Skip to main content
Back

Video inspirasi: Warning! Perangkap khusus orang kaya

5 Maret, 2023

 

Sebagian orang merasa takut kehilangan kekayaannya, atau bahkan terjebak di posisi dimana mereka tidak bisa berhenti bergerak hingga mengakibatkan hancurnya hubungan keluarga. Akan tetapi, hal seperti ini belum tentu dapat dibayangkan oleh orang-orang pada umumnya, bagaimana kekayaan memberi dampak pada seseorang, mulai dari perubahan gaya hidup dan orang-orang disekitarnya.    

 

Coba refleksikan pertanyaan berikut:

  • Apa makna 'kaya' menurut Anda?
  • Bagaimanakah pengelolaan keuangan Anda saat ini, apakah sudah benar?
  • Apa kesalahan pengelolaan keuangan yang seringkali ataupun berpotensi menjerumuskan Anda? 

 

Sebagai manajer investasi yang berpengalaman lebih dari 27 tahun di Indonesia, MAMI memahami betul bahwa tidak mudah rasanya, namun perlu kita sadari bahwa potensi kesalahan akan selalu ada dan dapat terjadi pada siapa saja. Lantas bagaimana caranya agar kita dapat terhindar terhadap berbagai macam kemungkinan kesalahan pengelolaan keuangan yang ada? Temukan jawabannya di video berikut ini.

 

  • Video inspirasi: Generasi tanpa pensiun

    Sebagian orang termenung saat berbicara tentang persiapan pensiun. 

    Baca selengkapnya
  • Video inspirasi: Kenapa perempuan harus memainkan peran lebih besar dalam keuangan keluarga?

    Secara tradisi dan didukung statistik, mayoritas wanita Indonesia menjabat sebagai menteri keuangan keluarga. 

    Baca selengkapnya
  • Artikel edukasi: Mengatasi perubahan iklim jadi peluang menarik bagi investor

    Dengan target net zero emission di tahun 2050, apa yang bisa dilakukan oleh investor?

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Dalam film The Godfather besutan Francis Ford Coppola dan Mario, diceritakan sebuah keluarga yang menghabiskan hidup dan mengorbankan banyak hal untuk kekayaan dan kekuasaan. Dalam film ini digambarkan orang-orang takut kehilangan kekayaannya atau bahkan terjebak di posisi dimana mereka tidak dapat berhenti bergerak atau jika tidak maka akan menghancurkan keluarganya. Fenomena ini mungkin tidak dapat dibayangkan oleh orang biasa, bahwa kekayaan memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap seseorang, mulai dari pola pikir, gaya hidupnya, hingga orang-orang di sekitarnya.
 

Seseorang dengan harta yang berkelimpahan tidak jarang terperangkap dalam jebakan kekayaan. Lantas apa saja perangkap itu dan bagaimana cara menghindarinya? Berikut jawabannya.

 

Mulai dari lifestyle shock


Perangkap pertama adalah lifetyle shock yang seringkali dianggap lumrah. Bayangkan, dahulu terbiasa hidup pas-pasan dengan mi instan dan motor tua menemani hari-hari seseorang selama bertahun-tahun bekerja. Namun sekarang, memiliki pendapatan puluhan juta sebulan, yang dahulu keinginannya hanya dapat dibayangkan, sekarang berubah menjadi kenyataan dan seakan-akan sebuah kebutuhan untuk mengisi beberapa lubang kosong dalam diri. Namun hati-hati dan jangan sampai larut dan tenggelam, karena di dalam diri, adalah orang yang sama dan kebutuhan hidup seringkali tidak perlu banyak berubah. 
 

Sejatinya hal tersebut dapat dihindari dengan menjaga lifestyle dengan biaya serendah mungkin dan selalu ingat bahwa kekayaan adalah rasio perbandingan antara pemasukan dan pengeluaran, tidak serta-merta kaya dengan gaji bulanan puluhan juta namun melakukan pengeluaran puluhan juta hingga akhir bulan, karena hal itu tidak ada bedanya dengan kondisi sebelumnya.
 

Banyak orang tidak menyadari saat mereka memiliki pendapatan tinggi, mereka akan menumbuhkan keinginan dan kebutuhan baru, mulai dari tempat tinggal yang lebih besar, lingkungan yang elite meskipun atas dasar keamanan dan akses, smartphone tercanggih hingga outfit kelas atas penunjang kerja. 
 

Apapun perkembangannya pastikan pengeluaran tidak melampaui pemasukan, belanjalah dengan kendali penuh kesadaran karena seringkali ada biaya tersembunyi dibalik barang-barang yang dimiliki. 
 

Ada pajak dan biaya perawatan tinggi untuk mobil baru, memiliki satu rumah tinggal dan satu rumah liburan berarti diperlukan dua kali lipat biaya pengeluaran untuk perawatannya, tentu bukan hal yang mudah, namun tanpa disadari, hal itu dapat mengembalikan kita ke kondisi harus terus bekerja keras demi untuk dapat mempertahankan apa yang miliki, dan lebih buruk lagi, kembali di posisi berhutang. 
 

Dilema uang dalam keluarga


Perangkap kedua adalah keluarga sendiri, meskipun terdengar buruk sekali, tapi cobalah pahami bahwa tentu sulit secara manusiawi apabila melihat keluarga kita hidup pas-pasan bahkan kekurangan, sedangkan kita hidup berlebihan. Mereka pasti memiliki impian, juga cita-cita, dan di posisi saat ini sudah merasa sewajarnya apabila melakukan sesuatu untuk mereka. Ini adalah hal yang baik, karena salah satu cara memanfaatkan kekayaan untuk kebahagiaan adalah dengan memberi dan membantu orang lain akan tetapi disinilah kehati-hatian juga diperlukan, saat orang yang kita sayangi tiba-tiba mengajukan ide unik tentang konsep bisnis dan usaha kecil hingga menengah yang membutuhkan dana misal Rp10 juta hingga Rp50 juta rupiah dengan potensi keuntungan tinggi yang didasari rasa percaya.


Hati-hati, karena sejujurnya seringkali mereka ada pada posisi kekurangan dikarenakan mereka tidak memiliki rasa lapar yang cukup, kemauan dan keberanian untuk mengorbankan banyak hal seperti untuk mencapai kesuksesan. Mereka tidak akan membutuhkan bantuan untuk dapat berdiri di atas kaki mereka sendiri dengan hasil jerih payah mereka. Tips penting dalam menjalin hubungan baik dengan keluarga dekat adalah untuk tidak meminjamkan uang kepada mereka apalagi dalam jumlah yang sangat besar, pertimbangkan untuk memberikannya walau hanya sebagian kecil sebagai hadiah dan perjelas jika tidak perlu dikembalikan.


Selain itu, bagi individu yang telah berkeluarga dan memiliki anak, cukup keluarkan uang seperlunya apabila ingin memanjakan si kecil. Tentu semua orang tua menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya, terlebih jika dibandingkan masa kecil mereka dulu, besar rasanya ingin mewariskan banyak hal ketimbang beban hutang dan tekanan hidup bagi anak-anak kita. Ini adalah hal yang dilakukan Vito Andolini dalam film The Godfather, Ia berjuang dengan kecerdasan dan kemampuan bernegosiasinya hingga menjadi orang besar dan ini didukung kebutuhan untuk memberikan kesempatan yang lebih baik dimasa depan untuk anak dan keluarganya. Hal itu baik, akan tetapi, proses melindungi mereka dari dunia dengan kekayaan yang miliki secara berlebihan mungkin dapat membuat hidup akan lebih mudah untuk anak, tapi cucu mungkin akan menderita karena dibesarkan oleh orang tua yang tidak pernah berjuang baik secara pikiran, perasaan, hingga fisik untuk dapat bertahan dan terus mencari jalan keluar dari berbagai masalah. 


