Skip to main content
Back

Investasi ESG di Asia - Sebuah evolusi yang tak terlihat

15 Maret, 2021

Murray Collis, Deputy CIO Fixed Income (Asia ex-Japan)

Investasi yang berkelanjutan dan bertanggung jawab dengan cepat menjadi salah satu kriteria investasi yang paling penting secara global, dan di Asia, meskipun penyebarannya cenderung lambat, akan tetapi tren ini terus berkembang. Selain itu, dalam pandangan kami, keberlanjutan kini juga dipandang sebagai pendorong ekonomi yang penting bagi kinerja investasi. Murray Collis, Deputy CIO Fixed Income Asia ex-Jepang, membahas pendorong di balik pergerakan ini dan bagaimana wabah COVID-19 dapat memengaruhi perkembangannya. Murray juga menjelaskan peran pengelolaan aktif ketika berinvestasi dan terlibat dengan perusahaan-perusahaan di pasar investasi berkelanjutan yang sedang berkembang di Asia.

 

Bagaimana pasar obligasi Asia berkembang menuju peningkatan kesadaran dan integrasi keberlanjutan? Selain itu, apa saja pendorong utama di balik pertumbuhan ini?

 

Asia telah berkembang pesat dalam hal keberlanjutan selama dekade terakhir. Faktanya, mereka telah secara aktif merangkul konsep Environmental, Social, dan Governance (ESG). Kami telah melihat beberapa faktor pendorong yang berbeda di balik pertumbuhan keberlanjutan di Asia, dan kami perlahan-lahan telah memasukkan faktor tersebut ke dalam portofolio kami dari waktu ke waktu. Pemerintah Asia terus menegaskan komitmen mereka terhadap isu-isu ESG di kawasan ini; misalnya, pada bulan-bulan terakhir tahun lalu, Tiongkok mengumumkan bahwa mereka ingin menjadi netral karbon pada tahun 2060, sementara Korea Selatan, Jepang, dan Hong Kong berjanji untuk melakukan hal yang sama pada tahun 2050.

 

Apa yang telah kita lihat selama dekade terakhir adalah bahwa pemerintah di kawasan ini menyadari isu ESG dan mulai berkomitmen untuk menanganinya. Hal ini menyebabkan pertumbuhan awal yang kita lihat di pasar yang berkeberlanjutan di Asia. Begitu sebuah isu menjadi bagian dari agenda pemerintah, beragam pihak mulai memperhatikannya. Negara-negara dan wilayah Asia kini mulai membangun dan mengembangkan prinsip-prinsip praktik terbaik untuk investasi ESG, dan berbagai perusahaan di negara-negara dan wilayah ini juga mulai mengadopsi kode penatalayanan. Peraturan tata kelola seperti pemisahan tugas antara CEO dan komisaris kini telah menjadi persyaratan wajib bagi perusahaan-perusahaan terbuka di sejumlah negara dan wilayah di kawasan ini.

 

Bank-bank sentral di kawasan ini juga mengambil langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan pasar berbasis ESG di Asia. Contoh yang baik dari hal ini adalah Monetary Authority of Singapore yang menyisihkan sekitar US$2 miliar untuk mendukung pengembangan keuangan berkelanjutan di Singapura, sementara People's Bank of China telah memperkenalkan serangkaian langkah signifikan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk menerima obligasi hijau sebagai jaminan untuk program fasilitas pinjaman jangka menengah. Ada beberapa cara berbeda yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan para pemangku kebijakan guna mendukung pertumbuhan pasar keberlanjutan, dan merupakan hal yang positif untuk melihat negara-negara Asia mulai merangkulnya.

 

 

Dari sudut pandang investor, kami percaya bahwa di Asia terdapat peningkatan kesadaran akan manfaat yang dapat diperoleh dari investasi pada instrumen-instrumen pendapatan tetap yang berkelanjutan. Terbukti secara historis bahwa investasi berkelanjutan cenderung memiliki kinerja yang lebih baik dalam jangka menengah dan panjang1, dan ini adalah hal yang mulai diperhitungkan oleh para investor ketika mempertimbangkan investasi berbasis ESG.

 

 

Adapun catatan positif lainnya, data ekonomi dan perusahaan yang berasal dari Asia secara konsisten membaik selama beberapa tahun terakhir. Kami percaya bahwa dengan memiliki akses ke data yang berkualitas, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih matang. Sebagai hasilnya, peningkatan kualitas data juga berimplikasi pada pertumbuhan pasar.

 

Jika Anda melihat perusahaan-perusahaan di Asia, bahasan seputar ESG dan keberlanjutan telah berkembang dari waktu ke waktu. Hal ini sebagian berkaitan den`gan keterlibatan dan sebagian lagi berkaitan dengan kondisi regulasi dan pendekatan pemerintah terhadap topik ini. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kami mulai melihat perusahaan-perusahaan Asia mengadopsi praktik-praktik terbaik, yang menurut kami menciptakan peluang untuk produk investasi berkelanjutan. Contoh yang baik untuk hal ini adalah pasar obligasi hijau di Asia. Hanya ada sedikit obligasi hijau yang diterbitkan empat hingga lima tahun yang lalu, tetapi sejak 2016 hingga 2019, Bloomberg memperkirakan bahwa Tiongkok mewakili sekitar 17% dari penerbitan obligasi hijau global.2

 

 

Jika Anda menggabungkan semuanya, jelaslah bahwa ada sejumlah faktor yang membantu menggerakkan pasar. Otoritas keuangan dan pemerintah mendukung dan memberikan insentif untuk pertumbuhan investasi berkelanjutan, selain itu ada juga investor yang menuntut adopsi dan implementasi praktik-praktik etis dari perusahaan.3

 

 

Seperti kebanyakan tema di Asia, apakah China memimpin dalam bidang investasi berkelanjutan?

 

Mungkin cukup adil untuk mengatakan bahwa negara dan wilayah yang lebih maju di Asia telah melangkah lebih maju. Sebagai contoh, kita mulai melihat banyak penerbitan obligasi hijau dari Hong Kong dan Singapura. Tiongkok adalah (dan selalu menjadi)4 salah satu pasar terbesar di kawasan ini, dan jika Anda melihat bobot Tiongkok dalam pasar keuangan Asia, hal ini telah meningkat secara dramatis dalam satu dekade terakhir.

 

Kami juga melihat perkembangan besar di India, meskipun mereka masih memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di bidang ini. Secara keseluruhan, kami yakin akan ada beberapa peluang besar dalam waktu dekat, karena kami melihat lebih banyak penerbitan dari perusahaan energi terbarukan di India, Tiongkok, dan di beberapa bagian Asia Selatan.

 

 

Saat kita beralih dari tahun 2020 ke 2021, apa saja hal penting yang dapat kita ambil dari pengelolaan selama COVID-19?

Dalam banyak hal, pandemi ini telah memperkuat pandangan kami. Kami telah mengintegrasikan ESG ke dalam proses investasi kami selama bertahun-tahun, dan ketika berinvestasi di Asia, tata kelola selalu menjadi faktor yang sangat penting, terutama ketika melihat jagat investasi berimbal hasil tinggi.

 

 

Jika kita melihat Covid-19 dan apa yang terjadi selama pandemi, hal ini telah membantu memperkuat isu-isu sosial dan lingkungan yang lebih luas. Investor benar-benar memperhatikan dan mulai mempertimbangkan masalah ini, dan ini mulai tercermin di pasar dalam hal penerbitan obligasi sosial (social bond). Pada tahun 2020, kami melihat penerbitan obligasi sosial secara global melonjak menjadi lebih dari US$160,0 miliar, meningkat dari US$13,3 miliar pada tahun sebelumnya5 dan kami percaya hal ini menciptakan lebih banyak peluang di pasar. Analisis ESG secara global cenderung berfokus pada masalah lingkungan hidup, dan di Asia kami sering dimintai pendapat mengenai tata kelola, tetapi kami pikir penting untuk mempertimbangkan semua masalah ESG yang bersifat material secara bersamaan sebagai bagian dari analisis kredit dan konstruksi portofolio.

 

Bagaimana Anda terlibat dengan emiten pendapatan tetap dalam hal faktor-faktor terkait ESG?

 

Kami menggunakan pendekatan yang beragam. Ketika orang berpikir tentang keterlibatan (engagement), mereka biasanya berpikir tentang pasar ekuitas; namun dalam pandangan kami, bagaimanapun juga, keterlibatan sangat penting dalam instrumen pendapatan tetap, khususnya di Asia.

 

Kami melihat keterlibatan sebagai peluang untuk membangun hubungan jangka panjang dengan emiten yang kami tangani. Ketika berinteraksi dengan emiten, kami mendiskusikan sejumlah topik dengan mereka, yang memberikan kami wawasan yang lebih luas mengenai model bisnis mereka dan strategi yang mereka terapkan. Kami juga dapat memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh dari berurusan dengan pemerintah dan otoritas keuangan untuk mengidentifikasi peluang-peluang yang menarik di kawasan ini. Pada akhirnya, keterlibatan dapat memberikan hasil yang lebih baik bagi kami dan para investor.

 

Yang ingin kami lakukan adalah membagikan apa yang kami yakini sebagai penerapan praktik-praktik keberlanjutan yang terbaik. Bagi kami, ini bukan hanya tentang jumlah keterlibatan, tetapi juga hasil positif yang dihasilkan dari keterlibatan tersebut.

 

Ke depannya, di mana Anda melihat peluang utama untuk kelas aset ini?

 

Negara-negara dan wilayah Asia saat ini merupakan salah satu penghasil emisi karbondioksida terbesar di dunia dan dengan deklarasi nol karbon (net zero) baru-baru ini7 , mereka berkomitmen untuk melakukan transisi yang sangat penting menuju ekonomi rendah karbon. Dalam pandangan kami, transisi ini seharusnya menciptakan peluang bagi para investor berkelanjutan. Saat ini ada perhatian yang lebih besar terhadap perubahan iklim dan risiko-risiko yang terkait dengan perubahan iklim, sehingga hal ini akan menjadi tren investasi jangka panjang.

 

Sebagai contoh, kami melihat lonjakan penerbitan obligasi hijau dari para pengembang properti di China, yang menurut kami sangat menarik. Bagi kami, hal ini menandakan pengakuan dari pemerintah atas apa yang sedang terjadi di pasar domestik dan dorongan untuk mengadopsi langkah-langkah terbaik. Banyak dari penerbitan baru ini ditujukan untuk merenovasi dan membenahi properti yang sudah ada sesuai dengan standar ramah lingkungan, yang menurut kami merupakan suatu hal yang bagus. Kami percaya sisi positif dari hal ini bagi para investor adalah bahwa mereka akan mendapatkan imbal hasil yang menarik.

 

Energi terbarukan diperkirakan akan menjadi area pertumbuhan lain dalam ekonomi Asia, sehingga kami terus mengamati sektor ini. Kami juga telah mengidentifikasi beberapa peluang bagus di India dan negara-negara dan wilayah Asia Tenggara lainnya.

 

Mengapa mengambil pendekatan aktif untuk investasi berkelanjutan di pendapatan tetap Asia?

 

Masalah dalam mengadopsi pendekatan pasif di Asia atau pengindeksan adalah bahwa pendekatan ini bergantung pada data yang belum lengkap. Saat ini kami memiliki lebih dari 70 pakar pendapatan tetap Asia, termasuk lebih dari 20 analis kredit, yang tersebar di 11 pasar di kawasan ini8. Dengan hadir di setiap negara terkemuka, kami dapat mengambil manfaat dari pengetahuan lokal yang kami peroleh dari kehadiran orang-orang di lapangan, dan menurut kami, hal ini lebih baik daripada melakukan pendekatan yang pasif.

 

Dalam pandangan kami, ada beberapa masalah metodologis yang harus dipertimbangkan oleh para investor ketika mereka mempertimbangkan untuk mengadopsi pendekatan pengindeksan versus pendekatan aktif. Menurut kami, pendekatan aktif memungkinkan Anda untuk meneliti dan memilih nama-nama yang berkualitas atau berkinerja sangat baik, lalu membuat alokasi yang sesuai untuk perusahaan-perusahaan tersebut. Bagi kami, ini adalah cara terbaik untuk menghasilkan imbal hasil yang lebih baik dalam jangka panjang.


 

Unduh Dokumen


 


 


1 Sumber: Morningstar, “‘Do Sustainable Funds Beat their Rivals?”’ 16 Juni 2020

2 Sumber: Bloomberg, per 2019.

3 Sumber: PwC 2020, “‘Environmental, social and governance (ESG) in Asia”.

4 Sumber: Asian Bond Monitor, September 2020.

5 Refinitiv, per 17 Desember 2020.

6 Morningstar Research “Global Sustainable Fund Flows: Q4 2020 in Review”, 28 Januari 2021.

7 Sumber: “‘South Korea follows Japan and China in carbon neutral pledge”’ , Financial Times 28 Oktober 2020.

8 Per 31 December 2020.

  • IDB: BI mempertahankan suku bunga di 6%

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Februari 2024: Dampak penurunan Fed Funds Rate terhadap pasar saham Indonesia

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm