Skip to main content
Back

Seeking Alpha Agustus 2023: Pasar obligasi Indonesia di tengah kebijakan ketat The Fed

14 Agustus 2023

 

 



Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Senior Portfolio Manager - Fixed Income, Syuhada Arief



 

Kabar Fitch Ratings yang menurunkan peringkat utang Amerika Serikat satu level menjadi AA+ dari sebelumnya AAA menyebabkan fluktuasi pada imbal hasil UST yang naik >4%. Bagaimana dampaknya terhadap pasar obligasi Indonesia?


Betul, baru saja Fitch Ratings memangkas peringkat utang Amerika Serikat dengan alasan kemerosotan tata kelola menurunkan keyakinan atas kemampuan pemerintah untuk mengatasi masalah fiskal dan utang. Kebuntuan politik dalam mengatasi pagu utang, resolusi di menit-menit terakhir yang mengikis kepercayaan pada manajemen fiskal dan rasio utang yang tinggi menjadi faktor penyebabnya. Fitch menyatakan bahwa rasio utang terhadap PDB yang saat ini sebesar 113% adalah 2.5x lebih tinggi daripada median negara-negara dengan peringkat AAA di 39%. Dan perlu diingat penurunan peringkat ini bukan yang pertama kali, lebih dari satu dekade lalu di tahun 2011 S&P telah melakukan hal yang sama memangkas peringkat utang AS menjadi AA+. 

Didukung oleh fundamental makro ekonomi domestik yang baik dan dinamika supply demand yang kuat, penurunan peringkat ini tidak berdampak signifikan terhadap pasar obligasi Indonesia baik dalam denominasi IDR maupun non-IDR seperti USD, Euro dan Yen.

Apakah potensi kenaikan satu kali lagi suku bunga The Fed dapat memberatkan pasar obligasi Indonesia?

Potensi kenaikan satu kali lagi sebesar 25 basis poin pada suku bunga The Fed di bulan September menjadi 5.50-5.75% telah menjadi konsensus pasar. Berdasarkan informasi yang dibagikan oleh Bloomberg ±50% dari pelaku pasar sudah memperhitungkan hal tersebut. Komunikasi yang terbuka dari bank sentral membuat pasar menjadi lebih efisien, terlihat dari pergerakan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang telah naik sebesar 60 bps sejak awal Mei dari kisaran 3.4% ke 4.0%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar telah mengantisipasi kenaikan The Fed sebesar 50 bps sebelum akhir tahun, di mana 25 bps telah direalisasikan pada bulan Juli lalu. Justru yang menarik adalah jika ternyata The Fed menahan suku bunga – tidak menaikkannya lagi – malah kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi pasar finansial.

 

Apa respons Bank Indonesia di tengah kebijakan The Fed yang masih cenderung ketat?

 

Di tengah kebijakan The Fed yang masih cenderung ketat, kami memperkirakan bahwa Bank Indonesia akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga di level 5.75% setidaknya hingga akhir tahun, didukung oleh beberapa hal: 

  • Tingkat suku bunga saat ini cukup untuk menahan inflasi. Inflasi berlanjut menurun pada bulan Juni kembali ke sasaran 3±1% lebih cepat dari perkiraan semula, di mana realisasi ini merupakan terendah sejak 14 bulan lalu.

  • Pengendalian nilai tukar Rupiah dilakukan melalui instrumen lain yaitu penerbitan Term Deposit Valas Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang menawarkan suku bunga USD lebih kompetitif dibandingkan luar negeri yang diharapkan dapat meningkatkan likuiditas valas dalam negeri.


Setelah membukukan kinerja yang baik di tahun ini, bagaimana potensi pasar obligasi Indonesia hingga akhir tahun?

 

Kami masih mempertahankan pandangan yang positif terhadap pasar obligasi Indonesia ditopang oleh dinamika global dan domestik yang baik.

 

Dari sisi global, kami meyakini bahwa arus masuk investasi asing pada SUN masih akan terus berlanjut ditopang oleh ekspektasi pivot pada kebijakan Fed Funds Rate mengingat kepemilikan asing masih cukup rendah hanya sebesar 15.51% per akhir 2Q23 (di bawah level pre-pandemi yang sempat mencapai 41%).

 

Dari sisi domestik, inflasi rendah, permintaan domestik yang kuat dan pasokan obligasi yang terkendali di tengah defisit anggaran yang mengecil menjadi katalis penting bagi pasar obligasi di tahun ini. Displin fiskal dan fundamental makro yang solid diharapkan dapat mendukung peningkatan sovereign outlook dari lembaga pemeringkat besar lainnya, setelah R&I meningkatkan outlook Indonesia dari stabil menjadi positif. Konsistensi kebijakan dovish BI di tengah meredanya inflasi akan terus menjaga daya tarik dan imbal hasil obligasi tetap stabil.

 

Selain katalis positif yang tadi sudah disebutkan, apa saja faktor risiko yang perlu dicermati?

 

Dua faktor risiko utama yang kami cermati adalah potensi eskalasi tensi geopolitik dan data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi yang dapat mendorong bank sentral global terutama The Fed untuk melanjutkan kebijakan menaikkan suku bunga acuan.

 

Apa strategi investasi yang diterapkan guna menjaga kinerja portofolio tetap baik?

 

Kami menilai bahwa koreksi pada pasar obligasi Indonesia seiring dengan kenaikan imbal hasil US Treasury di atas 4.0% menjadi entry level yang baik. Selain yield obligasi Indonesia yang meningkat, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD ke kisaran 15,150 – 15,200 turut menjadi indikator entry level yang menarik, terutama bagi investor asing yang bisa mendapatkan potensi apresiasi nilai tukar.

 

Duration management dan yield enhancement diharapkan menjadi penopang kinerja portofolio di tahun ini:

 

  • Duration management pada portofolio denominasi Rupiah dijaga pada tactical overweight – baik pada portofolio durasi pendek maupun menengah – memanfaatkan jeda pada kenaikan suku bunga Bank Indonesia dan potensi meningkatnya arus asing mengingat kepemilikan yang sudah rendah.

  • Yield enhancement dilakukan dengan melakukan alokasi pada seri obligasi non benchmark yang memberikan imbal hasil lebih menarik dibandingkan dengan seri benchmark, sambil tetap mempertimbangkan faktor likuiditas.

 

Selain itu kami terus mencermati faktor risiko yang dapat memicu volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali.

 

 

Unduh Dokumen

  • IDB: Sentimen pasar positif menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Mei 2024: Pasar obligasi setelah kenaikan BI Rate dan ‘Higher for longer’ The Fed

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
  • IWH: Moderasi inflasi AS mengangkat sentimen pasar global

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Informasi libur

Menyambut Hari Raya Waisak 2568 BE, kantor kami tidak beroperasi pada 23-24 Mei 2024 dan akan kembali beroperasi pada 27 Mei 2024. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Informasi libur

Menyambut Hari Raya Waisak 2568 BE, kantor kami tidak beroperasi pada 23-24 Mei 2024 dan akan kembali beroperasi pada 27 Mei 2024. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Confirm