Skip to main content
Back

Seeking Alpha Agustus 2026: Menjaga Daya Tahan Portofolio di Tengah Gelombang Pasar

12 Juli 2026

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Portfolio Manager, Fixed Income, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Laras Febriany.

Narasi higher for longer kembali  menguat seiring kenaikan harga energi dan inflasi dunia separuh tahun 2026 ini. Ke mana suku bunga global akan mengarah?

Di bulan Juni lalu AS – Iran sepakat berunding untuk mencapai perdamaian. Namun konflik senjata justru kembali terjadi di tengah periode negosiasi yang sedang berjalan, dan sampai saat ini berita dari Timur Tengah terus silih berganti antara optimisme perdamaian dengan peningkatan konflik senjata. Selama tensi geopolitik, pergerakan harga minyak, dan potensi inflasi masih tidak jelas, kami rasa bank-bank sentral dunia juga masih akan mempertahankan sikap waspada lebih siap mengantisipasi kenaikan dibandingkan dengan menurunkan suku bunga, seiring risiko peningkatan inflasi global yang masih terus membayangi, seperti yang terjadi di bulan Juli kemarin di mana The Fed mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) di 3,50 – 3,75%, mencerminkan sikap kehati-hatian yang masih dipertahankan, sejalan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan akan adanya kenaikan kembali FFR di sisa tahun 2026 ini.

Bagaimana kondisi Rupiah saat ini, dan apa artinya bagi pasar obligasi?

Rupiah mulai menunjukkan tanda stabilisasi, dalam arti pelemahan tidak lagi berlangsung secara akseleratif. Namun stabilitas ini perlu dilihat dengan hati-hati karena dinamika global yang masih sangat dinamis.  Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia yang berperan sebagai bantalan juga masih relatif rendah dibandingkan posisi sebelumnya. Posisi neraca transaksi berjalan pun serupa, diperkirakan kondisi defisit akan terus terjadi sampai akhir tahun walaupun sepertinya periode tersulit telah terlewati di kuartal kedua lalu. Bagi pasar obligasi, stabilitas Rupiah sangat penting karena menjadi salah satu pertimbangan utama investor asing dalam masuk kembali ke pasar SBN. Jika Rupiah dapat bergerak lebih stabil, maka premi risiko dapat menurun dan daya tarik obligasi Indonesia akan kembali meningkat. Kita berharap kondisi stabilitas ini dapat konsisten berlanjut.

Setelah kenaikan agresif 1% Mei – Juni, di bulan Juli Bank Indonesia (BI) mulai mengerem pengetatan dengan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Sinyal apa yang Anda tangkap dari kebijakan terakhir?

Langkah agresif BI menunjukkan prioritas kebijakan untuk menjaga stabilitas Rupiah. Sinyal lain yang kami perhatikan adalah stabilisasi imbal hasil SRBI dan penerbitannya yang lebih terkendali, tidak lagi terlalu agresif. Hal ini dapat diartikan bahwa BI sudah lebih nyaman dengan kebijakan pengetatan dan dampak yang terjadi dalam mengupayakan stabilitas Rupiah. Walaupun demikian, pasar masih akan mencermati kesinambungan kebijakan, terutama terkait pergantian Gubernur BI. Bagi pasar obligasi, kredibilitas dan konsistensi kebijakan moneter menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor. Ruang pengetatan tambahan juga sudah mulai terbatas, dan dapat membuat BI menghadapi kondisi yang dilematik jika ke depannya Rupiah mendapat tekanan pelemahan lanjutan.

Adakah faktor yang dapat mendukung daya tarik obligasi Indonesia saat ini?

Daya tarik obligasi Indonesia terutama berasal dari valuasi relatif yang semakin kompetitif. Jika dibandingkan dengan negara-negara berperingkat setara,  imbal hasil  SBN tenor 10 tahun yang ditawarkan Indonesia – dan selisihnya  dengan obligasi negara  Amerika Serikat (UST) tenor yang sama – secara relatif sangat menarik. Hal ini tercermin dari arus dana investor asing  di bulan Juni – Juli yang  mulai kembali masuk ke pasar SBN.  Ini menunjukkan bahwa pada level imbal hasil saat ini, pasar mulai menilai obligasi Indonesia memiliki kompensasi risiko yang lebih menarik. Namun kami tetap menekankan bahwa daya tarik valuasi perlu diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang berkesinambungan, karena faktor seperti harga energi, arah kebijakan BI, kondisi fiskal, dan sentimen global masih dapat membebani sentimen investasi.

