Skip to main content
Back

Monthly Market Review Oktober 2023

8 November 2023

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

 

Kondisi makroekonomi Indonesia tetap stabil. Inflasi umum naik ke 2.56% YoY, dari 2.28% di September karena efek lonjakan inflasi di September 2022. Secara bulanan, inflasi di 0.17% MoM di Oktober, turun dari 0.19% MoM di bulan sebelumnya. Secara keseluruhan inflasi Oktober lebih rendah dari perkiraan karena inflasi pangan yang rendah. Kami melihat deflasi di harga beras, daging ayam, telur, bawang bombai dan bawang putih. Inflasi transportasi naik ke 0.55% MoM dari 0.29% di September, seiring dengan kenaikan harga BBM non-subsidi dan tiket pesawat. Inflasi inti turun ke 1.91% dari 2.0% di September, mengindikasikan daya beli yang lemah. 

 

Di September belanja pemerintah tumbuh 14.2% YoY (27.6% MoM) mencapai IDR293 triliun, sehingga belanja tahun berjalan mencapai IDR1,968 triliun atau 63% dari anggaran APBN. Naiknya belanja menyebabkan posisi fiskal bulanan mencatat defisit IDR79.5 triliun, lebih besar dari IDR6.3 triliun di Agustus. Namun secara keseluruhan, posisi fiskal Indonesia sepanjang 2023 masih mencatat surplus IDR67.7 triliun (0.3% dari PDB) di September, walau lebih rendah dari IDR147 triliun (0.7% dari PDB) di Agustus. Pendapatan negara mencapai IDR214 triliun di September, naik dari IDR207 triliun di Agustus, sehingga secara kumulatif per 9M23 pendapatan mencapai IDR2036 triliun, atau 77% dari target. Pendapatan pajak bulanan mencapai IDR164.8 triliun, naik dari IDR159.6 triliun di Agustus, sehingga pendapatan pajak kumulatif per 9M23 mencapai IDR1,583 triliun, atau 75% dari target. Di kuartal 4-2023 pemerintah akan mengeluarkan IDR7.5 triliun bansos tunai dalam program BLT El Nino di November dan Desember. Program ini akan menyediakan 10 kg beras ke 21.3 juta rumah tangga. Meningkatnya belanja pemerintah di kuartal 4 diharapkan dapat mendukung daya beli masyarakat yang lemah, terindikasi dari tingkat inflasi inti yang rendah.

 

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan di Oktober sebesar 25bps ke level 6.0% setelah sebelumnya mempertahankan tingkat suku bunga selama 8 bulan berturut-turut. BI memandang kenaikan suku bunga dibutuhkan untuk menjaga stabilitas Rupiah dan melihat kenaikan ini sebagai aksi “pre-emptif” dan “forward-looking” untuk memitigasi inflasi karena depresiasi Rupiah. Selain itu BI mempertahankan kebijakan makroprudensial dan menerbitkan dua efek USD untuk menarik investasi asing dan mendukung nilai tukar.

 

PASAR SAHAM

Ekspektasi “higher for longer” dari The Fed (karena inflasi tetap teinggi sementara naiknya tensi geopolitik di Timur Tengah menyebabkan spekulasi harga energi) menambah tekanan di pasar finansial global. Imbal hasil UST 10-tahun menembus level 5%, level tertinggi sejak 2007, dan indeks DXY terus menguat, yang meningkatkan fluktuasi pasar. Dalam kondisi tersebut pasar saham secara global mengalami koreksi. IHSG turun -2.70% MoM namun masih unggul dari pasar saham global (MSCI World -2.97%), kawasan negara berkembang (MSCI EM -3.94%) dan Asia Pacific ex Japan (MSCI Asia Pacific ex Japan -4.11%). Sektor infrastruktur (+39.45%) dan kesehatan (+2.31%) mencatat kinerja terbaik, sementara sektor teknologi (-11.08%) melemah terdalam.

 

Fundamental kuat Indonesia (seperti disiplin fiskal, inflasi terjaga, nilai tukar terkendali, pertumbuhan PDB stabil, dan level utang yang sehat), memuncaknya Fed Funds Rate dan pemulihan ekonomi China yang mengecewakan dapat mendukung selera investor asing terhadap Indonesia. Saham Indonesia berada pada valuasi yang atraktif, lebih rendah dari rata-rata sepuluh tahun. Kami percaya bahwa ekonomi Indonesia tetap positif dan optimis terhadap daya tarik investasi jangka panjang di Indonesia.

 

​PASAR OBLIGASI​

Pasar obligasi mencatat kinerja negatif di Oktober dengan indeks BINDO kembali melemah -1.61%, yang merupakan kinerja bulanan terendah tahun ini, sehingga kinerja tahun berjalan menjadi +4.41%. Imbal hasil obligasi tenor 10-tahun terus naik dari 6.89% ke 7.09% (+20bps), mencapai level tertinggi sejak November 2022. Kenaikan level imbal hasil terjadi seiring dengan lonjakan imbal hasil US Treasury 10-tahun yang naik dari 4.57% ke 4.93% (+36bps), mencapai level tertinggi sejak 2007. Data ekonomi AS yang bagus dan melebarnya defisit fiskal AS menjadi faktor penyebab naiknya imbal hasil UST. Data tenaga kerja AS (NFP) mencatat 336 ribu pekerja baru, jauh di atas ekspektasi, dan klaim pengangguran AS yang di level 207 ribu mengindikasikan kondisi sektor tenaga kerja tetap ketat dan memaksa Ketua The Fed Powell untuk tetap membuka potensi kenaikan suku bunga lanjutan. Defisit anggaran AS 2023 melonjak ke USD1.696 triliun, yang dapat mendorong penerbitan UST sehingga membuat imbal hasil UST naik. Selain itu UST juga dipengaruhi oleh rencana bank sentral Jepang untuk mengurangi kebijakan yield curve control di tenor 10-tahun secara gradual.

 

Di pasar domestik, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan 7DRRR dari 5.75% ke 6.00% untuk menjaga stabilitas IDR di tengah volatilitas global dan narasi “higher for longer”. Naiknya suku bunga juga diikuti oleh pelonggaran kebijakan makroprudensial. BI meluncurkan 2 instrumen moneter baru, SVBI, yakni versi valas dari SRBI, dan SUVBI, versi sukuk dari SVBI. SVBI rencananya diterbitkan dengan 4 tenor, yakni 3, 6, 9, dan 12 bulan, sementara SUVBI dalam 3 tenor, yakni 1, 3, dan 6 bulan. Lelang pertama rencananya dilakukan di pertengahan November 2023. Di pasar primer, walau permintaan lelang SUN di Oktober terus menurun dan mencatat tingkat permintaan terendah di 2023, namun di lelang terakhir di Oktober menunjukkan perbaikan permintaan ke IDR35.87 triliun, mengindikasikan pulihnya permintaan dari investor domestik dan asing.

 

Investor asing kembali mencatat penjualan bersih IDR12.62 triliun di Oktober (lebih rendah dari bulan sebelumnya), sehingga kepemilikan asing turun menjadi 14.68% dari SBN yang diperdagangkan, dari 14.95% di bulan sebelumnya. Bank Indonesia mencatat pembelian bersih IDR1.88 triliun, namun persentase kepemilikan turun menjadi 24.66% dari sebelumnya 24.69%. Perbankan komersial kembali mencatat penjualan bersih di Oktober, dengan kepemilikan turun IDR8.24 triliun dan secara persentase menjadi 21.73%. Investor individu dan lainnya merupakan pembeli di Oktober, dengan kepemilikan masing-masing naik signifikan menjadi 17.19% dari sebelumnya 16.76%. Asuransi dan dana pensiun juga terus mencatat pembelian bersih, sehingga kepemilikan naik dari 18.35% menjadi 18.49%. Reksa dana mencatat penurunan posisi sebesar IDR2.51 triliun sehingga kepemilikan turun menjadi 3.25%.

 

Kurva imbal hasil membentuk pola bearish flattening di Oktober, dengan tenor pendek kalah unggul dibanding tenor lainnya. Obligasi tenor 2Y dan 5Y naik tertinggi, masing-masing 59bps dan 47bps. Imbal hasil di tenor menengah juga naik dengan 10Y dan 15Y naik masing-masing 20bps dan 12bps. Selaras dengan tenor lainnya, imbal hasil di tenor panjang juga naik, dengan tenor 20Y dan 30Y masing-masing naik 12bps dan 16bps.

 

 

Unduh Dokumen



  • IDB: Deflasi AS memperkuat harapan pemangkasan suku bunga

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Sektor teknologi menjadi pendorong pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Pandangan Ketua The Fed Powell yang seimbang terhadap ekonomi

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more