Skip to main content
Back

Monthly Market Review Mei 2023

13 Juni 2023

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

 

Indikator makro Indonesia terus menunjukkan pemulihan. Di kuartal pertama 2023 surplus neraca pembayaran meningkat menjadi USD6.5 miliar dari USD4.7 miliar di kuartal sebelumnya ditopang neraca finansial. Setelah defisit yang persisten sejak kuartal terakhir 2021, neraca finansial mencatatkan surplus USD3.4 miliar di kuartal pertama ini. Arus portofolio asing tercatat masuk USD4.3 miliar. Di lain pihak, surplus neraca berjalan menyempit akibat melambatnya ekspor. 


Inflasi umum naik 0.09% MoM, membuat inflasi tahunan turun ke level 4.0% dari 4.33% di bulan sebelumnya. Inflasi tahunan ini adalah yang terendah sejak Mei 2022. Alasan utama adalah inflasi inti dan pangan yang turun lebih dari ekspektasi. Inflasi pangan hanya berkontribusi 0.13 ppt terhadap inflasi bulanan, seiring panen yang lebih baik dari ekspektasi. Setelah periode Idul Fitri, transportasi dan sandang mengalami deflasi masing-masing -0.07ppt dan -0.02ppt. Di bulan Mei inflasi inti turun lebih dalam menjadi 2.66% akibat penguatan Rupiah dan dampak kenaikan BBM yang semakin pudar. 


Cadangan devisa turun USD4.9 miliar menjadi USD139.3 miliar di bulan Mei, penurunan terbesar sejak Maret 2020. Bank Indonesia menjelaskan penurunan terjadi akibat pembayaran utang luar negeri. Penurunan ini tidak terlalu menekan nilai tukar Rupiah (-2.2%), malah secara relatif Rupiah masih unggul dibandingkan Ringgit Malaysia (-3.4%) dan secara tahun berjalan, nilai tukar masih menjadi salah satu mata uang terunggul dibandingkan kawasan.


PASAR SAHAM

IHSG melemah -4.1% di bulan Mei, lebih lemah dibandingkan pasar global (MSCI World -1.25%), pasar Asia (MSCI Asia Pacific ex Japan -2.65%) dan kawasan berkembang (MSCI EM -1.90%). Pelemahan diakibatkan sentimen domestik yang buruk, sementara investor asing terus mencatatkan arus masuk positif sebesar USD109.5 juta. Sektor konsumer siklikal (+5.6%) dan teknologi (+3.4%) menjadi yang terunggul, sementara energi (-18.4%) menjadi yang paling terpuruk.


Kebijakan moneter diperkirakan mulai melonggar seiring suku bunga bank sentral baik Amerika Serikat maupun Indonesia yang mendekati puncak. Setelah puncak suku bunga tercapai, kami perkirakan pasar akan lebih stabil dan sentimen investor kembali membaik. Dampak masalah perbankan Amerika Serikat juga terlihat terbatas karena perbankan Indonesia memiliki permodalan yang cukup, likuiditas berlimpah, dan aktivitas bank investasi terbatas. Fokus pasar beralih pada kemungkinan penurunan suku bunga global, seiring dampak kenaikan agresif yang menyebabkan perlambatan ekonomi. Kami terus percaya bahwa eksposur di ekonomi Indonesia akan tetap positif dan optimis melihat potensi jangka panjang investasi di Indonesia.

 

​PASAR OBLIGASI​

Pasar obligasi meneruskan kinerja cemerlangnya dengan indeks BINDO kembali mencatatkan kinerja bulanan positif +1.97%, membuat kinerja tahun berjalan menjadi +5.59%. Imbal hasil obligasi 10 tahun konsisten turun dari 6.51% ke 6.36%, berlawanan dengan pergerakan imbal hasil UST 10Y yang meningkat ke level 3.64% di akhir bulan. Terdapat penjualan UST karena meningkatnya kekhawatiran terkait krisis pagu kredit dan juga The Fed yang terlihat masih hawkish. Ketidaknyamanan pasar global berlarut terjadi (sampai akhirnya terjadi kesepakatan) membuat imbal hasil UST 10Y ditutup akhir bulan di 3.82%, 


Di tengah gonjang-ganjing pasar global, pasar obligasi domestik tetap kuat. Imbal hasil 10 tahun ditutup di level terendah sepanjang tahun berjalan di level 6.36%, dipicu oleh fundamental domestik yang baik. Terlebih, pengurangan penerbitan obligasi dan sukuk menjaga pasokan obligasi tetap terjaga, menambah topangan di pasar domestik. 


Investor asing mencatatkan pembelian bersih senilai IDR6.67 triliun di bulan Mei, membuat kepemilikan meningkat jadi 15.26% dari bulan sebelumnya 14.86%. Bank Indonesia menurunkan kepemilikan sebesar IDR6.40 triliun, namun persentase kepemilikan naik dari 25.64% menjadi 26.00%. Sementara itu perbankan komersial menjadi penjual terbesar, mengurangi IDR97.65 triliun, membuat persentase kepemilikan turun ke 22.94%. Investor individu dan lain-lain juga mencatatkan jual bersih di periode ini, walaupun kepemilikannya justru naik dari 15.41% ke 15.52%. Asuransi dan pensiun terus menjadi pembeli bersih, kepemilikan naik dari 16.79% ke 17.19%. Reksa dana mencatatkan kenaikan posisi IDR1.52 triliun dan kepemilikan naik menjadi 3.10%.


Kurva imbal hasil menunjukkan pola bullish steepening, dengan imbal hasil tenor 2 tahun memimpin penurunan sebesar 51bps. Seri tenor pendek lainnya juga turun, dengan imbal hasil tenor 5 tahun turun 24bps. Di seri menengah, imbal hasil 10 dan 15 tahun masing-masing turun 15 dan 28bps. Sejalan dengan tenor lain, imbal hasil tenor juga panjang turun dengan imbal hasil tenor 20 tahun turun 23bps dan 30 tahun turun 12bps.



 

Unduh Dokumen



  • IDB: Sentimen pasar positif menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Mei 2024: Pasar obligasi setelah kenaikan BI Rate dan ‘Higher for longer’ The Fed

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
  • IWH: Moderasi inflasi AS mengangkat sentimen pasar global

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Informasi libur

Menyambut Hari Raya Waisak 2568 BE, kantor kami tidak beroperasi pada 23-24 Mei 2024 dan akan kembali beroperasi pada 27 Mei 2024. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Informasi libur

Menyambut Hari Raya Waisak 2568 BE, kantor kami tidak beroperasi pada 23-24 Mei 2024 dan akan kembali beroperasi pada 27 Mei 2024. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Confirm