Skip to main content
Back

Monthly Market Review Juni 2022

8 Juli, 2022

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

Kondisi makro Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Pemerintah mencatatkan pertumbuhan pendapatan fiskal yang kuat, naik +49% YoY seiring naiknya pendapatan pajak +52% YoY (termasuk IDR61 triliun dari program pengungkapan sukarela) dan kenaikan pendapatan non pajak +36% YoY. Sebaliknya, belanja hanya naik +6% YoY terutama dipicu pengeluaran terkait energi, dalam bentuk subsidi dan kompensasi, sementara belanja modal, bahan baku, dan sosial turun dari angka tahun lalu yang memang tinggi. Secara keseluruhan, neraca fiskal mencatatkan surplus +0.4% PDB. Kami perkirakan di paruh kedua 2022 terjadi defisit karena belanja terkait energi masih terus meningkat. Pemerintah mentargetkan defisit fiskal tahun ini sebesar -4.5% PDB.

Inflasi umum bulan Juni melonjak +0.61% MoM, membuat inflasi tahunan tercatat +4.35%, di atas target atas dari Bank Indonesia di level +4.0%. Pemicu utama adalah kenaikan +1.77% inflasi pangan, didorong gagal panen bawang dan cabai akibat tingginya curah hujan. Kedua tanaman bumbu tersebut berkontribusi +0.42% pada inflasi. Seiring normalnya pasokan kami perkirakan tekanan inflasi dari keduanya akan berkurang. Kontributor lain tingginya inflasi adalah transportasi (+0.3% MoM, berkontribusi +0.04% pada inflasi bulanan). Ke depannya, tekanan inflasi akan datang dari penyesuaian harga produsen pengguna bahan baku impor – seperti gula, kedelai, dan gandum – dimana produsen harus menyalurkan tingginya harga produksi ke konsumen. Sebagai tambahan, tekanan juga akan datang dari sektor energi, karena sejak bulan Juli tarif listrik rumah tangga dan lembaga pemerintah naik +17.6%.

Di bulan Mei surplus perdagangan menyempit jadi USD2.9 miliar seiring penurunan bulanan ekspor 21.3% MoM, terutama karena larangan ekspor minyak sawit dan pendeknya hari kerja menjelang Idul Fitri. Pada saat yang sama, impor hanya turun 5.8% MoM, jauh lebih kecil dibandingkan kontraksi dua digit yang biasa terjadi di bulan hari Raya selama satu dekade terakhir. Hal ini mengindikasinya pemulihan permintaan domestik. Secara tahunan, ekspor naik 27.7% YoY, lebih lambat dari kenaikan impor yang mencapai +30.7% YoY.

 

PASAR SAHAM

Inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga The Fed yang agresif berdampak negatif bagi pasar global, termasuk Indonesia. IHSG melemah -3.32%, tapi masih lebih unggul dibandingkan dengan MSCI Asia Pasifik ex Jepang -6.23%, MSCI Emerging Market -7.15%, dan MSCI World -8.77%. Terjadi arus jual senilai -USD501.3 juta. Secara sektoral, transportasi & logistik menjadi yang terburuk, mencatatkan penurunan -15.1%. Sebaliknya – setelah anjlok di bulan Mei – sektor teknologi menjadi yang berkinerja terbaik mencatatkan kenaikan +2.3%.

Volatilitas berlarut akibat perang dan respons kebijakan, serta mitigasi pandemi yang tidak efektif tetap menjadi risiko utama bagi pasar saham. Di Indonesia, peningkatan inflasi tahun ini masih cukup terkendali di kisaran 4& - 5%, jauh lebih rendah dibandingkan inflasi di atas 8% pada periode pengetatan moneter tahun 2013. Pembukaan kembali ekonomi dan pertumbuhan laba korporasi yang tinggi dapat menopang pasar saham. Kami percaya bahwa eksposur perekonomian Indonesia akan tetap positif dan kami tetap optimis pada daya tarik investasi jangka panjang di Indonesia.

PASAR OBLIGASI 

Pasar obligasi Indonesia mencatat kinerja positif di bulan Juni, di mana indeks BINDO menguat +0.23% MoM, walau sepanjang tahun masih mencatat kinerja negatif -1.10%. Imbal hasil obligasi 10Y sempat naik ke level 7.50% sebelum stabil di level 7.22% di akhir bulan, karena fluktuasi US Treasury yang melonjak ke 3.50% di pertengahan Juni. The Fed kembali menaikkan suku bunga di Juni, kenaikan ketiga di 2022, sebesar 75bps menjadi 1.50%-1.75% untuk menanggulangi inflasi. Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar dan paling agresif sejak 1994. Ketidakpastian global tetap membayangi di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlanjut, meningkatkan volatilitas bagi pasar.

Walaupun kurva imbal hasil dalam tren naik, imbal hasil 10Y pada akhirnya dapat stabil didukung kondisi domestik yang kuat dan membaiknya sentimen global. Likuiditas domestik tetap tinggi karena pertumbuhan kredit melambat di 9.03% YoY di Mei. Pemerintah juga mengurangi target lelang SUN dan sukuk, masing-masing menjadi IDR 15 triliun dan IDR 7 triliun di Q3, mengindikasikan pasokan obligasi akan tetap terjaga. Intervensi Bank Indonesia terlihat minimal karena pembelian obligasi oleh BI terus menunjukkan tren turun. Dari sisi global, kekhawatiran resesi AS juga memberi tekanan bagi The Fed untuk mengurangi agresivitas kenaikan suku bunga. 

Investor asing membukukan jual bersih senilai IDR15.51 triliun di bulan Juni, membuat kepemilikan asing turun ke level 16.09% dari bulan sebelumnya 16.56%. Perbankan komersial menambah IDR21.96 triliun dengan persentase turun ke level 24.75%. Bank Indonesia juga menambah kepemilikan sebesar IDR1.21 triliun, dengan persentase turun dari 25.89% ke 25.68%. Baik asuransi maupun dana pensiun juga mencatat pembelian, dengan kepemilikan naik menjadi 15.94% dari 15.68%. Reksa dana mencatat peningkatan sebesar IDR3.21 triliun, persentasi kepemilikan naik 3.13% ke 3.16%. Investor individu dan lain lain mencatat pembelian bersih, dengan posisi kepemilikan naik dari 14.21% k3 14.37%.  

Kurva imbal hasil bergerak acak, dengan tenor pendek bergerak dan tenor 20Y mencatat kinerja lebih baik dari yang lain. Imbal hasil tenor 2Y dan 5Y turun 1bps, yang diikuti oleh tenor 20Y yang turun 8bps. Namun imbal hasil tenor menegah naik, di mana tenor 10Y naik 17bps dan tenor 15Y naik 1bps. Imbal hasil obligasi tenor panjang juga naik, di mana tenor 30Y naik 13bps.

Unduh Dokumen

  • IDB: Sentimen pasar positif menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Mei 2024: Pasar obligasi setelah kenaikan BI Rate dan ‘Higher for longer’ The Fed

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
  • IWH: Moderasi inflasi AS mengangkat sentimen pasar global

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Informasi libur

Menyambut Hari Raya Waisak 2568 BE, kantor kami tidak beroperasi pada 23-24 Mei 2024 dan akan kembali beroperasi pada 27 Mei 2024. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Informasi libur

Menyambut Hari Raya Waisak 2568 BE, kantor kami tidak beroperasi pada 23-24 Mei 2024 dan akan kembali beroperasi pada 27 Mei 2024. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Confirm