PERBANDINGAN PARAMETER INDONESIA DAN NEGARA DENGAN PERINGKAT SETARA

 

Dalam konteks pemulihan persepsi risiko, menurut Anda mana yang lebih dianggap penting oleh investor & lembaga pemeringkat asing, defisit yang terjaga di bawah 3%, atau kepastian arah kebijakan fiskal yang konsisten dan prediktif?

Dari sisi fiskal, realisasi APBN semester pertama tahun ini sebenarnya masih relatif terkendali dan cukup sejalan dengan pola tahun sebelumnya. Revisi target defisit fiskal dari 2,68% ke 2,85% mencerminkan fleksibilitas kebijakan yang ternyata tidak seagresif yang dikhawatirkan sebelumnya, namun tentu saja kita mengharapkan komitmen disiplin fiskal, efisiensi belanja, rekalibrasi & prediktabilitas kebijakan ke depan tetap dilakukan, agar kredibilitas dan persepsi risiko Indonesia di mata investor asing dan lembaga pemeringkat dapat terus memulih.

REALISASI APBN (% PDB)

 


Sumber: Bloomberg, Juli 2026

Setidaknya sampai akhir tahun ini, apa risiko yang harus dicermati oleh investor obligasi?

Ada beberapa risiko yang harus kita cermati. Pertama adalah risiko eksternal dari volatilitas harga minyak dan hubungannya dengan potensi inflasi. Jika harga minyak tetap tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi dan neraca eksternal dapat meningkat. Yang kedua juga masih dari eksternal yaitu iklim suku bunga global, terutama jika The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama dari ekspektasi pasar. Yang ketiga adalah risiko domestik terkait  konsistensi kebijakan, kredibilitas dan independensi BI, kedisiplinan fiskal, dan outlook sovereign rating. Keempat, kita juga tidak boleh mengabaikan perkembangan review MSCI.  Walaupun isu ini lebih terkait pasar saham, dampaknya terhadap sentimen investor asing terhadap Indonesia secara keseluruhan tetap perlu dicermati. Kita harapkan perpanjangan interim freeze MSCI hingga November memberi waktu bagi regulator untuk terus melanjutkan pembenahan, dan transformasi pasar modal yang lebih transparan dapat menjadi faktor positif bagi persepsi investor terhadap keseluruhan pasar modal Indonesia.


Dengan kondisi tersebut, bagaimana strategi pengelolaan portofolio obligasi MAMI saat ini?

Dalam kondisi pasar yang masih fluktuatif, kami mengedepankan pengelolaan portofolio yang aktif, selektif, dan disiplin terhadap risiko. Valuasi obligasi Indonesia memang sudah semakin menarik, tetapi kami tidak melihat ini sebagai satu-satunya alasan untuk menjadi terlalu agresif tanpa mempertimbangkan volatilitas. Pengelolaan portofolio tetap dilakukan secara adaptif, menyesuaikan perkembangan Rupiah, arah kebijakan BI dan The Fed, postur fiskal, pergerakan UST, dan minat investor asing. Alokasi aset investasi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, mempertimbangkan semua potensi dan risiko masing-masing kelas aset serta memanfaatkan momentum pasar. Diversifikasi menjadi kunci penting dalam menjaga tingkat risiko investasi. Dalam hal pengelolaan kelas aset obligasi, strategi investasi difokuskan pada positioning di kurva imbal hasil, pemilihan efek, serta manajemen durasi yang dinamis, guna mengoptimalkan potensi imbal hasil dengan risiko yang terkendali.

Dalam menghadapi volatilitas jangka pendek di tengah ketidakpastian baik dari sisi global maupun domestik, reksa dana obligasi yang memiliki karakteristik defensif dapat menjadi salah satu opsi bagi investor. Reksa dana obligasi juga unggul dari segi fleksibilitas dalam melakukan pencairan atau pembelian kapan saja dengan harga unit yang jelas. Lini reksa dana obligasi MAMI juga memiliki fitur pembagian hasil investasi (PHI) seperti dividen yang dapat dimanfaatkan investor untuk mendapat pendapatan reguler atau untuk reinvestasi ke kelas aset lain tanpa melakukan pencairan reksa dana.


ARUS DANA ASING KE PASAR OBLIGASI INDONESIA (TAHUN BERJALAN, JUTA USD)

Sumber: Bloomberg, Juli 2026

 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • IWH: Pertumbuhan ekonomi 2Q ungguli ekspektasi dan inflasi melandai

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • IWH: The Fed mempertahankan tingkat suku bunga

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • IWH: Eskalasi geopolitik, kenaikan harga minyak, dan volatilitas sektor teknologi global

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Informasi libur

Sehubungan dengan libur nasional Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, kantor kami tidak beroperasi pada Senin, 17 Agustus 2026 dan akan kembali beroperasi pada Selasa, 18 Agustus 2026. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more