Skip to main content
Back

Stabilitas Eksternal Menopang Fundamental Makro Ekonomi Indonesia

22 Agustus, 2022

Pekan lalu

Ekspektasi berlanjutnya kenaikan suku bunga Fed yang agresif untuk mengendalikan inflasi membayangi pergerakan pasar saham Amerika Serikat; selama sepekan S&P 500 turun 1.21%, Dow Jones turun 0.16%, dan Nasdaq turun 2.62%. Rilis data ekonomi menunjukkan sinyal yang beragam The Federal Reserve Bank of New York General Business Condition Index – aktivitas manufaktur negara bagian New York – bulan Agustus mengalami penurunan tajam mengindikasikan penurunan permintaan secara tiba-tiba, sementara US jobless claim tanpa terduga turun menjadi 250 ribu dari minggu sebelumnya 252 ribu menandakan sektor ketenagakerjaan yang masih sehat. Dari Eropa, angka inflasi Inggris bulan Juli lebih tinggi dari ekspektasi, dan juga merupakan level tertinggi dalam 40 tahun sebesar 10.1% YoY. Imbal hasil UST 10 tahun naik menjadi 2.97% dari penutupan pekan sebelumnya 2.83%.

Bursa saham Asia membukukan penurunan mingguan pertama dalam lima minggu dibayangi kekhawatiran baru tentang pertumbuhan di China, MSCI Asia Pacific turun 1.42%. Kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi China muncul setelah pemerintah merencanakan lebih banyak stimulus fiskal, dan pemangkasan suku bunga pinjaman. Goldman Sachs, dan Nomura memangkas proyeksi PDB China masing-masing menjadi 3.0%, dan 2.8%. Data ekonomi yang dirilis China pekan lalu meleset dari perkiraan; Industrial Production (Jul) turun menjadi 3.8% YoY, dan Retail Sales (Jul) turun menjadi 2.7% YoY. Bank sentral China memangkas 1 Year Medium-Term Lending Facility Rate sebesar 10 basis poin menjadi 2.75%.

IHSG melanjutkan penguatan di minggu kelima, naik 0.61%, sementara BINDO menguat di minggu keempat, naik 0.10%. Investor asing di pasar saham membukukan pembelian bersih mingguan senilai IDR3.18 miliar. Imbal hasil obligasi pemerintah IDR tenor 10 tahun naik menjadi 7.10% dari penutupan pekan sebelumnya 6.98%. Data ekonomi yang dirilis adalah neraca perdagangan (Jul) mencatatkan surplus lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebesar USD4.22 miliar, impor (Jul) tumbuh 39.86% YoY, dan ekspor (Jul) tumbuh 32.03% YoY. Neraca pembayaran (2Q) berbalik surplus menjadi USD2.4 miliar, dan neraca berjalan (2Q) naik signifikan menjadi surplus USD3.9 miliar atau 1.1% dari PDB. Dalam pidato tahunan menjelang hari Kemerdekaan, Presiden Joko Widodo menyampaikan target ekonomi tahun 2023; PDB di level 5.3%, inflasi di level 3.3%, dan target defisit APBN kembali berada di bawah 3% dari PDB.

 


Pekan ini

Pekan ini pasar akan memperhatikan beberapa rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, dan Indonesia. Sejauh ini konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia masih menjaga tingkat suku bunga di level 3.50%, sementara aktivitas ekonomi AS diperkirakan akan menunjukkan perlambatan.

 

Unduh Dokumen

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua


Pekan ini

Pekan ini pasar akan memperhatikan beberapa rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, dan Indonesia. Sejauh ini konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia masih menjaga tingkat suku bunga di level 3.50%, sementara aktivitas ekonomi AS diperkirakan akan menunjukkan perlambatan.

 

Unduh Dokumen

Confirm