Skip to main content
Back

Seeking Alpha Februari 2024: Dampak penurunan Fed Funds Rate terhadap pasar saham Indonesia

20 Februari, 2024

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Senior Portfolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Samuel Kesuma, CFA.

 

Perdebatan mengenai penurunan suku bunga Fed Funds Rate (FFR) terus berlanjut di awal tahun. Sebelumnya pasar tampak sangat yakin bahwa pemangkasan pertama dapat terjadi di bulan Maret, namun kini harapan tersebut pupus. Apa pandangan Anda akan hal ini?

 

Kami sudah memperkirakan bahwa euforia suku bunga dapat menjadi sumber volatilitas di awal tahun, mengingat ekspektasi pasar yang cenderung berlebih terhadap besaran penurunan FFR. Berkaca dari apa yang terjadi di tahun 2023, investor sebaiknya berhati-hati dalam mengambil posisi yang bertentangan dengan pandangan The Fed. 

 

Kami cenderung lebih konservatif dalam mengasumsikan penurunan FFR, semester kedua 2024 dipandang sebagai periode yang lebih aman untuk berasumsi The Fed bisa mulai memangkas suku bunga setelah ada kejelasan kondisi inflasi AS. Kemungkinan penurunan suku bunga pada tahun ini relatif lebih besar dibandingkan tahun lalu, didukung oleh tren disinflasi di AS dan proyeksi The Fed yang menunjukkan akan adanya penurunan suku bunga pada tahun ini dibandingkan tahun lalu yang tidak ada ekspektasi penurunan suku bunga. 

 

Bagaimana reaksi bank sentral lain?

 

Sebagian besar bank sentral di banyak negara juga sudah bersiap menurunkan suku bunga. Tidak hanya Amerika Serikat, berbagai negara sudah mencapai puncak suku bunga dan menantikan waktu untuk memangkas suku bunga. Suku bunga riil di banyak negara sudah berada pada level positif dan merupakan yang tertinggi dalam rata-rata tiga tahun terakhir, yang mengindikasikan bahwa suku bunga berada pada level restriktif. 

 

Apa dampak penurunan FFR terhadap Indonesia? 

 

Secara historis periode pemangkasan suku bunga dan turunnya imbal hasil obligasi menjadi iklim yang kondusif bagi pasar finansial. Selama tiga siklus penurunan suku bunga The Fed sebelumnya, indikator makro dan pasar finansial Indonesia menunjukkan hasil yang positif: Melandainya nilai tukar USD, arus masuk portofolio asing, penurunan imbal hasil obligasi dan pemangkasan suku bunga bank sentral. Siklus pemangkasan The Fed pada tahun ini diharapkan memberikan hasil serupa bagi Indonesia. 

 

Likuiditas menjadi topik hangat akhir-akhir ini, dengan adanya potensi pelonggaran moneter apakah otomatis kondisi likuiditas akan membaik? 

 

Betul, pelonggaran moneter akan mendorong normalisasi likuiditas domestik, setelah sebelumnya demi menjaga stabilitas eksternal, Bank Indonesia melakukan pengetatan likuiditas. Peluang pergeseran ini diperkirakan akan terjadi bersamaan dengan pelonggaran suku bunga The Fed. Likuiditas yang membaik dapat memberikan dukungan yang lebih baik terhadap aktivitas perekonomian dan sentimen di pasar finansial. Diperkirakan Bank Indonesia dapat melonggarkan kebijakan moneternya dengan menggunakan alat kebijakan non-suku bunga, seperti menurunkan Giro Wajib Minimum sebelum mulai menurunkan suku bunga BI. Secara historis penurunan GWM terjadi sebelum siklus penurunan suku bunga BI seperti pada tahun 2015 dan 2019. 

 

Pemilu yang ditunggu-tunggu telah berlalu, bagaimana prospek pasar saham Indonesia ke depannya? 

 

Dalam jangka pendek, hasil pemilu disambut secara positif oleh pasar. Investor pasar saham, terutama investor asing, umumnya lebih menyukai pemimpin baru yang melanjutkan kebijakan pemerintahan sebelumnya. Hal ini disebabkan preferensi investor untuk kestabilan dan minimnya risiko dari perubahan kebijakan yang ekstrem. Pemilu yang diperkirakan akan berlangsung satu periode juga dipersepsi positif bagi ekonomi karena memperbesar potensi komitmen dana investasi langsung tahun ini. Ke depannya, investor akan memonitor rencana kebijakan ekonomi dan calon anggota kabinet dari pemerintahan yang baru untuk memprediksi arah pertumbuhan ekonomi di tahun-tahun mendatang. 

 

Strategi apa yang diterapkan agar memberikan kinerja yang lebih baik ke depannya?

 

Di tengah kondisi global yang dinamis, kami mengambil posisi yang berimbang pada konstruksi portofolio, mengombinasikan elemen potensi katalis jangka pendek, defensif, dan potensi struktural jangka panjang.

 

  • Untuk katalis jangka pendek kami memperbesar alokasi pada sektor yang diuntungkan dari pemangkasan suku bunga (interest rate sensitive) seperti di perbankan, properti, tower telekomunikasi, dan konsumer non-primer.
  • Sebagai porsi defensif, kami mengunggulkan sektor telekomunikasi, karena karakteristik industri cenderung resilien mengingat data merupakan kebutuhan pokok. Selain itu konsolidasi industri memungkinkan bagi emiten untuk menaikkan harga data secara gradual yang positif bagi marjin.
  • Potensi pertumbuhan struktural. Kami mempertahankan posisi di sektor yang berhubungan dengan bahan baku untuk industri energi baru terbarukan. Transisi menuju era dekarbonisasi menguntungkan bagi Indonesia yang kaya akan komoditas yang digunakan dalam teknologi energi baru terbarukan.

 

Di samping itu kami juga terus mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali.

 

Unduh Dokumen

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm