Skip to main content
Back

Menantikan negosiasi plafon utang AS

22 Mei, 2023

​Pekan lalu​

 

Negosiasi kenaikan plafon utang Amerika Serikat menjadi perhatian utama pasar pekan lalu. Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengingatkan batas utang AS dapat tercapai di awal Juni dan plafon utang harus dinaikkan untuk menghindari gagal bayar. Sentimen pasar membaik menjelang akhir pekan setelah Ketua DPR McCarthy berkomentar bahwa kesepakatan dapat tercapai pekan ini. Sementara itu Ketua The Fed Powell mengindikasikan suku bunga sudah mencapai puncak setelah berkomentar bahwa tekanan dari krisis perbankan regional membuat The Fed tidak perlu menaikkan suku bunga lebih tinggi. Indeks S&P 500 ditutup naik 1.65% dan imbal hasil UST 10Y naik dari 3.46% ke 3.65%. Data ekonomi yang dirilis adalah penjualan ritel tumbuh 0.4% MoM, naik dari -0.7% di bulan sebelumnya yang mengindikasikan konsumsi masyarakat tetap kuat. 

 

Pasar saham kawasan Asia bergerak fluktuatif menantikan perkembangan negosiasi plafon utang AS dan data ekonomi China yang mengecewakan. Penjualan ritel China tumbuh 18.4% YoY di April, di bawah ekspektasi 22%, dan produksi industri tumbuh 5.6% YoY, di bawah ekspektasi 11%. Sementara itu pasar saham Jepang menguat mencapai level tertinggi sejak 1989. Daya tarik pasar Jepang meningkat didukung perbaikan tata kelola perusahaan, Yen yang melemah, pertumbuhan ekonomi lebih baik dari ekspektasi, dan valuasi yang rendah. Indeks Topix sepanjang tahun ini telah menguat 14.27%. Secara keseluruhan pasar saham kawasan Asia ditutup naik pekan lalu dengan indeks MSCI Asia Pacific +0.78% pekan lalu.

 

Di pasar domestik, pasar bergerak fluktuatif dengan IHSG melemah 0.11% pekan lalu. Sektor energi mencatat pelemahan terdalam, sementara sektor kesehatan mencatat kinerja terbaik. Investor asing membukukan pembelian bersih IDR900.3 miliar pekan lalu. Berlawanan dengan kinerja saham, pasar obligasi melanjutkan kinerja positif, dengan indeks BINDO menguat 0.33% pekan lalu. Imbal hasil obligasi pemerintah 10Y naik dari 6.39% ke 6.43%. Neraca perdagangan April membukukan surplus lebih besar dibandingkan estimasi, mencapai USD3.9 miliar di mana ekspor mengalami kontraksi -29.40% YoY, sementara impor terkontraksi -22.32% YoY. Neraca perdagangan Indonesia sampai dengan April 2023 mengalami surplus selama 36 bulan berturut-turut.

 

Pekan Ini


Pekan ini pasar memperhatikan data PCE inflasi Amerika Serikat dan risalah pertemuan FOMC bulan Mei. Inflasi PCE diperkirakan tetap resilien di 4.3% YoY, sedikit naik dari bulan sebelumnya 4.2%YoY dipengaruhi harga otomotif bekas dan inflasi sektor jasa yang stabil. Sementara itu risalah FOMC diharapkan memberi warna baru terhadap pandangan kebijakan The Fed. Di domestik, pasar akan memperhatikan kebijakan suku bunga BI, di mana konsensus pasar memperkirakan BI tetap bertahan di 5.75%. Sementara itu neraca pembayaran diperkirakan mencatat surplus USD2.5 miliar.

 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • IDB: BI mempertahankan suku bunga di 6%

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Februari 2024: Dampak penurunan Fed Funds Rate terhadap pasar saham Indonesia

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
Lihat semua


Pekan ini

Pekan ini pasar memperhatikan data PCE inflasi Amerika Serikat dan risalah pertemuan FOMC bulan Mei. Inflasi PCE diperkirakan tetap resilien di 4.3% YoY, sedikit naik dari bulan sebelumnya 4.2%YoY dipengaruhi harga otomotif bekas dan inflasi sektor jasa yang stabil. Sementara itu risalah FOMC diharapkan memberi warna baru terhadap pandangan kebijakan The Fed.
Di domestik, pasar akan memperhatikan kebijakan suku bunga BI, di mana konsensus pasar memperkirakan BI tetap bertahan di 5.75%. Sementara itu neraca pembayaran diperkirakan mencatat surplus USD2.5 miliar.

 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Confirm