Skip to main content
Back

Menangkap peluang new economy di pasar Asia

14 Februari, 2022

Krizia Maulana, Investment Specialist, MAMI.
 

Pasar finansial Asia diproyeksikan akan tumbuh positif pada tahun ini. Di tengah volatilitas global, pasar Asia diperkirakan akan menawarkan kinerja yang lebih resilien didukung oleh sejumlah faktor, yaitu akselerasi pertumbuhan ekonomi Asia, pertumbuhan laba emiten yang solid, serta valuasi pasar pada level yang relatif atraktif. Pada kondisi seperti ini, ada strategi investasi yang sebaiknya diterapkan oleh para investor. 

 

Asia diuntungkan pemulihan ekonomi global

Di tahun 2021, ketika pasar finansial global melaju pesat, pertumbuhan pasar finansial Asia cenderung stabil dan tidak sepesat pertumbuhan pasar finansial di Amerika Serikat dan Eropa.  Situasi berbalik di tahun ini. Ketika pasar Amerika dan Eropa mengalami normalisasi, pasar finansial Asia termasuk ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) mengalami anomali dan diperkirakan akan mengalami lonjakan pertumbuhan yang cukup signifikan. Asia dianggap memiliki fondasi makroekonomi yang lebih kuat dalam menghadapi pengetatan moneter Amerika Serikat.

Sebagai produsen penting pada berbagai sektor di dunia, Asia sangat berperan dalam pemulihan rantai pasokan global di tahun 2022. Normalisasi pertumbuhan dan perbaikan rantai pasokan global akan berdampak positif pada sektor manufaktur dan pasar finansial Asia. Pengetatan kebijakan The Fed menjadi tantangan yang harus diperhatikan. Namun, Asia masih memiliki ruang kebijakan moneter yang lebih longgar, didukung oleh inflasi yang lebih terjaga dan tingkat suku bunga riil yang tinggi, sehingga memberi fleksibilitas bagi bank sentral di kawasan ini. 

Jika melihat lebih dalam lagi, Asia disebut sebagai “pabrik dunia” yang diuntungkan dari siklus pemulihan ekonomi global pasca pandemi. China, sebagai salah satu kawasan penting, memiliki posisi unik dan menerapkan kebijakan yang berlawanan dengan negara lain. Di saat mayoritas negara melakukan pengetatan moneter, China justru melakukan pelonggaran moneter.  Sementara itu, ASEAN diprediksi akan mengalami pemulihan ekonomi yang lebih maksimal di tahun ini.


Saatnya melirik peluang dari pertumbuhan pasar Asia

Kawasan Asia Pasifik memiliki potensi pertumbuhan struktural yang menarik dan pertumbuhan dalam jangka panjangnya juga layak dicermati.  Seiring dengan potensi pertumbuhan di Asia Pasifik, sejumlah sektor unggulan ikut tumbuh di kawasan ini, yaitu IT, energi terbarukan, dan kendaraan listrik. Sektor-sektor ini dipandang memiliki potensi besar di tengah arah kebijakan dunia yang semakin mengadopsi teknologi digital serta energi terbarukan dan kendaraan listrik.  Asia memiliki sejumlah perusahaan yang menjadi market leader dunia dan berperan penting dalam sektor-sektor tersebut.

Reksa dana merupakan produk pasar modal yang dikelola oleh perusahaan manajer investasi dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan ("OJK"). Di reksa dana, Anda bisa mulai berinvestasi dengan dana minimal Rp10 ribu. Ada beragam pilihan produk investasi, baik reksa dana konvensional maupun reksa dana syariah, reksa dana yang berinvestasi di bursa dalam negeri maupun luar negeri, reksa dana dalam denominasi rupiah dan dolar AS. Tingkat risiko produk reksa dana juga beragam, mulai dari tingkat risiko yang rendah seperti reksa dana pasar uang, hingga risiko yang relatif tinggi seperti reksa dana saham. Dengan ragam alternatif produk reksa dana, Anda bisa memanfaatkannya untuk berbagai tujuan keuangan yang berbeda, seperti memenuhi biaya liburan, membeli motor/mobil baru, rumah, pembiayaan pernikahan/kelahiran anak, ataupun persiapan pensiun, sehingga pemilihan produk tinggal disesuaikan dengan tujuan, profil risiko dan jangka waktu investasi Anda.


Momentum dari dalam negeri

Pasar finansial Indonesia ikut bertumbuh seiring dengan pertumbuhan pasar finansial Asia. Di tengah tren normalisasi ekonomi global, Indonesia diperkirakan akan mengalami akselerasi pertumbuhan, seiring dengan pulihnya mobilitas masyarakat dan meningkatnya vaksinasi.  Perekonomian sudah mulai menunjukkan sinyal perbaikan di 2021 dimana pertumbuhan PDB kuartal keempat tahun 2021 tumbuh 5% YoY. Momentum pemulihan ini diperkirakan masih terus berlanjut dengan akselerasi pertumbuhan di semester kedua tahun 2022. Optimisme pemulihan aktivitas ekonomi, fundamental ekonomi yang semakin baik, posisi Indonesia sebagai net eksportir komoditas yang memberikan efek lindung nilai dari kenaikan harga komoditas, serta stabilitas nilai tukar rupiah mendorong masuknya aliran dana asing di pasar saham Indonesia.

Di tengah kondisi saat ini, investor dapat mengembangkan dananya dengan memanfaatkan potensi pertumbuhan di pasar Asia dan Indonesia. Investor dengan pola pikir forward looking dapat memanfaatkan peluang investasi di reksa dana saham, dengan tetap mencermati risiko saat ini dan menangkap peluang dalam jangka panjang.  

Salah satu contoh reksa dana saham yang menangkap peluang di pasar Asia Pasifik adalah Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF).  Portofolio MANSYAF terdiri dari saham-saham perusahaan Asia berskala global dengan pendapatan mancanegara, sehingga outlook kinerjanya tidak dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi di negeri asalnya. Sedangkan contoh reksa dana saham di pasar domestik adalah Manulife Saham Andalan (MSA).  

Pasar saham di Asia Pasifik dan Indonesia memiliki peluang investasi yang menarik. Seperti halnya pada setiap pilihan investasi, investor tetap harus menyesuaikan pilihan investasinya dengan profil risiko, tujuan investasi, dan jangka waktu investasi masing-masing.

Lihat semua
Confirm