Skip to main content
Back

Monthly Market Review Bulan July 2021

9 Agustus, 2021

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

Indikator makroekonomi Indonesia menunjukkan pemulihan di bulan Juli. PDB kuartal 2-2021 tumbuh +7.1% YoY didukung faktor low base dan ekspor yang kuat, serta konsumsi domestik, investasi, dan belanja pemerintah juga membaik. Net ekspor tumbuh +34.9% YoY karena nilai ekpor yang mencapai 110% dibanding level sebelum Covid. Sementara itu permintaan domestik tumbuh +6.6% YoY (dari sebelumnya -1.3% YoY di 1Q21) didukung seluruh komponen (konsumsi, investasi dan belanja pemerintah) tumbuh kuat. Total investasi langsung tumbuh +16.2% YoY di 2Q21, dari +4.3% YoY di 1Q21. Kenaikan ini didukung FDI yang tumbuh +18.0% YoY dan DDI yang tumbuh +12.7% YoY, di mana sektor berorientasi ekspor menjadi penopang FDI dan sektor tersier menopang kinerja DDI. Kami memandang pertumbuhan PDB akan mengalami moderasi di 3Q21 karena adanya restriksi mobilitas, namun kemudian disusul oleh perbaikan di 4Q21. Inflasi bulanan tercatat pada level +0.08% di Juli, sehingga inflasi tahunan pada level +1.52%. Kontributor utama terhadap inflasi adalah pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan. Sementara itu inflasi inti turun ke level +1.40% dari sebelumnya +1.49% di Juni karena efek high base dari kenaikan harga emas tahun lalu.

Di pekan ketiga bulan Juni, Indonesia mengalami gelombang kedua pandemi Covid-19, di mana jumlah kasus dan tingkat keterisian rumah sakit terus meningkat. Pemerintah menerapkan PPKM untuk 3-20 Juli yang kemudian diperpanjang. Untuk menanggulangi peningkatan kasus Covid-19 Pemerintah meningkatkan dana stimulus PEN sebesar IDR45 triliun, dengan anggaran terbesar untuk bantuan sosial (+22%) dan kesehatan (+11%). Stimulus tambahan ini diperkirakan tidak akan memperlebar defisit APBN karena Pemerintah akan merealokasi anggaran dari anggaran pinjaman modal kerja UMKM dan dari pos “belanja lain-lain”. Di 1H21, defisit APBN pada level 1.7% dari PDB, di mana pendapatan fiskal tumbuh +9.1% YoY per 5M21, dan Pemerintah dapat meningkatkan alokasi belanja kesehatan di 2H21 dari pos belanja lain. Menteri Keuangan mengumumkan estimasi pertumbuhan PDB 2021 yang direvisi turun menjadi 3.7%-4.5%, dari sebelumnya 4.5%-5.3%.

 

PASAR SAHAM

Di tengah berbagai ketidakpastian, indeks saham IHSG menguat +1.41% di Juli dan investor asing mencatat pembelian bersih USD67.5 juta. Kinerja tersebut lebih baik dibanding indeks MSCI Asia Pacific ex Japan (-6.84%) dan MSCI Emerging Market (-7.04%). Kinerja IHSG didukung sektor teknologi yang menguat +9.6% MoM, dan konsumer siklikal (+8.2%). Di sisi lain, sektor yang mencatat kinerja terendah adalah sektor konsumer non-siklikal (-6.3%).  

Penanganan pandemi yang efektif, pertumbuhan laba emiten, dan IPO dari perusahaan besar di sektor new economy merupakan potensi katalis bagi pasar, sementara penanganan pandemi yang tidak efektif merupakan risiko terbesar bagi pasar saham. Kondisi makro ekonomi Indonesia lebih baik dibanding di 2013 ketika taper tantrum terjadi. Defisit transaksi berjalan mengecil, inflasi rendah, neraca perdagangan dan peringkat investasi jauh lebih baik. Ekonomi Indonesia lebih kuat menghadapi tekanan eksternal, termasuk taper tantrum apabila terjadi. Penanganan pandemi yang efektif dan pelaksanaan reformasi kebijakan adalah faktor penting untuk meningkatkan keyakinan investor, pasar finansial, dan ekonomi secara keseluruhan ke depannya. Kami percaya bahwa eksposur pada ekonomi Indonesia akan tetap positif dan optimis pada daya tarik investasi jangka panjang di Indonesia.

 

PASAR OBLIGASI 

Indeks pasar obligasi Indonesia, Bloomberg Indonesia Local Sovereign Index, kembali mencatat kinerja positif +1.75% MoM atau +2.61% YTD, di mana imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun turun dari 6.59% ke 6.30% di Juli. Sikap The Fed yang netral sepertinya telah diantisipasi oleh pasar dan The Fed juga menekankan bahwa komunikasi secara gradual dan pengurangan pembelian aset akan dilakukan dengan teratur. Selain itu, perbaikan ekonomi yang lebih kuat juga diperlukan sebelum The Fed melakukan perubahan kebijakan. Aksi short-covering dan memuncaknya data ekonomi AS di Q2 menyebabkan imbal hasil obligasi AS mengalami stabilisasi dan turun ke titik terendah 1.19%, sebelum kembali stabil di kisaran 1.20%-1.30%. Dengan kondisi global tersebut, minat investor asing di obligasi Indonesia tetap kuat. Dari investor lokal, pertumbuhan kredit yang stagnan karena PPKM di Juli menyebabkan likuiditas di pasar finansial yang tinggi dan mendorong pergerakan pasar obligasi yang bullish. Sentimen pasar yang positif juga didukung oleh rencana Pemerintah untuk mengurangi target penerbitan obligasi sebesar IDR283 triliun menjadi IDR924 triliun, 24% lebih rendah dari target awal. Pemerintah menerbitkan 3 seri benchmark baru untuk tenor 5Y, 10Y, dan 20Y yang diperkirakan dapat memperkuat pasar ke depannya.

Namun tantangan tetap ada, karena gelombang kedua COVID-19 dengan varian delta dapat menjadi faktor risiko. Pemerintah menerapkan PPKM untuk membatasi penyebaran varian delta untuk menekan jumlah kasus dan tingkat keterisian rumah sakit. PPKM yang terus diperpanjang meningkatkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi ekonomi dan keyakinan investor. Walau demikian, tingkat inflasi diperkirakan tetap terjaga, dan Bank Indonesia tetap akomodatif dengan menjaga suku bunga acuan pada 3.50% untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Investor asing mencatat pembelian bersih IDR11.53 triliun di Juli, sehingga kepemilikan asing turun menjadi 22.53% dari total obligasi yang diperdagangkan, dari 22.82% di bulan sebelumnya. Diperkirakan obligasi yang jatuh tempo di Juli sebagai faktor yang menyebabkan turunnya posisi asing. Perbankan komersial merupakan penjual terbesar di Juli, turun IDR14.41 triliun, sehingga kepemilikan turun menjadi 24.92%. Sementara itu Bank Indonesia masih menambah posisi, mencatat pembelian bersih IDR2.45 triliun sehingga kepemilikan meningkat menjadi 23.08% dari sebelumnya 23.05%. Asuransi dan dana pensiun merupakan pembeli terbesar di Juli, dengan kepemilikan meningkat menjadi 14.59% dari 14.24%. Reksa dana juga mencatat peningkatan posisi sebesar IDR0.80 triliun,  sehingga kepemilikan naik menjadi 3.18% dari 3.16%. Kepemilikan investor individu dan lain-lain juga naik menjadi 11.71% dari 11.44%

Kurva imbal hasil menunjukkan pola bullish di Juli, dengan imbal hasil obligasi tenor 10-tahun turun 29bps. Imbal hasil obligasi tenor pendek juga turun, di mana tenor 2-tahun dan 5-tahun masing-masing turun 18bps dan 23bps. Sementara itu tenor menengah seperti 15-tahun hanya turun 11bps. Untuk obligasi tenor panjang, imbal hasil obligasi tenor 20-tahun turun 22bps, dan 30-tahun hanya turun 3bps.

 

Unduh Dokumen

  • IDB: BI mempertahankan suku bunga di 6%

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Februari 2024: Dampak penurunan Fed Funds Rate terhadap pasar saham Indonesia

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm