Skip to main content
Back

Fokus utama The Fed untuk menjaga laju inflasi

22 Juni 2026


Pasar saham Amerika Serikat bergerak fluktuatif pekan lalu, walau indeks S&P 500 berhasil ditutup positif +0.93%. Pasar merespons positif kesepakatan nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri konflik, membuka Selat Hormuz, dan mengadakan perundingan damai lebih lanjut. Harga minyak Brent turun ke USD80 per barel pekan lalu, level terendah sejak awal Maret 2026. Di sisi lain, pasar juga mencerna hasil rapat FOMC perdana Fed Chair Kevin Warsh yang menyampaikan nada hawkish. Warsh menyatakan fokus The Fed saat ini adalah upaya stabilisasi di tengah harga-harga yang persisten tinggi.  FFR dipertahankan di level 3.50% - 3.75%.  Berdasarkan dot plot,  9 dari 18 anggota FOMC memiliki pandangan hawkish 1 - 2 kali kenaikan, dan hanya 1 anggota yang memperkirakan ada penurunan. Imbal hasil US Treasury tenor pendek naik merespons perkembangan ini, dengan yield tenor 2Y naik +9bps ke level 4.17%, sementara tenor 10Y relatif stabil di level 4.45%. Nilai tukar USD juga menguat (indeks DXY +1.1%) merespons nada The Fed yang hawkish.

Pasar saham kawasan Asia menguat pekan lalu merespons kesepakatan AS - Iran. Indeks MSCI Asia Pacific menguat +4.23% dengan sektor teknologi mencatat penguatan tertinggi. Bank sentral Jepang (BOJ) menaikkan suku bunga 25bps ke level 1%, yang merupakan level tertinggi sejak 1995. BOJ mengindikasikan ruang kenaikan suku bunga lebih lanjut di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi dan menjaga laju inflasi. Sementara itu data ekonomi China mengecewakan, di mana penjualan ritel -0.6% YoY di Mei, yang merupakan kontraksi pertama sejak periode pandemi di akhir 2022. Di sisi lain, industrial production China tumbuh lebih baik dari ekspektasi di 4.5% YoY didukung ekspor dan sektor teknologi AI.

Di domestik, RDG Bank Indonesia - sesuai prediksi pasar - menghasilkan keputusan kenaikan BI rate 25 bps ke level 5.75% (total kenaikan 100bps sejak bulan Mei, salah satu kenaikan paling agresif sejak era krisis moneter 1998). Sementara itu MSCI merilis Accessibility Review, di mana pasar Indonesia turun di satu kriteria, yakni 'information flow' yang direvisi dari '+' menjadi '-'. Di sisi lain, secara keseluruhan penilaian terhadap Indonesia masih salah satu yang terbaik di EM Asia, mengindikasikan risiko downgrade menjadi Frontier Market yang lebih kecil. Selain itu pasar merespons positif komunikasi pemerintah terkait Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI)  lebih berfungsi sebagai ‘pengawas’ perdagangan komoditas dan bukan sebagai ‘perantara’ apalagi mengambil marjin keuntungan. Pemerintah juga menunjukkan arah rasionalisasi fiskal dengan pengurangan target Koperasi Desa dari 80 ribu menjadi 40 ribu unit. IHSG menguat +2.82% pekan lalu dan indeks obligasi BINDO menguat +1.21%. Imbal hasil SBN 10Y turun dari 7.41% ke 7.07%, sementara rata-rata yield SRBI 12-bulan di lelang naik ke 7.74% dari pekan sebelumnya 7.64%. Nilai tukar Rupiah menguat +0.45% ke level 17.790.


 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • IWH: Komunikasi kebijakan Indonesia dan kesepakatan geopolitik AS - Iran menopang pasar

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Juni 2026: Mencari alpha di Asia Pasifik

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
  • Monthly Market Review Mei 2026

    Monthly Market Review

    Baca selengkapnya
Lihat semua

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Siaran Pers

Manulife Wealth & Asset Management Akuisisi Schroders Indonesia. Selengkapnya.

View more