Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Bukan untuk umum.
ULASAN MAKROEKONOMI
Inflasi umum bulan Agustus naik ke 3.2% YoY dari bulan sebelumnya 2.9%. Pemicu utama kenaikan adalah komponen makanan & minuman dan tembakau yang naik dari 3.0% ke 3.9% YoY. Inflasi inti juga sedikit naik dari 2.8% di Juli menjadi 2.9% YoY, dipicu oleh kenaikan biaya pendidikan dan harga emas. Ke depannya, inflasi pangan diperkirakan masih meningkat akibat datangnya El Nino.
Setelah beberapa kali defisit, di bulan Juli neraca perdagangan tercatat surplus USD130 juta. Baik ekspor maupun impor tumbuh lebih kecil dari bulan sebelumnya. Ekspor naik 3.0% MoM (dari 9.7% di Juni), atau 6.1% YoY dari sebelumnya 8.6%, dipicu oleh ekspor besi baja dan mesin. Impor mengalami kenaikan moderat 0.7% MoM dibandingkan bulan Juni 4.4%, membuat kenaikan tahunan tercatat sebesar 27% YoY dibandingkan dengan bulan sebelumnya 34%, dipicu oleh penurunan impor migas dan kimia.
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5.75% dalam Rapat Dewan Gubernur pertama yang dipimpin oleh Gubernur interim (saat itu) Destry Damayanti. Keputusan ini ditopang oleh stabilitas Rupiah dan inflasi bulan Juli yang terjaga di angka 2.88% YoY, masih dalam kisaran target BI. Bank sentral mengindikasikan ke depannya akan menahan kenaikan imbal hasil SRBI, dan akan lebih fokus menawarkan insentif lindung nilai valuta asing.
PASAR SAHAM
Pasar saham masih melanjutkan kenaikan di bulan Agustus dengan penguatan 4.64%, mengungguli pasar global (MSCI World 2.48%), Asia Pasifik (MSCI Asia Pacific ex Japan 3.01%) dan pasar kawasan berkembang (MSCI Emerging Market 3.21%). Komitmen disiplin fiskal pemerintah yang tertuang pada RAPBN 2027 dan kebijakan BI mempertahankan BI rate ikut menopang sentimen investor. Penetapan gubernur BI dan turunnya imbal hasil SRBI juga disambut positif. Investor asing mencatatkan pembelian bersih di pasar saham USD68.1 Juta. Sektor bahan dasar naik 10.1%, dan energi (naik 9.9%) menjadi yang terunggul, sementara sektor teknologi paling melemah -2.2%.
Dinamika harga energi dan keputusan The Fed menjadi beberapa faktor utama yang memengaruhi inflasi global, kebijakan moneter, dan pasar keuangan. Dari sisi domestik, pengelolaan fiskal yang kuat dan arah kebijakan yang jelas sangat penting untuk menopang kepercayaan pasar. Posisi saham Indonesia dalam indeks MSCI masih menjadi sumber ketidakpastian, seiring proses peninjauan yang diperpanjang sampai November. Kami perkirakan saham Indonesia tidak akan mengalami reklasifikasi menjadi frontier market mengingat regulator telah melakukan sejumlah reformasi sebagai respons kekhawatiran MSCI. Ketika volatilitas pasar mulai reda, fundamental Indonesia yang kuat - termasuk kekayaan komoditas dan ketergantungan ekspor yang relatif rendah - akan kembali mendukung minat investor asing terhadap Indonesia dalam jangka menengah panjang.
PASAR OBLIGASI
Pasar obligasi domestik mencatat penguatan pada Agustus, dengan BINDO Index naik 2.12% MoM membuat kinerja tahun berjalan tercatat -0,46% YTD. Imbal hasil SBN 10 tahun turun 34bps dari 7.32% ke 6.98%, berlawanan dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang naik tipis 2bps menjadi 4.75%. Akibatnya, selisih imbal hasil SBN dan UST tenor 10 tahun menyempit dari 258bps menjadi 223bps. Kinerja pasar dipengaruhi oleh sejumlah faktor global dan domestik, termasuk kebijakan pembelian kembali obligasi yang diimplementasi menteri keuangan AS, pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh, eskalasi ketegangan di Timur Tengah, perubahan kepemimpinan dan kebijakan moneter BI, pidato tahunan nota keuangan dan RAPBN Indonesia, serta demonstrasi besar pada Agustus.
Rencana Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk membeli kembali obligasi pemerintah jangka panjang dan peningkatan penerbitan surat utang jangka pendek sempat mendorong penurunan imbal hasil US Treasury. Namun, tren tersebut berbalik setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pandangan hawkish dalam Simposium Jackson Hole. Meskipun data inflasi membaik, tren yang ada dinilai belum menunjukkan kemajuan berarti untuk mencapai target The Fed 2%. Imbal hasil US Treasury pun kembali meningkat hingga menyentuh level tertinggi di bulan berjalan, sempat bertengger di level 4,75%. Pada saat yang sama, ketegangan AS - Iran yang masih berlanjut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan tekanan pada nilai tukar berbagai kawasan.
Dari dalam negeri, pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI direspons positif oleh pasar sekaligus memperkuat persepsi terhadap independensi BI. BI mempertahankan suku bunga acuan di 5.75% dan melanjutkan penurunan suku bunga serta penerbitan SRBI. Imbal hasil rata-rata tertimbang SRBI tenor 12 bulan turun dari 7.64% ke 7.00%. Sementara itu target defisit APBN 2027 ditetapkan sebesar 2.4% dari PDB, dengan penerbitan obligasi neto sebesar IDR779.9 triliun, naik dari estimasi tahun sebelumnya IDR736.6 triliun. Reaksi pasar cukup terbatas dengan imbal hasil SBN tenor 10 tahun cukup stabil bertahan di 7.06%. Yield SBN 10 tahun kemudian turun ke bawah 7.00% dan Rupiah menguat ke kisaran IDR17.700 per Dolar AS seiring dampak demonstrasi akhir Agustus yang tidak separah yang ditakutkan.
Di pasar perdana, permintaan pada lelang SUN terus menguat. Penawaran masuk pada dua lelang sepanjang Agustus mencapai IDR70.72 triliun dan IDR84.76 triliun, melampaui rata-rata 2026 di kisaran IDR66 triliun. Permintaan pada lelang SBSN juga membaik, dengan penawaran masuk sebesar IDR39.08 triliun dan IDR23.54 triliun, mendekati rata-rata tahun 2026 di IDR31 triliun.
Di bulan Agustus investor asing melanjutkan pembelian bersih sebesar IDR15.35 triliun, mendorong naik persentase kepemilikan dari 12.91% bulan sebelumnya menjadi 12.98%. Sementara itu pembelian bersih terbesar berasal dari kategori investor lainnya (perusahaan sekuritas, korporasi, yayasan), dengan tambahan kepemilikan sebesar ID56.07 triliun, membuat persentase kepemilikan naik ke 19.13%.
Kurva imbal hasil membentuk pola bullish flattening, dengan imbal hasil tenor 5 tahun turun 45bps mengungguli semua tenor lainnya. Penurunan imbal hasil ini sejalan dengan rencana bank sentral untuk menurunkan penerbitan dan imbal hasil SRBI.