Skip to main content
Back

Data tenaga Kerja AS memperkuat potensi kenaikan suku bunga AS

7 September 2026


Pasar saham Amerika Serikat bergerak fluktuatif pekan lalu dipengaruhi harga energi yang persisten tinggi, naiknya yield US Treasury, dan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pasca rilis data tenaga kerja AS yang kuat. Data nonfarm payroll mencatat 162 ribu perekrutan tenaga kerja, naik dari sebelumnya 21 ribu dan juga lebih kuat dari ekspektasi 55 ribu, mengindikasikan sektor tenaga kerja yang solid dan memperkuat potensi kenaikan suku bunga. Di sisi lain, pejabat The Fed Christoper Wallace memiliki pandangan yang berimbang, bahwa suku bunga dapat bertahan apabila inflasi menunjukkan sinyal mereda. Waller mengindikasikan The Fed akan mempertimbangkan laporan inflasi yang dirilis pekan ini dalam keputusan kebijakan suku bunga. Sementara itu harga minyak Brent naik +7.8% ke level USD96 per barel yang meningkatkan risiko inflasi global. Indeks S&P 500 +0.09% pekan lalu dan yield UST 10Y naik dari 4.72% ke 4.78%.

Pasar saham kawasan Asia bergerak fluktuatif di tengah tekanan sentimen geopolitik dan suku bunga global. Indeks MSCI Asia Pacific +0.42% pekan lalu dengan sektor finansial menguat tertinggi, sementara sektor material melemah terdalam. Jepang menjadi salah satu pasar yang tertekan, dengan indeks Nikkei turun akibat kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi pengetatan kebijakan Bank of Japan, serta penguatan Yen yang membebani perusahaan eksportir. Sementara itu, pasar China menunjukkan kinerja variatif, dengan saham teknologi dan AI melemah di pasar domestik, sementara pasar Hong Kong menguat menjelang akhir pekan. Data ekonomi China mengecewakan dengan PMI manufaktur di 49.8 di Agustus, dan PMI non-manufaktur di 49.0, keduanya berada di zona kontraksi yang mengindikasikan tekanan di aktivitas domestik. Sementara itu India mencatat pertumbuhan ekonomi +7.8% YoY di 2Q-2026, mengungguli ekspektasi 7.3%, didukung oleh pertumbuhan di sektor manufaktur dan jasa finansial.

Di domestik, inflasi Agustus naik ke level +3.19% YoY, melebihi ekspektasi konsensus di 3.12%. Inflasi inti juga naik melebihi ekspektasi ke level +2.92% YoY. Kenaikan inflasi dipengaruhi oleh bahan pangan seperti daging ayam, ikan, minyak goreng, beras, dan tembakau. Tingkat inflasi tetap di bawah target BI, namun diperkirakan akan bertahan di level tinggi dipengaruhi menguatnya risiko El Nino. Sementara itu neraca perdagangan mencatat surplus USD122 juta di Juli, mengakhiri tren defisit dua bulan beruntun. Ekspor tumbuh +6.05% YoY dan impor +27.02% YoY. Menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan tekanan inflasi domestik mendorong probabilitas kenaikan BI Rate lanjutan. Median proyeksi konsensus Bloomberg untuk tingkat BI Rate di 4Q-2026 naik dari 5.75% menjadi 6.0%. IHSG ditutup +1.82% pekan lalu dengan investor asing mencatat pembelian bersih IDR2.3 triliun. Sektor industrial dan energi mencatat penguatan tertinggi di pasar. Sementara itu indeks BINDO turun -0.16% dengan imbal hasil SBN 10Y naik dari 7.00% ke 7.11%.
 


 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • Pasar Asia: Saatnya lirik potensi pertumbuhan dari negara tetangga

    Baca selengkapnya
  • IWH: The Fed hawkish seiring data inflasi yang persisten

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • IWH: Kenaikan yield US Treasury membayangi pasar

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
Lihat semua

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more