10 Agustus 2026
Pasar saham Amerika Serikat menguat pekan lalu didukung oleh harapan perkembangan positif perundingan AS-Iran dan membaiknya sentimen pasar di sektor teknologi. Indeks S&P 500 menguat +3.58% pekan lalu dengan sektor IT mencatat penguatan tertinggi. Sentimen di sektor teknologi AS membaik pasca laporan earnings emiten teknologi besar yang positif. Sementara itu aktivitas industrial AS menguat, tercermin dari data ISM manufacturing naik ke 55.6 di Juli yang merupakan level tertinggi dalam 4 tahun. Di sisi lain data ketenagakerjaan AS melemah, sehingga mendorong ekspektasi The Fed tidak akan buru-buru menaikkan suku bunga. Data nonfarm payroll AS turun -23 ribu mengindikasikan pengurangan tenaga kerja di bulan Juli, berlawanan dengan ekspektasi konsensus +80 ribu. Imbal hasil UST 10Y turun pekan lalu dari 4.73% ke 4.64%.
Di Asia, indeks MSCI Asia Pacific menguat +0.42% dengan sektor material menguat tertinggi, sementara sektor IT melemah terdalam. Berlawanan dengan sektor teknologi AS yang membaik, sektor teknologi Asia bergerak fluktuatif pekan lalu terutama dipengaruhi saham teknologi di Korea Selatan. Sementara itu pasar Jepang menguat (Topix +1.8%) didukung kabar pemerintah Jepang menyetujui pemangkasan pajak konsumsi untuk makanan dan minuman dari 8% menjadi 1% efektif April 2027 mendatang untuk mendukung daya beli masyarakat. Pasar saham China juga menguat (+2.3%) didukung oleh sektor IT. Alibaba merilis AI model terbaru, Qwen3.8-Max, yang di klaim menyamai kapabilitas AI model terdepan dunia seperti Anthropic, sehingga mendukung sentimen terhadap emiten dalam rantai pasok teknologi domestik. Data perdagangan China tetap kuat di Juli, dengan ekspor tumbuh +23.9% YoY dan impor +27.5% YoY. Kinerja ekspor didukung oleh produk teknologi tinggi seperti hardware AI, kendaraan listrik, dan energi terbarukan.
Di domestik, pertumbuhan PDB 2Q-2026 mencapai +5.29% YoY (vs 1Q26 +5.61%), mengungguli ekspektasi konsensus Bloomberg di 5.14%, walau melambat dibanding pertumbuhan di 1Q. Melambatnya pertumbuhan ekonomi dibanding periode 1Q disebabkan oleh melandainya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, walau keduanya tetap tumbuh kuat, masing-masing di +5.06% YoY dan +16.01% YoY. Sementara itu komponen pembentukan modal tetal bruto tumbuh lebih kuat dari kuartal sebelumnya ke level +6.88% YoY, dikontribusi oleh kelompok kendaraan dan peralatan lainnya. Sementara itu inflasi melandai di Juli ke level +2.88% YoY dari sebelumnya +3.34%, dan inflasi inti stabil di +2.76% YoY. Turunnya inflasi disumbang oleh komponen makanan, minuman, dan tembakau. Neraca perdagangan mencatat defisit -USD451 juta di Juni, membaik dari -USD1.6 miliar di bulan sebelumnya. Ekspor +8.84% YoY dan impor +34.27% YoY. IHSG menguat +2.78% pekan lalu dengan investor asing mencatat pembelian bersih IDR701 miliar. Indeks obligasi BINDO +0.24% dengan imbal hasil SBN 10Y turun dari 7.33% ke 7.28%. Rata-rata imbal hasil SRBI 12-bulan dalam lelang Jumat lalu turun ke 7.59% dari sebelumnya 7.63%.
IWH: The Fed mempertahankan tingkat suku bunga
Investment Weekly Highlights
IWH: Eskalasi geopolitik, kenaikan harga minyak, dan volatilitas sektor teknologi global
Investment Weekly Highlights
IWH: Pasar Indonesia stabil di tengah konsolidasi sektor teknologi global
Investment Weekly Highlights