Skip to main content
Back

Sebuah sinyal “Hawkish pause” dari The Fed

4 Mei 2023

Frances Donald, Global Chief Economist and Strategist, Multi-Asset Solutions Team

U.S Federal Reserve (The Fed) baru saja menaikkan lagi suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 5-5.25%. Dengan kemungkinan resesi di AS serta masalah perbankan seperti yang ditunjukkan oleh indikator-indikator utama terus membayangi pikiran para investor, kenaikan suku bunga tersebut kemungkinan akan menjadi yang terakhir dalam siklus kenaikan suku bunga yang historis ini. Di dalam Market Note kali ini, Frances Donald, Global Chief Economist and Strategist dari tim Multi-Asset Solutions, akan mendiskusikan prakiraan baseline kami.

 

Reaksi pasar terhadap kenaikan suku bunga tersebut teredam seiring dengan adanya ekspektasi bahwa The Fed akan melakukan hawkish pause, dan Ketua The Fed, Jerome Powell juga tidak banyak memberikan pernyataan. Pernyataan yang dirilis serta konferensi pers yang dilakukan setelah keputusan menaikkan suku bunga konsisten dengan pandangan kami bahwa kenaikan suku bunga saat ini telah berakhir, namun batas yang harus diturunkan cukup tinggi.  Hal ini kemungkinan besar hanya akan dipicu oleh kemunduran material dalam pertumbuhan.

Kenaikan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin


The Fed menaikkan lagi suku bunganya sebesar 25 bps, bahkan di saat kondisi perbankan AS memburuk dan sinyal resesi semakin jelas terlihat. Dan meskipun The Fed menyadari adanya pelemahan kondisi tersebut, seperti “Persyaratan kredit yang lebih ketat” serta dampak yang “Tidak pasti” yang mereka berikan terhadap aktivitas ekonomi, The Fed tetap memilih untuk bersikap hawkish. Pernyataan tersebut tidak menafikan kalimat yang mengatakan bahwa, “Penetapan kebijakan tambahan mungkin tepat”.  Sebaliknya, The Fed bermain-main dengan kualifikasi di sekitarnya dengan secara lebih gamblang menyatakan: "Dalam menentukan apakah penegasan kebijakan tambahan mungkin tepat, Komite akan mempertimbangkan [berbagai faktor standar]".


Walau Ketua Powell menekankan bahwa perubahan pernyataan seputar “Penetapan kebijakan” ini “Memiliki arti yang besar”, bagi kami pernyataan tersebut tetap terlihat sebagai akan diambilnya sikap jeda (pause) dengan kemungkinan akan diambilnya tindakan lebih lanjut bila diperlukan. 


Lebih penting lagi, ditambah dengan penyesuaian yang terbatas atas asesmen mengenai pertumbuhan, tindakan yang diambil The Fed tersebut tidak memperlihatkan suasana seperti ketika sebuah bank sentral mengalami panik menghadapi krisis perbankan maupun hard landing. Mereka dapat saja merilis pernyataan tersebut tiga bulan yang lalu dan tetap akan tampak sesuai pada saat itu.
 

Pause oleh The Fed vs Market cuts


Tentu saja, The Fed tidak punya pilihan lain: mereka harus mengakui adanya masalah, dan pasar akan terus melakukan pelonggaran secara prematur, memicu aktivitas perumahan (seperti yang telah terjadi), serta mendorong kenaikan harga aset. Sementara, bila mereka tampak mengabaikan risiko, maka hal tersebut akan memicu pengetatan material di pasar yang semakin menghambat stabilitas finansial.


Powell mencoba bermain aman dengan menegaskan bahwa kebijakan The Fed saat ini bersifat “restriktif”, serta bahwa mereka menyadari efek menghambat dari kebijakan moneter kumulatif yang telah ada di dalam sistem saat ini. Meski begitu, beliau juga menyatakan bahwa di dalam base case nya, “tidaklah tepat” untuk menurunkan suku bunga.


Tentu saja, pasar tampak tidak terpengaruh, mungkin karena para investor tidak pricing in pada apa yang mereka yakini dipikirkan oleh The Fed, namun pada apa yang akan terpaksa dilakukan oleh The Fed. Memang modal case-nya adalah bahwa The Fed akan harus menurunkan suku bunga empat kali (atau 100 bps) hingga akhir Januari 2024.
 

Dependensi data: “Kami akan mempertimbangkan semua hal”
 

Pergerakan The Fed yang semakin mendekati diambilnya jeda menunjukkan bahwa The Fed saat ini lebih tergantung pada data daripada di masa lalu. Tapi data yang mana tepatnya? Powell mengatakan, “Kami akan mempertimbangkan semua hal”. Namun di dalam konferensi pers ada dua data yang disebutkan yang kami rasa penting.


Pertama, The Fed akan memerhatikan ketersediaan kredit yang memang telah memburuk sejak sebelum terjadinya masalah dalam sistem perbankan dan yang kemungkinan akan semakin bermasalah ke depannya. Ketersediaan kredit adalah salah satu indikator terkuat kami untuk semua bentuk aktivitas ekonomi. Tren penurunannya selama tahun lalu adalah salah satu tonggak utama pandangan kami yang mengatakan bahwa resesi akan segera terjadi.


Kedua, Ketua Powell berbicara mengenai “Inflasi jasa layanan non perumahan”. Beliau mengatakan bahwa “Permintaan akan harus melemah” dan “Kondisi bursa tenaga kerja harus lebih baik” untuk menghadapi komponen inflasi tersebut.


Meskipun kami berpendapat bahwa sisi tenaga kerja dari dual mandate The Fed akan memaksanya melakukan penurunan suku bunga pada akhir 2023 atau awal 2024, namun bila Powell mengawasi indikator tersebut, maka kami juga akan melakukannya.

 

Kami tetap berpegang pada prakiraan baseline kami mengenai pause The Fed pada akhir tahun


Prakiraan baseline kami tidak mencakup kenaikan suku bunga di masa depan, meskipun kemungkinan dilakukannya kenaikan suku bunga pada dua rapat The Fed berikutnya lebih tinggi daripada kemungkinan akan dilakukannya penurunan suku bunga. Lebih jauh lagi, meskipun kami memperkirakan akan dimulainya siklus pelonggaran dengan dilakukannya satu penurunan suku bunga pada akhir tahun, kami juga menyadari bahwa The Fed mungkin saja akan lagi lebih lama dalam menanggapi melemahnya pertumbuhan akibat adanya guncangan yang masif pada level harga serta kekhawatiran akan terjadinya kembali inflasi lebih cepat dari yang diperkirakan. Hal ini menjadi penting karena kita telah terbiasa pada dilakukannya penurunan suku bunga yang tajam dan segera yang dipicu oleh resesi. Resesi tanpa adanya penurunan suku bunga tidak termasuk di dalam central case kami, namun kami akan harus mempertimbangkan untuk menyertakannya di dalam skenario alternatif kami, terutama karena betapa akan besarnya dampak hal tersebut terhadap beberapa kelas aset.

 

 

Unduh Dokumen

 

  • IDB: BI mempertahankan suku bunga di 6%

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Februari 2024: Dampak penurunan Fed Funds Rate terhadap pasar saham Indonesia

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm