10 Maret 2026

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Director & Chief Investment Officer, Fixed Income, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula.
Pasar finansial dibayangi oleh berbagai dinamika di bulan Februari, bagaimana kinerja pasar obligasi di Februari?
Betul dinamika pasar global maupun domestik sangat tinggi di Februari. Dari sisi global terdapat perubahan kebijakan tarif Amerika Serikat setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif resiprokal. Selain itu di akhir bulan pasar juga dikejutkan oleh pecahnya konflik AS – Iran yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak. Di sisi domestik, lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan outlook rating Indonesia dari stabil menjadi negatif, menyoroti bauran kebijakan pemerintah dan postur fiskal. Walau demikian, kinerja pasar obligasi relatif stabil dengan indeks acuan obligasi BINDO mencatat kinerja +0.40%, meskipun imbal hasil SBN 10-tahun naik dari 6.33% ke 6.42%. Sayangnya, eskalasi konflik Iran terus membayangi pasar yang menyebabkan imbal hasil SBN 10Y kembali meningkat ke kisaran 6.60% per 6 Maret.
Ketidakpastian tarif AS kembali mengemuka setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif resiprokal. Bagaimana pandangan Anda terhadap kondisi ini?
Untuk saat ini, dengan asumsi AS menerapkan tarif universal 15% sebagai pengganti, maka tidak ada perubahan signifikan yang terjadi secara keseluruhan. Dalam struktur tarif baru diperkirakan rata-rata tarif efektif AS akan turun dari 15.3% menjadi 13.1%. Bisa terdapat potensi winners dan losers dari perubahan ini, di mana negara-negara yang memiliki perjanjian tingkat tarif di bawah 15% dapat mengalami kenaikan tarif efektif, sebaliknya negara yang memiliki perjanjian tarif di atas 15% dapat mengalami penurunan tarif efektif.
Namun kebijakan tarif pengganti ini hanya akan berlaku selama 150 hari sesuai dengan ketentuan Undang-Undang AS, kecuali Presiden Trump mendapat persetujuan dari Kongres untuk memperpanjang. Jadi faktor ketidakpastian diperkirakan masih ada karena masih terdapat potensi pemerintah AS harus mengganti struktur tarif kembali setelah masa 150 hari berakhir.
Bagaimana konflik Iran mempengaruhi harga minyak dan apa dampaknya terhadap Indonesia?
Iran berada di posisi strategis yang dapat mempengaruhi lalu lintas perairan di Selat Hormuz. Sekitar 20% distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz, dan menjadi jalur logistik utama ekspor minyak bagi negara produsen minyak di Teluk Persia seperti Qatar, Kuwait, dan Irak. Oleh karena itu Selat Hormuz merupakan chokepoint yang sangat menentukan pasokan minyak global dan rentan menimbulkan lonjakan harga.
Durasi konflik menjadi faktor paling krusial. Mengacu pada konflik Israel–Iran pada 2025 yang berlangsung 12 hari, lonjakan harga minyak saat itu hanya bersifat sementara karena harga kembali melandai setelah terjadi de-eskalasi. Risiko terbesar saat ini adalah apabila konflik terjadi berkepanjangan hingga mendorong harga minyak persisten di atas USD100 per barel.
Bagi Indonesia kenaikan harga minyak secara persisten dapat berdampak pada fiskal dan inflasi mengingat Indonesia adalah net importir minyak. APBN 2026 mengasumsikan harga minyak di USD70, dan diperkirakan setiap kenaikan 10% di atas asumsi tersebut akan memperlebar defisit fiskal sekitar 0.1% PDB. Sementara itu dampak terhadap inflasi akan tergantung pada kebijakan subsidi BBM pemerintah. Jika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi Pertalite dan Solar, maka diperkirakan setiap 10% kenaikan harga BBM bersubsidi berpotensi mendorong inflasi sekitar 0.3ppt.
Seberapa kuat pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia saat ini dan apa pendorong utamanya?
Ekonomi Indonesia menunjukkan momentum pemulihan yang solid. Pertumbuhan PDB mencapai 5.39% YoY di 4Q-2025, tertinggi sejak 2022. Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor, mencatat pertumbuhan 5.11% YoY - tertinggi sejak 2Q-2023 - didukung akselerasi belanja pemerintah serta stimulus fiskal sebesar IDR46 triliun di kuartal tersebut.
Momentum pemulihan ekonomi diperkirakan terus terjadi di 2026 didukung oleh akselerasi belanja pemerintah, groundbreaking proyek hilirisasi Danantara senilai IDR110 triliun, serta stimulus Hari Raya sebesar IDR12.8 triliun untuk diskon transportasi dan bantuan pangan.
Bagaimana dengan kondisi fiskal Indonesia pada awal 2026, apakah terdapat risiko defisit fiskal menembus batasan 3% dari PDB?
Pemerintah mengindikasikan tetap mempertahankan kebijakan pro-pertumbuhan melalui strategi frontloaded spending, yaitu mempercepat belanja sejak awal tahun untuk menjaga momentum ekonomi. Realisasi belanja pemerintah di bulan Januari mencatat pertumbuhan 25.7% YoY. Pada saat yang sama, penerimaan negara pun menunjukkan tren positif, tumbuh 9.5% YoY, terutama karena penerimaan pajak melonjak 20.6%.
Namun, akselerasi belanja yang lebih cepat dibanding penerimaan menyebabkan fiskal defisit -0.21% dari PDB di Januari dibandingkan posisi Januari tahun lalu di -0.1% dari PDB. Dalam hal ini pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga defisit tetap berada dalam batas maksimal 3% PDB dan mengindikasikan pos belanja bisa direvisi. Sejalan dengan itu, walau Fitch menurunkan outlook rating Indonesia menjadi negatif, namun Fitch masih memperkirakan defisit fiskal Indonesia di level 2.9% dari PDB di 2026, tetap di bawah 3%. Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah jika konflik Iran berkepanjangan sehingga membuat harga minyak bertahan tinggi, yang berpotensi meningkatkan beban subsidi BBM dan memperlebar defisit fiskal.
Bagaimana strategi portofolio Reksa Dana Obligasi MAMI di tengah kondisi pasar yang dinamis saat ini?
Pengelolaan risiko menjadi faktor krusial dalam manajemen portofolio untuk mengantisipasi kondisi tidak terduga seperti yang terjadi saat ini. Pengelolaan Reksa Dana Obligasi MAMI melalui proses investasi yang sistematis dan disiplin, dengan batasan-batasan portofolio yang diterapkan dan dimonitor berkesinambungan guna memastikan alokasi investasi terdiversifikasi dan pada efek berkualitas.
Strategi portofolio pada posisi underweight durasi dibandingkan benchmark mempertimbangkan sentimen risk-off dari kondisi geopolitik saat ini. Kami memperkirakan kurva imbal hasil dapat mengalami steepening seiring masih adanya ekspektasi penurunan suku bunga, sehingga kami tetap mengunggulkan obligasi tenor pendek.
Untuk portofolio yang berinvestasi pada obligasi korporasi, dengan spread di pasar yang masih ketat, kami memilih untuk menunggu hingga terlihat premi risiko yang lebih menarik. Kami akan terus memantau perkembangan kondisi geopolitik dan akan bergerak lebih agresif apabila koreksi pasar telah mencapai tingkat imbal hasil ekuilibrium yang baru.
Bagaimana sebaiknya investor menyikapi kondisi pasar saat ini?
Dalam kondisi yang dinamis investor sebaiknya mempertahankan diversifikasi investasi dengan alokasi pada kelas aset yang likuid, defensif, namun tetap memiliki potensi upside. Penting juga untuk stay invested, karena secara historis sentimen pasar dapat berbalik sangat cepat saat terjadi eskalasi geopolitik. Dengan tetap berinvestasi investor memiliki peluang menangkap potensi pemulihan pasar ketika kondisi membaik.
Produk reksa dana dapat menjadi pilihan menarik karena menerapkan prinsip diversifikasi, memiliki variasi kelas aset yang bisa disesuaikan dengan profil risiko investor, dan dikelola oleh manajer investasi profesional untuk mengoptimalkan peluang pasar.
Monthly Market Review Februari 2026
Monthly Market Review
IWH: Lonjakan harga minyak membayangi pasar global
Investment Weekly Highlights
IWH: S&P Ratings soroti risiko fiskal Indonesia
Investment Weekly Highlights