Sebaliknya, bagaimana jika mencoba memberikan pengetahuan tentang mengelola uang sejak dini, Robert Kiyosaki dalam buku berjudul Rich Dad Poor Dad, menceritakan hal yang menarik untuk dibaca. 
 

Totalitas hidup untuk bekerja


Perangkap ketiga, totalitas hidup untuk bekerja. Seseorang dalam hidupnya akan cenderung memilih sesuatu yang dikuasai, dan ketika memiliki reputasi sebagai seseorang yang hebat dalam menciptakan kekayaan, orang akan memujinya atas kemampuan mengubah ide bisnis menjadi emas. Akan tetapi, hal tersebut akan mengakibatkan Ia rentan terjatuh ke dalam perangkap di mana menjadi seseorang yang tidak henti-hentinya membicarakan tentang pekerjaan dan bagaimana cara berhasil dan dapat menghasilkan banyak uang, tidak berhenti memikirkan tentang bisnis dan keuntungan kapanpun dan dimanapun, yang biasanya dicerminkan lewat perilaku dalam bersosialisasi. Sejujurnya tidak ada yang menyukai dan mau berlama-lama bersama orang seperti ini, seluruh kekayaan mungkin tidak dapat membayar rasa terisolasi yang muncul di dalam hati kecil. Akan tetapi, sebenarnya dalam hati kecil pasti ada suara kecil yang berteriak yang ingin mengajak merasakan kehidupan dan kebahagiaan dari sekadar bekerja dan mencari uang, sesuatu yang membuat bergairah dan darah bergejolak, menjadi seorang musisi, seniman, pengajar, traveler, atau apapun itu layak untuk dicari tahu lebih lanjut.
 

Saling adu kekayaan


Perangkap keempat adalah kontes adu kekayaan. Mirip dengan perangka pertama, akan tetapi perangkap satu ini sangat mudah bagi siapapun dapat terjebak di dalamnya. Namun masalahnya adalah akan selalu ada orang yang lebih besar dan lebih berlimpah kekayaannya. Bahkan jika pada akhirnya pun ada seseorang yang memiliki koleksi motor besar di pusat kota, akan selalu ada orang di luar sana yang memiliki koleksi hotel dan perusahaan, seakan-akan menertawakan koleksi motor sport. Ini adalah permainan yang tidak dapat dimenangkan oleh siapapun. Jebakannya adalah tidak memahami dan kontrol diri atas sifat kompetitif sendiri. Semua orang berlomba mencapai sesuatu, berpikir harus ikut di dalamnya, dan setidaknya mencoba menang dan tanpa disadari sulit untuk berhenti dan keluar. Berhati-hatilah karena tidak jarang membuat diri terjebak berkompetisi dengan kebangkrutan.

 

 

Dalam film The Godfather besutan Francis Ford Coppola dan Mario, diceritakan sebuah keluarga yang menghabiskan hidup dan mengorbankan banyak hal untuk kekayaan dan kekuasaan. Dalam film ini digambarkan orang-orang takut kehilangan kekayaannya atau bahkan terjebak di posisi dimana mereka tidak dapat berhenti bergerak atau jika tidak maka akan menghancurkan keluarganya. Fenomena ini mungkin tidak dapat dibayangkan oleh orang biasa, bahwa kekayaan memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap seseorang, mulai dari pola pikir, gaya hidupnya, hingga orang-orang di sekitarnya.
 

Seseorang dengan harta yang berkelimpahan tidak jarang terperangkap dalam jebakan kekayaan. Lantas apa saja perangkap itu dan bagaimana cara menghindarinya? Berikut jawabannya.

 

Mulai dari lifestyle shock


Perangkap pertama adalah lifetyle shock yang seringkali dianggap lumrah. Bayangkan, dahulu terbiasa hidup pas-pasan dengan mi instan dan motor tua menemani hari-hari seseorang selama bertahun-tahun bekerja. Namun sekarang, memiliki pendapatan puluhan juta sebulan, yang dahulu keinginannya hanya dapat dibayangkan, sekarang berubah menjadi kenyataan dan seakan-akan sebuah kebutuhan untuk mengisi beberapa lubang kosong dalam diri. Namun hati-hati dan jangan sampai larut dan tenggelam, karena di dalam diri, adalah orang yang sama dan kebutuhan hidup seringkali tidak perlu banyak berubah. 
 

Sejatinya hal tersebut dapat dihindari dengan menjaga lifestyle dengan biaya serendah mungkin dan selalu ingat bahwa kekayaan adalah rasio perbandingan antara pemasukan dan pengeluaran, tidak serta-merta kaya dengan gaji bulanan puluhan juta namun melakukan pengeluaran puluhan juta hingga akhir bulan, karena hal itu tidak ada bedanya dengan kondisi sebelumnya.
 

Banyak orang tidak menyadari saat mereka memiliki pendapatan tinggi, mereka akan menumbuhkan keinginan dan kebutuhan baru, mulai dari tempat tinggal yang lebih besar, lingkungan yang elite meskipun atas dasar keamanan dan akses, smartphone tercanggih hingga outfit kelas atas penunjang kerja. 
 

Apapun perkembangannya pastikan pengeluaran tidak melampaui pemasukan, belanjalah dengan kendali penuh kesadaran karena seringkali ada biaya tersembunyi dibalik barang-barang yang dimiliki. 
 

Ada pajak dan biaya perawatan tinggi untuk mobil baru, memiliki satu rumah tinggal dan satu rumah liburan berarti diperlukan dua kali lipat biaya pengeluaran untuk perawatannya, tentu bukan hal yang mudah, namun tanpa disadari, hal itu dapat mengembalikan kita ke kondisi harus terus bekerja keras demi untuk dapat mempertahankan apa yang miliki, dan lebih buruk lagi, kembali di posisi berhutang. 
 

Dilema uang dalam keluarga


Perangkap kedua adalah keluarga sendiri, meskipun terdengar buruk sekali, tapi cobalah pahami bahwa tentu sulit secara manusiawi apabila melihat keluarga kita hidup pas-pasan bahkan kekurangan, sedangkan kita hidup berlebihan. Mereka pasti memiliki impian, juga cita-cita, dan di posisi saat ini sudah merasa sewajarnya apabila melakukan sesuatu untuk mereka. Ini adalah hal yang baik, karena salah satu cara memanfaatkan kekayaan untuk kebahagiaan adalah dengan memberi dan membantu orang lain akan tetapi disinilah kehati-hatian juga diperlukan, saat orang yang kita sayangi tiba-tiba mengajukan ide unik tentang konsep bisnis dan usaha kecil hingga menengah yang membutuhkan dana misal Rp10 juta hingga Rp50 juta rupiah dengan potensi keuntungan tinggi yang didasari rasa percaya.


Hati-hati, karena sejujurnya seringkali mereka ada pada posisi kekurangan dikarenakan mereka tidak memiliki rasa lapar yang cukup, kemauan dan keberanian untuk mengorbankan banyak hal seperti untuk mencapai kesuksesan. Mereka tidak akan membutuhkan bantuan untuk dapat berdiri di atas kaki mereka sendiri dengan hasil jerih payah mereka. Tips penting dalam menjalin hubungan baik dengan keluarga dekat adalah untuk tidak meminjamkan uang kepada mereka apalagi dalam jumlah yang sangat besar, pertimbangkan untuk memberikannya walau hanya sebagian kecil sebagai hadiah dan perjelas jika tidak perlu dikembalikan.


Selain itu, bagi individu yang telah berkeluarga dan memiliki anak, cukup keluarkan uang seperlunya apabila ingin memanjakan si kecil. Tentu semua orang tua menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya, terlebih jika dibandingkan masa kecil mereka dulu, besar rasanya ingin mewariskan banyak hal ketimbang beban hutang dan tekanan hidup bagi anak-anak kita. Ini adalah hal yang dilakukan Vito Andolini dalam film The Godfather, Ia berjuang dengan kecerdasan dan kemampuan bernegosiasinya hingga menjadi orang besar dan ini didukung kebutuhan untuk memberikan kesempatan yang lebih baik dimasa depan untuk anak dan keluarganya. Hal itu baik, akan tetapi, proses melindungi mereka dari dunia dengan kekayaan yang miliki secara berlebihan mungkin dapat membuat hidup akan lebih mudah untuk anak, tapi cucu mungkin akan menderita karena dibesarkan oleh orang tua yang tidak pernah berjuang baik secara pikiran, perasaan, hingga fisik untuk dapat bertahan dan terus mencari jalan keluar dari berbagai masalah. 


Sebaliknya, bagaimana jika mencoba memberikan pengetahuan tentang mengelola uang sejak dini, Robert Kiyosaki dalam buku berjudul Rich Dad Poor Dad, menceritakan hal yang menarik untuk dibaca. 
 

Totalitas hidup untuk bekerja


Perangkap ketiga, totalitas hidup untuk bekerja. Seseorang dalam hidupnya akan cenderung memilih sesuatu yang dikuasai, dan ketika memiliki reputasi sebagai seseorang yang hebat dalam menciptakan kekayaan, orang akan memujinya atas kemampuan mengubah ide bisnis menjadi emas. Akan tetapi, hal tersebut akan mengakibatkan Ia rentan terjatuh ke dalam perangkap di mana menjadi seseorang yang tidak henti-hentinya membicarakan tentang pekerjaan dan bagaimana cara berhasil dan dapat menghasilkan banyak uang, tidak berhenti memikirkan tentang bisnis dan keuntungan kapanpun dan dimanapun, yang biasanya dicerminkan lewat perilaku dalam bersosialisasi. Sejujurnya tidak ada yang menyukai dan mau berlama-lama bersama orang seperti ini, seluruh kekayaan mungkin tidak dapat membayar rasa terisolasi yang muncul di dalam hati kecil. Akan tetapi, sebenarnya dalam hati kecil pasti ada suara kecil yang berteriak yang ingin mengajak merasakan kehidupan dan kebahagiaan dari sekadar bekerja dan mencari uang, sesuatu yang membuat bergairah dan darah bergejolak, menjadi seorang musisi, seniman, pengajar, traveler, atau apapun itu layak untuk dicari tahu lebih lanjut.
 

Saling adu kekayaan


Perangkap keempat adalah kontes adu kekayaan. Mirip dengan perangka pertama, akan tetapi perangkap satu ini sangat mudah bagi siapapun dapat terjebak di dalamnya. Namun masalahnya adalah akan selalu ada orang yang lebih besar dan lebih berlimpah kekayaannya. Bahkan jika pada akhirnya pun ada seseorang yang memiliki koleksi motor besar di pusat kota, akan selalu ada orang di luar sana yang memiliki koleksi hotel dan perusahaan, seakan-akan menertawakan koleksi motor sport. Ini adalah permainan yang tidak dapat dimenangkan oleh siapapun. Jebakannya adalah tidak memahami dan kontrol diri atas sifat kompetitif sendiri. Semua orang berlomba mencapai sesuatu, berpikir harus ikut di dalamnya, dan setidaknya mencoba menang dan tanpa disadari sulit untuk berhenti dan keluar. Berhati-hatilah karena tidak jarang membuat diri terjebak berkompetisi dengan kebangkrutan.

 

 

Confirm