Skip to main content
Back

Volatilitas Pasar Global Tetap Tinggi

3 Oktober, 2022

 

Pekan lalu

Pasar saham Amerika Serikat melanjutkan pelemahan di pekan lalu dibayangi kekhawatiran pasar akan kenaikan suku bunga The Fed yang agresif dan dampaknya terhadap ekonomi. Data inflasi PCE AS lebih tinggi dari perkiraan di 6.2% YoY (Aug) sementara ekspektasi pasar di level 6.0%. Data ini mengafirmasi pandangan The Fed bahwa tekanan inflasi masih tinggi dan kenaikan suku bunga lebih lanjut masih dibutuhkan. Pasar juga dibayangi oleh sentimen dari kebijakan fiskal pemerintah Inggris yang memangkas pajak di tengah kondisi inflasi yang tinggi. Kebijakan ini dipandang pasar dapat membebani APBN Inggris dan memberi tekanan inflasi tambahan. Bank sentral Inggris merespon dengan melakukan intervensi di pasar dengan menyiapkan program pembelian obligasi sementara senilai GBP65 miliar hingga pertengahan Oktober. Indeks S&P 500 melemah 2.91% pekan lalu dan indeks Dow Jones melemah 2.92%. Imbal hasil UST 10Y naik dari 3.68% ke 3.83%, walau sebelumnya sempat menyentuh 4%.

Pasar saham kawasan Asia juga melemah pekan lalu di tengah volatilitas pasar global yang tinggi. Saham teknologi dan konsumer Asia terpukul oleh kabar Apple mengurangi produksi iPhone terbaru karena jumlah pesanan yang datang tidak sesuai harapan. Hal ini membuat pasar khawatir bahwa sektor konsumen sudah benar-benar terhantam dampak inflasi. Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia Pacific melemah 4.25% pekan lalu. Data ekonomi yang dirilis adalah PMI manufaktur China yang naik ke 50.1 di September dari sebelumnya 49.4. Sementara itu PMI non-manufaktur China turun ke 50.6 dari sebelumnya 52.6.

Pasar Indonesia tidak luput dari volatilitas pasar global, di mana IHSG melemah 1.92% pekan lalu dengan sektor perindustrian dan teknologi mencatat pelemahan terdalam. Investor asing mencatat penjualan bersih IDR2.9 triliiun di pasar saham. Pasar obligasi juga melemah 0.80% dengan imbal hasil obligasi pemerintah 10Y naik dari 7.28% ke 7.37%. Nilai tukar Rupiah terdepresiasi 1.26% ke level 15227 per USD di tengah penguatan nilai tukar USD. Data yang dirilis adalah PMI manufaktur September naik dari 51.7 ke 53.7 yang mengindikasikan aktivitas sektor manufaktur Indonesia membaik.

Pekan ini

Pekan ini pasar akan memperhatikan data ketenagakerjaan AS terutama nonfarm payroll. Sektor tenaga kerja yang ketat merupakan salah satu pendorong inflasi dan menjadi fokus The Fed. Konsensus memperkirakan nonfarm payroll turun ke 250 ribu dari sebelumnya 315 ribu.

Sementara itu di kawasan Asia pasar manantikan kebijakan suku bunga dari Australia, New Zealand, dan Sri Lanka. Bank sentral Australia dan New Zealand diperkirakan melanjutkan kenaikan suku bunganya, sementara Sri Lanka menahan kenaikan suku bunga. Di domestik pasar menantikan data inflasi pasca kenaikan harga BBM dan cadangan devisa di tengah pelemahan Rupiah.

 

Unduh Dokumen

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Pekan ini

Pekan ini pasar akan memperhatikan data ketenagakerjaan AS terutama nonfarm payroll. Sektor tenaga kerja yang ketat merupakan salah satu pendorong inflasi dan menjadi fokus The Fed. Konsensus memperkirakan nonfarm payroll turun ke 250 ribu dari sebelumnya 315 ribu.

Sementara itu di kawasan Asia pasar manantikan kebijakan suku bunga dari Australia, New Zealand, dan Sri Lanka. Bank sentral Australia dan New Zealand diperkirakan melanjutkan kenaikan suku bunganya, sementara Sri Lanka menahan kenaikan suku bunga. Di domestik pasar menantikan data inflasi pasca kenaikan harga BBM dan cadangan devisa di tengah pelemahan Rupiah.

 

Unduh Dokumen

Confirm