Skip to main content
Back

Seeking Alpha Oktober 2023: Peluang pasar saham menjelang akhir tahun

9 Oktober, 2023

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Senior Portfolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Caroline Rusli, CFA

 

Bulan September ditandai dengan meningkatnya volatilitas global yang berdampak negatif terhadap kinerja investasi aset saham dan obligasi. Bisakah Anda menjelaskan alasannya?
 

Kenaikan harga minyak dunia dan perbedaan perspektif antar pelaku pasar yang mengharapkan suku bunga segera turun dan The Fed yang memandang bahwa kebijakan suku bunga dapat tetap restriktif lebih lama ‘higher for longer’ menjadi penyebab dominan meningkatnya volatilitas di pasar global. 
 

Kondisi ekonomi Amerika Serikat yang masih tergolong kuat memaksa The Fed untuk tidak buru-buru menurunkan suku bunga, seperti yang ditunjukkan oleh proyeksi suku bunga di akhir tahun 2024 yang meningkat menjadi 5.1%, dari sebelumnya 4.6%. Afirmasi ‘higher for longer’ juga terlihat dari perkiraan proyeksi data makroekonomi Amerika Serikat yang diterbitkan oleh The Fed di bulan September lebih baik dibandingkan ekspektasi sebelumnya. Kondisi ini langsung menyebabkan lonjakan pada imbal hasil US Treasury dan ‘memaksa’ imbal hasil obligasi negara lain termasuk Indonesia naik. Sisi positif dari proyeksi ekonomi yang optimis tersebut adalah terbukanya peluang perlambatan tanpa memberikan tekanan berlebihan pada perekonomian.
 

Mengenai kemungkinan ‘higher for longer’, apakah kondisi ini jadinya menutup harapan The Fed bisa segera menurunkan suku bunganya dalam waktu dekat?
 

Mengacu pada proyeksi makroekonomi yang dikeluarkan oleh The Fed di bulan September terlihat bahwa penurunan suku bunga baru terjadi di tahun 2024, tidak ‘sesegera’ – misalnya di tahun ini – seperti yang diharapkan oleh pasar. Kondisi ekonomi AS yang masih kuat membuat pembicaraan tentang pemangkasan suku bunga menjadi tertunda ke tahun depan.
 

Proyeksi siklus pelonggaran suku bunga dalam laporan makroekonomi The Fed yang diterbitkan September lalu menarik untuk dicermati, di mana suku bunga dalam tiga tahun mendatang diperkirakan hanya akan turun sebesar 270bps dari 5.6% di 2023 menjadi 2.9% di 2026. Jika hal ini terjadi, maka akan menjadi siklus pelonggaran suku bunga paling lambat yang pernah dijalankan oleh The Fed. Sementara data historis menunjukkan bahwa setelah kenaikan suku bunga yang agresif, The Fed cenderung melakukan penurunan yang lebih agresif dalam beberapa tahun mendatang. Misalnya terjadi pelonggaran sebesar 550bps selama 2.5 tahun di 2000-2003 dan sebesar 675bps selama 3 tahun di 1989-1992. Jika ternyata penurunan suku bunga bisa lebih besar dari perkiraan maka dapat menjadi katalis positif bagi pasar.
 

Bagaimana sikap Bank Indonesia menghadapi situasi saat ini?
 

Bank Indonesia menegaskan kembali prioritasnya untuk menjaga stabilitas Rupiah lewat intervensi valuta asing dan menjaga imbal hasil obligasi agar menarik. Oleh karena itu diperkenalkan instrumen baru seperti Devisa Hasil Ekspor dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia untuk menarik aliran modal asing dan mengurangi kelebihan likuiditas di pasar keuangan domestik agar memperkuat stabilitas nilai tukar tanpa perlu menaikkan suku bunga. Ke depannya peluang pemangkasan suku bunga setelah puncak Fed Funds Rate tercapai akan bergantung pada pertumbuhan PDB Indonesia, prospek inflasi, dan kekuatan USD yang akan diperhitungkan dalam menilai kebijakan moneter.
 

Dengan hanya tiga bulan tersisa sebelum tahun 2023 ditutup, bagaimana potensi pasar saham Indonesia?
 

Sebetulnya saat ini adalah kesempatan yang baik bagi investor yang ingin berinvestasi di pasar saham Indonesia memanfaatkan kondisi selagi The Fed belum mengubah arah kebijakan suku bunganya, karena pasar saham Indonesia menawarkan valuasi yang rendah dengan fundamental perekonomian domestik yang positif. Perubahan sikap The Fed yang lebih akomodatif akan menjadi game changer bagi pasar, baik untuk kelas aset saham maupun obligasi. Jelang akhir tahun percepatan belanja pemerintah dan distribusi anggaran Pemilu menjadi katalis yang dapat mendorong pasar saham Indonesia menguat lebih lanjut.
 

Apa faktor risiko yang perlu dicermati?
 

Implikasi dari pandangan ‘higher for longer’ yang berdampak pada meningkatnya imbal hasil US Treasury dan nilai tukar USD memberi tantangan bagi kebijakan moneter dan berpengaruh pada imported inflation di kawasan negara berkembang, termasuk Indonesia. Di samping itu kenaikan harga minyak dapat menjadi faktor negatif bagi konsumsi karena mengurangi daya beli masyarakat.
 

Sektor apa yang dijagokan untuk memberikan alpha terhadap kinerja portofolio?

Secara sektoral kami memiliki pandangan yang positif terhadap beberapa tema seperti:

  • Communication services

Sektor defensif yang diuntungkan dari situasi persaingan yang kondusif, ruang pertumbuhan top line yang stabil dan penerima manfaat dana kampanye lewat meningkatnya belanja masyarakat akan pulsa.

  • Financials

Pandangan yang lebih positif terutama pada perbankan besar yang tetap bisa mendapatkan funding dengan biaya bunga yang rendah sementara cost of credit terus membaik.

  • Green energy

Menangkap pertumbuhan struktural di bidang energi terbarukan. Transisi menuju era dekarbonisasi menguntungkan bagi Indonesia yang kaya akan komoditas yang digunakan dalam teknologi energi baru terbarukan.

 

Unduh Dokumen

  • IDB: Pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IWH: Outlook defisit fiskal AS melebar

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • IDB: Pelemahan sektor teknologi menekan kinerja pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more