
Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor All Time High (ATH), tajuk utama media sering menyorot “pasar sedang mahal” atau “euforia akan segera mereda.” Faktanya, rekor baru hanyalah satu titik data dalam perjalanan panjang pasar. Di 2025, IHSG menutup tahun dengan penguatan dua digit sembari mencetak puluhan rekor harian, dan memasuki 2026 tren kenaikan berlanjut hingga menorehkan level ATH baru menurut rilis dan rekap BEI serta data historis indeks.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan investor, khususnya pengguna reksa dana, di tengah tercetaknya rekor demi rekor? Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia dalam artikel ini merangkum konteks pasar, jebakan psikologis yang umum terjadi, dan kerangka keputusan yang lebih cerdas setelah ATH.
ATH itu normal, bukan alarm otomatis
Pasar yang sehat memang sewaktu waktu mencetak rekor baru. Rekor hanyalah konsekuensi aritmetika dari tren laba emiten yang tumbuh dan likuiditas yang mendukung. Di Indonesia, 2025 menjadi contoh bagaimana pasar bisa pulih pasca gejolak, mencetak 24 ATH sepanjang tahun, dan menutup di level tertinggi baru, lalu berlanjut pada 2026. Implikasi praktisnya, ATH tidak otomatis berarti “pasar pasti turun.” Data historis global juga menunjukkan kenaikan dan pemulihan bisa terjadi cepat dan tak terduga. Itulah sebabnya meninggalkan pasar lalu menunggu harga turun sering berujung ketinggalan best days yang menggerus hasil jangka panjang.
Bedakan IHSG vs LQ45: dispersi kinerja itu wajar
Banyak investor membandingkan reksa dana saham dengan IHSG, padahal struktur keduanya saja berbeda. IHSG mencerminkan seluruh saham yang tercatat di BEI, sedangkan LQ45 berisi 45 saham dengan kapitalisasi besar, likuiditas tinggi, dan secara fundamental cukup kuat. Perbedaan metodologi, termasuk cakupan konstituen, peninjauan dan berbagai aspek lainnya, secara alami menimbulkan perbedaan kinerja IHSG dan LQ45 dari waktu ke waktu. Pada beberapa fase, IHSG dapat terdorong oleh segmen saham yang di luar fokus blue chips, sehingga selisih kinerja IHSG vs LQ45 (dan produk yang berkiblat pada saham besar/likuid) bukanlah hal baru.
Hal ini harus menjadi perhatian khusus investor reksa dana saham. Dari ratusan emiten penyusun IHSG, tidak sedikit saham berkarakter high momentum, yaitu yang harganya naik agresif dalam jangka pendek. Saham-saham ini umumnya tidak memenuhi kriteria investable bagi reksa dana yang dikelola secara prudent (misalnya karena likuiditas tipis, tata kelola, ukuran kapitalisasi, atau ketahanan fundamental). Akibatnya, ketika kelompok high momentum mendominasi penguatan IHSG, reksa dana berbasis quality blue chips berpotensi terlihat tertinggal sementara. Namun, saat rotasi pasar kembali ke fundamental dan likuiditas, produk yang terdiversifikasi dan berprinsip tata kelola cenderung mendapat potensi lebih.
Psikologi investor: bias saat euforia lebih berbahaya dari volatilitas
ATH sering memicu FOMO (takut tertinggal), overconfidence, dan performance chasing. Praktisi pasar modal menekankan bahwa bias perilaku sering menggerus hasil investasi karena mendorong buy high, sell low. Edukasi dari pelaku industri menyoroti tiga bias utama: overconfidence, herding/FOMO, dan loss aversion, serta menganjurkan disiplin data dan proses. Agen penjual reksa dana juga mengingatkan bahwa market timing sulit bahkan bagi profesional; strategi yang lebih andal adalah investasi berkala (Dollar Cost Averaging atau DCA) dan diversifikasi lintas aset, terutama saat emosi memanas.
“Keluar dulu, masuk lagi nanti” jarang berhasil
Sejumlah studi populer menunjukkan betapa mahalnya melewatkan “beberapa hari terbaik” setelah gejolak. Intinya: rebound terjadi cepat, dan absen beberapa hari kunci berpotensi memangkas imbal hasil secara drastis.
Karena hampir mustahil menebak kapan terjadinya best days, maka disiplin alokasi dan time in the market berpeluang menghasilkan profil imbal hasil/risiko yang lebih baik bagi mayoritas investor.
Bagaimana menerjemahkan ATH menjadi keputusan yang lebih cerdas
Setia pada tujuan dan jangka waktu yang sudah direncanakan: Evaluasi portofolio terhadap goals (pendidikan, pensiun, wealth accumulation), bukan terhadap satu titik ATH. Ini juga sejalan dengan penekanan regulator untuk meningkatkan kualitas pemahaman risiko dan transparansi produk bagi investor. Pastikan diversifikasi lintas aset & strategi: Jangan berfokus pada satu sektor atau satu instrumen yang baru saja outperform. Kombinasikan saham kapitalisasi besar, obligasi, dan pasar uang sesuai profil risiko. Terapkan DCA dan rebalancing: Di fase euforia, DCA membantu menahan diri dari overtrading dan menormalisasi harga masuk. Rebalancing berkala mengunci sebagian gain dari aset yang sudah melesat dan mendorong aset yang tertinggal. Gunakan tolok ukur yang tepat: Jika reksa dana Anda berfokus pada blue chips/likuiditas tinggi, membandingkannya kinerjanya dengan IHSG bisa menyesatkan. Saatnya berkenalan dengan beragam indeks yang lebih tepat menggambarkan portofolio Anda. Memahami dispersi: Perbedaan antara IHSG, LQ45, dan reksa dana saham bisa melebar pada fase tertentu. Ini sering mencerminkan komposisi dan kriteria indeks/portofolio, bukan kegagalan strategi. Ketika pasar berotasi dari high momentum ke quality/liquid blue chips, selisih tersebut berpeluang mengecil.
Ingat: Disiplin mengalahkan drama harga
ATH bukan sinyal jual otomatis, sama seperti koreksi bukan sinyal beli tanpa analisis. Pemahaman perbedaan metodologi indeks, kesadaran akan bias perilaku, dan komitmen pada proses (DCA, diversifikasi, rebalancing) adalah kunci menerjemahkan rekor pasar menjadi hasil investasi yang lebih konsisten.
Tentang PT Manulife Aset Manajemen Indonesia
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) adalah bagian dari Manulife yang telah hadir di Indonesia sejak tahun 1996. MAMI menyediakan solusi investasi yang menyeluruh untuk para investor melalui jasa manajemen investasi, Reksa Dana, dan penasihat investasi. Dengan total dana kelolaan mencapai Rp124,3 triliun (per Desember 2025), mengukuhkan posisi MAMI sebagai perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia. Beragam penghargaan dan pengakuan dari pihak eksternal dianugerahkan kepada MAMI sebagai perusahaan manajer investasi terbaik. Penghargaan Fund House of The Year dianugerahkan oleh AsianInvestor (2009, 2013, 2018, 2019 dan 2022), Best Fund House (2015, 2016, 2018, 2020, 2021, 2022, 2023, 2024 dan 2025), Best Bond Manager (2024 dan 2025) dan Best Islamic Fund House (2023) oleh Asia Asset Management, serta penghargaan Top Investment House in Asian Local Currency Bonds dari The Asset Benchmark Research (tahun 2015-2025).
21 Januari 2026
Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist
IWH: AS semakin menekankan ambisinya terhadap Greenland
Investment Weekly Highlights
IWH: Tensi geopolitik mewarnai pasar
Investment Weekly Highlights
Monthly Market Review Desember 2025
Monthly Market Review