Skip to main content
Back

The Fed indikasikan mendekati puncak suku bunga

27 Maret, 2023

​Pekan lalu​

 

Pasar finansial global bergerak fluktuatif pekan lalu dibayangi oleh akuisisi Credit Suisse oleh UBS dan menantikan rapat FOMC The Fed. Akuisisi Credit Suisse oleh UBS mengurangi kekhawatiran pasar terhadap sektor perbankan di Eropa, namun keputusan regulator untuk melakukan write-off terhadap obligasi ATF1 Credit Suisse menyebabkan volatilitas di pasar. Di tengah tekanan pada sektor perbankan, bank sentral AS, Kanada, Inggris, Jepang, Eropa, dan Swiss mengumumkan kebijakan meningkatkan likuiditas USD melalui fasilitas khusus untuk menjaga stabilitas sistem finansial. Sementara itu The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4.75-5.0% sesuai ekspektasi. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bahwa meskipun inflasi sudah melambat tetapi belum melihat adanya potensi penurunan suku bunga. Namun The Fed juga mengindikasikan kenaikan suku bunga sudah mendekati puncak, di mana proyeksi FOMC terkini memperkirakan puncak suku bunga di 5.1%. Indeks S&P 500 menguat 1.39% pekan lalu dan indeks Dow Jones menguat 1.18%. Imbal hasil UST 10Y turun dari 3.43% ke 3.37%.

Pasar saham kawasan Asia bergerak fluktuatif pekan lalu, di mana di awal pekan pasar melemah menganalisis akuisisi Credit Suisse oleh UBS. Namun sentimen pasar membaik di akhir pekan merespons pandangan The Fed yang mengindikasikan sudah mendekati puncak suku bunganya. Nilai tukar USD relatif melemah pasca komentar The Fed sehingga suportif bagi sentimen ke pasar Asia. Mata uang Asia berdasarkan indeks ADXY menguat 0.51% terhadap USD pekan lalu. Indeks MSCI Asia Pacific menguat 1.36% pekan lalu didukung penguatan sektor komunikasi dan IT

Pasar Indonesia menguat pekan lalu dengan IHSG ditutup naik 1.26% dan pasar obligasi juga naik 0.39%. Sektor material dan properti menjadi pendukung kinerja pasar saham, dan investor asing juga mencatat pembelian bersih IDR121 triliun. Imbal hasil obligasi pemerintah 10Y turun dari 6.90% ke 6.80% pekan lalu seiring dengan turunnya imbal hasil US Treasury dan The Fed yang lebih dovish. Nilai tukar Rupiah menguat 1.25% ke 15153 per USD pekan lalu. 

 

Pekan Ini


Pekan ini pasar akan memperhatikan data PCE AS yang merupakan acuan inflasi yang digunakan oleh The Fed. PCE diperkirakan turun ke 5.1% YoY dari bulan sebelumnya 5.4% YoY. Walau demikian PCE inti diperkirakan tetap pada 4.7% YoY karena komponen inflasi rumah yang sticky. Sementara itu di Asia, pasar akan memperhatikan data PMI China, di mana pasar mengekspektasikan tetap pada zona ekspansi (>50).

 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Lihat semua


Pekan ini

Pekan ini pasar akan memperhatikan data PCE AS yang merupakan acuan inflasi yang digunakan oleh The Fed. PCE diperkirakan turun ke 5.1% YoY dari bulan sebelumnya 5.4% YoY. Walau demikian PCE inti diperkirakan tetap pada 4.7% YoY karena komponen inflasi rumah yang sticky. Sementara itu di Asia, pasar akan memperhatikan data PMI China, di mana pasar mengekspektasikan tetap pada zona ekspansi (>50).

 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Confirm