29 September 2026
Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

Ketegangan geopolitik dan gangguan pada jalur perdagangan energi kembali memperlihatkan kerentanan dunia terhadap ketergantungan pada energi fosil. Pergerakan harga minyak yang berfluktuasi tidak hanya memengaruhi biaya energi, tetapi juga dapat meningkatkan tekanan inflasi, memengaruhi arah suku bunga, serta menciptakan ketidakpastian bagi perekonomian global.
Situasi tersebut memperkuat kebutuhan dunia untuk membangun sistem energi yang lebih beragam, efisien, dan berkelanjutan. Transisi menuju ekonomi rendah karbon kini tidak hanya didorong oleh komitmen untuk mengurangi emisi, tetapi juga oleh kebutuhan menjaga ketahanan energi di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
Volatilitas harga minyak masih akan terus menjadi sorotan selama lalu lintas dan volume pasokannya belum sepenuhnya kembali normal. Kondisi itu dapat menjadi pemicu volatilitas harga, tekanan inflasi, dan perubahan arah kebijakan suku bunga.
Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan bahwa tantangan tersebut sekaligus menegaskan bahwa transisi energi merupakan perubahan struktural yang akan berlangsung dalam jangka panjang.
“Transisi energi kini tidak lagi hanya berbicara tentang komitmen lingkungan. Ketidakpastian pasokan dan volatilitas harga energi fosil menunjukkan pentingnya membangun sistem energi yang lebih beragam dan berdaya tahan. Hal ini mendorong kebutuhan terhadap energi rendah karbon, elektrifikasi, efisiensi, serta penguatan keamanan sumber daya,” ujar Freddy.
Transisi energi melibatkan ekosistem yang luas
Perjalanan menuju ekonomi rendah karbon tidak hanya bergantung pada pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Perubahan tersebut memerlukan ekosistem yang lebih luas, mulai dari pengembangan jaringan listrik, teknologi penyimpanan energi, kendaraan listrik, peralatan hemat energi, hingga ketersediaan mineral dan material yang mendukung elektrifikasi.
Dalam proses tersebut, perusahaan dari berbagai sektor dapat memainkan peran penting. Perusahaan industri, misalnya, dapat menyediakan peralatan dan teknologi yang meningkatkan efisiensi energi. Perusahaan material dapat menghasilkan bahan yang diperlukan untuk membangun jaringan listrik, baterai, kendaraan listrik, serta berbagai infrastruktur rendah karbon.
Di sisi lain, perusahaan teknologi dapat mendukung pengelolaan energi yang lebih efisien melalui digitalisasi, otomatisasi, dan sistem pemantauan yang semakin canggih. Hal ini menunjukkan bahwa peluang investasi dari transisi energi tersebar pada berbagai sektor dan tidak terbatas pada perusahaan penghasil energi terbarukan.
“Ketika mendengar transisi energi, banyak orang langsung membayangkan panel surya atau turbin angin. Padahal, perubahan ini mencakup rantai nilai yang jauh lebih luas. Elektrifikasi membutuhkan jaringan, material, teknologi, dan peningkatan efisiensi dalam skala besar. Karena itu, peluang investasinya juga dapat ditemukan pada berbagai perusahaan yang menyediakan solusi bagi proses tersebut,” jelas Freddy.
Empat tema utama yang dinilai berperan dalam perubahan ini adalah energi rendah karbon, material pendukung transisi, efisiensi dan elektrifikasi, serta ketersediaan sumber daya. Tema-tema tersebut mencerminkan keterkaitan antara kebutuhan mengurangi emisi, menjaga ketahanan energi, dan memenuhi permintaan sumber daya yang semakin meningkat.
Membuka akses terhadap tema yang terbatas di pasar lokal
Pasar modal Indonesia memiliki berbagai perusahaan berkualitas, tetapi pilihan emiten yang memperoleh pendapatan utama dari solusi transisi energi global masih relatif terbatas. Karena itu, investasi global dapat membantu memperluas cakupan portofolio terhadap perusahaan dan sub sektor yang belum banyak tersedia di pasar domestik.
Diversifikasi global juga memberikan kesempatan bagi investor untuk memperoleh sumber pertumbuhan yang berbeda. Portofolio tidak hanya bergantung pada perkembangan ekonomi dan pasar lokal, tetapi juga memiliki paparan terhadap perubahan struktural yang berlangsung di berbagai negara.
“Kombinasi reksa dana lokal dan global bisa saling melengkapi. Reksa dana lokal dapat memberikan eksposur terhadap pertumbuhan Indonesia, sementara reksa dana global membuka akses terhadap tema dan perusahaan yang belum tentu tersedia secara memadai di pasar lokal,” tutur Freddy.
Bagi investor Indonesia, diversifikasi mata uang turut menjadi bagian dalam pengelolaan risiko investasi. Dalam periode sepuluh tahun hingga 2026, mata uang rupiah secara rata-rata terdepresiasi sekitar 3% per tahun terhadap dolar AS, sementara rata-rata inflasi Indonesia juga berada di kisaran 3% per tahun. Diversifikasi dalam mata uang berbeda dapat membantu menyebarkan risiko nilai tukar dan menjaga daya beli aset (Sumber: PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Juli 2026).
MAGET buka akses terhadap perusahaan pendukung transisi
Investor dapat memperoleh eksposur terhadap tema transisi energi global melalui Manulife Saham Syariah ESG Transisi Global Dolar AS (MAGET), reksa dana dengan portofolio efek luar negeri yang berfokus pada perusahaan-perusahaan global yang memiliki peran dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Strategi MAGET berfokus pada perusahaan yang terhubung dengan empat tema utama, yakni energi rendah karbon; material pendukung transisi; efisiensi dan elektrifikasi; serta ketersediaan dan keamanan sumber daya. Eksposur tersebut menjadi sumber diversifikasi tambahan bagi investor yang portofolio globalnya telah terkonsentrasi pada saham teknologi.
“Kebutuhan energi rendah karbon, elektrifikasi, efisiensi, dan keamanan sumber daya membuka peluang investasi jangka panjang, untuk itu dibutuhkan horizon investasi yang memadai dari sisi investor. Menyesuaikan tujuan investasi dan kendaraan investasi menjadi salah satu upaya mengoptimalkan potensi kinerja investasi. Pasar finansial sangat dinamis sehingga fluktuasi jangka pendek harusnya menjadi bagian dari proses yang harus dilalui,” tutup Freddy.
Tentang PT Manulife Aset Manajemen Indonesia
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) yang telah hadir di Indonesia sejak tahun 1996, merupakan bagian dari Manulife Wealth and Asset Management, perusahaan manajemen investasi global yang merupakan bagian dari Manulife Financial Corporation. MAMI menyediakan solusi investasi yang menyeluruh untuk para investor melalui jasa manajemen investasi, reksa dana, dan penasihat investasi. Dengan total dana kelolaan mencapai Rp125 triliun (per Juni 2026), mengukuhkan posisi MAMI sebagai salah satu perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia. Beragam penghargaan dan pengakuan dari pihak eksternal dianugerahkan kepada MAMI sebagai perusahaan manajer investasi terbaik. Di antaranya adalah penghargaan Best Fund House/Best Asset Management Company (untuk yang ke-10 kali), Best Bond Manager (untuk yang ke-3 kali) dari Asia Asset Management, serta penghargaan Top Investment House in Asian Local Currency Bonds dari The Asset Benchmark Research (untuk yang ke-11 kali) serta Fund House of the Year award (Untuk yang ke-6 kali) dari AsianInvestor. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh informasi terkini mengenai MAMI serta produk-produk dan layanannya dapat diakses di manulifeim.co.id.
IWH: Sektor teknologi global menopang di tengah kekhawatiran inflasi
Investment Weekly Highlights
IWH: The Fed dan BOJ kompak menaikkan suku bunga
Investment Weekly Highlights
IWH: Kenaikan harga minyak, yield UST, dan ekspektasi Fed Funds Rate
Investment Weekly Highlights