dan ekspektasi Fed Funds Rate

14 September 2026


Pasar saham Amerika Serikat melemah pekan lalu di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi dan risiko geopolitik. Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan berlanjutnya ketegangan antara AS dan Iran, mendorong harga minyak melonjak hingga mendekati USD110 per barel. Kenaikan harga energi memicu risiko inflasi yang lebih persisten dan mendorong kenaikan yield US Treasury. Data ekonomi turut memperkuat sentimen tersebut. Inflasi produsen (PPI) dan inflasi inti konsumen (core CPI) menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi, sehingga pasar semakin yakin bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada rapat FOMC pekan ini. Inflasi inti melebihi ekspektasi di 0.3% MoM (vs proyeksi konsensus 0.2%), dan data PPI naik ke level 5.4% YoY di Agustus melebihi ekspektasi 5.3%. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed berdasarkan Bloomberg meningkat signifikan ke level 87%setelah rilis data inflasi. Indeks S&P 500 melemah -0.80% pekan lalu dan imbal hasil UST 10Y naik dari 4.78% ke 4.96%.

Pasar saham kawasan Asia melemah pekan lalu dibayangi oleh kenaikan yield US Treasury dan harga minyak dunia. Indeks MSCI Asia Pacific turun -0.55% dengan sektor kesehatan melemah terdalam, sementara sektor komunikasi dan IT menjadi penopang kinerja indeks. Sentimen di sektor IT ditopang oleh OpenAI yang merilis model AI baru, Astra, yang dipandang akan membutuhkan kapasitas lebih untuk memori dan semikonduktor lainnya. Selain itu laporan earnings Oracle  menunjukkan data penjualan dari segmen cloud computing yang melebihi ekspektasi, dan Microsoft juga berencana untuk meningkatkan kapasitas data center tiga kali lipat hingga 2032 untuk memenuhi permintaan cloud computing. Pemerintah China mengumumkan tambahan modal sebesar RMB360 miliar untuk sejumlah bank dan institusi keuangan milik negara guna memperkuat ketahanan sistem keuangan. Meski positif untuk stabilitas jangka panjang, pasar merespons hati-hati karena adanya penerbitan saham baru. Sementara itu penguatan nilai tukar Yen berlanjut seiring meningkatnya ekspektasi bahwa BOJ akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Penguatan Yen menjadi sentimen negatif bagi sektor eksportir yang memiliki kontribusi besar terhadap pasar saham Jepang.

Pasar saham domestik melemah di tengah volatilitas pasar global. IHSG turun -1.43% pekan lalu dengan sektor teknologi dan konsumen non-primer melemah terdalam. Investor asing mencatat penjualan bersih IDR3.36 triliun di pasar saham. Sementara itu indeks obligasi BINDO ditutup +0.05% pekan lalu walau yield SBN 10Y naik dari 7.11% ke 7.15%. Rata-rata yield SRBI 12-bulan dalam lelang Jumat lalu turun ke 6.93% dari sebelumnya 7.0%, konsisten dengan komunikasi BI untuk menurunkan yield SRBI. Nilai tukar Rupiah relatif stabil di tengah kondisi pasar global yang fluktuatif, menguat +0.21% terhadap USD ke level 17600. Arus dana asing yang kembali masuk ke pasar obligasi serta pelemahan USD menjadi faktor penopang bagi Rupiah. Cadangan devisa naik ke USD146.5 miliar di Agustus didukung penerimaan pajak dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.
 


 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • Seeking Alpha September 2026: Perbaikan telah terlihat, kepercayaan masih harus dibangun

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
  • Monthly Market Review Agustus 2026

    Baca selengkapnya
  • IWH: Data tenaga Kerja AS memperkuat potensi kenaikan suku bunga AS

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
Lihat semua

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more