Skip to main content
Back

Monthly Market Review Juni 2023

10 Juli 2023

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

 

Indikator makro Indonesia melanjutkan pemulihan. Seiring dengan pendapatan fiskal tetap kuat (menghasilkan surplus fiskal IDR153 triliun di paruh pertama 2023), pemerintah merevisi target defisit anggaran menjadi 2.28% PDB (dari sebelumnya 2.84% dan 2.38% realisasi tahun 2022). Target pendapatan naik 7%, sementara belanja naik 2%. Alhasil, target kebutuhan pembiayaan turun IDR289.9 triliun, dan juga terbantu oleh SAL (Sisa Anggaran Lebih) yang ada. 


Sementara itu inflasi umum turun menjadi 3.52% YoY di bulan Juni, dari bulan sebelumnya 4.00%. Alasan utama adalah turunnya inflasi pangan yang dikontribusi harga ayam dan telur. Sebagai tambahan, transportasi mencatatkan deflasi, semakin meringankan inflasi. Inflasi inti juga turun ke 2.58% YoY dari 2.66%, mengindikasikan permintaan domestik yang lemah. Dampak dari El Nino di paruh kedua sepertinya akan teredam oleh pengendalian pangan dari pemerintah, yang tertopang oleh ruang fiskal yang cukup. Kami melihat bahwa inflasi umum akan mencapai titik terendah di sekitar bulan September, mencerminkan efek dasar dari kenaikan harga BBM tahun lalu, sebelum kembali meningkat sampai akhir tahun. 


The Fed memberi sinyal hawkish mengindikasikan suku bunga masih akan naik (dua kali kenaikan di paruh kedua, berdasarkan dot plot Fed) akibat inflasi tinggi yang persisten. Walaupun demikian, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga untuk kelima kalinya dan menekankan fokus untuk menjaga stabilitas Rupiah. Proyeksi bank sentral sekarang adalah suku bunga The Fed naik 25bps di bulan Juli (sebelumnya diperkirakan tidak naik). BI juga menekankan akan mengimplementasikan intervensi valas untuk menjaga stabilitas dan menarik dana dari eksportir untuk menopang arus dana masuk. BI Juga akan mengaplikasikan kebijakan-kebijakan makroprudensial untuk mendukung ekonomi.

 

PASAR SAHAM

Setelah melemah di bulan lalu, IHSG naik +0.43% di bulan Juni, namun tetap kalah unggul dibandingkan pasar global (MSCI World +5.93%), pasar Asia (MSCI Asia Pacific ex-Japan +2.61%) dan kawasan berkembang (MSCI EM +3.23%). Pelemahan diakibatkan sentimen domestik yang buruk dan arus dana keluar investor asing (-USD292.8 juta). Sektor transportasi (+4.1%) dan finansial (+3.1%) menjadi yang terunggul, sementara teknologi (-6.4%) menjadi yang paling terpuruk setelah unggul di bulan sebelumnya. Rupiah terdepresiasi -0.48%, namun masih unggul dibandingkan kebanyakan mata uang kawasan ASEAN.


Sinyal The Fed mengenai kenaikan suku bunga berdampak pada pasar saham yang sebelumnya memperkirakan puncak suku bunga sudah tercapai di bulan Mei. Namun dampak ini tidak bertahan lama. Paparan mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat yang positif yang memperkirakan kondisi resesi ringan, semakin memperkuat ekspektasi pasar. Dampak masalah perbankan Amerika Serikat juga terlihat terbatas karena perbankan Indonesia memiliki permodalan yang cukup, likuiditas berlimpah, dan aktivitas bank investasi terbatas. Pasar saham Indonesia diperdagangkan pada valuasi yang atraktif di tengah kondisi keuangan yang lebih baik dari ekspektasi. Kami terus percaya bahwa eksposur di ekonomi Indonesia akan tetap positif dan optimis melihat potensi jangka panjang investasi di Indonesia.

 

 

​PASAR OBLIGASI​

Pasar obligasi domestik tetap bertahan dengan indeks BINDO terus mencatatkan kinerja bulanan positif, kali ini +1.10% MoM, membuat kinerja tahun berjalan tercatat +6.75%. Imbal hasil obligasi 10 tahun turun dari 6.36% ke 6.24%, kontradiktif dengan imbal hasil UST 10 tahun yang justru naik dari 3.64% ke 3.76% di akhir bulan. 


Di tengah The Fed yang cenderung hawkish, pasar sepertinya mengabaikan kebijakan suku bunga yang berpotensi ‘lebih tinggi lebih lama’, dan pasar obligasi domestik terus melanjutkan penguatan ditopang oleh fundamental domestik yang solid dan membaiknya sentimen. Bank Indonesia terus menekankan masih cukup nyaman dengan suku bunga acuan 5.75%, di tengah inflasi yang terus turun, walaupun BI terus memantau dampaknya pada nilai tukar. Dari sisi pasokan dan permintaan, pasokan obligasi diperkirakan akan terus turun akibat tingginya dana SAL dan ekspektasi defisit anggaran yang mengecil. Terlebih lagi, likuiditas di sistem perbankan juga masih berlimpah di tengah pertumbuhan kredit yang tidak terlalu besar, semakin meningkatkan sentimen.


Investor asing mencatatkan pembelian bersih senilai IDR17.53 triliun di bulan Juni (lebih tinggi dari bulan sebelumnya) membuat kepemilikan meningkat jadi 15.51% dari bulan sebelumnya 15.26%. Di lain pihak Bank Indonesia menurunkan kepemilikan sebesar IDR21.45 triliun, dengan persentase kepemilikan turun dari 26.00% ke 25.50%. Sementara itu perbankan komersial berbalik menjadi pembeli terbesar, menambah IDR8.28 triliun, membuat persentase kepemilikan sedikit naik ke 22.99%. Walaupun investor individu dan lain-lain juga mencatatkan beli bersih, kepemilikannya justru sedikit turun dari 15.52% ke 15.49%. Asuransi dan pensiun konsisten menjadi pembeli bersih, kepemilikan naik dari 17.19% ke 17.33. Reksa dana mencatatkan kenaikan IDR4.62 triliun dan kepemilikan naik menjadi 3.17%.


Di bulan Juni kurva imbal hasil menunjukkan pola bullish steepening, imbal hasil tenor 5 tahun memimpin penurunan sebesar 12bps, dengan pengecualian imbal hasil tenor 2 tahun yang justru naik 19bps. Di seri menengah, imbal hasil 10 dan 15 tahun keduanya turun 11bps. Sejalan dengan tenor lain, imbal hasil tenor juga panjang turun dengan imbal hasil tenor 20 tahun turun 9bps dan 30 tahun turun 7bps.



 

Unduh Dokumen



  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm