Skip to main content
Back

Monthly Market Review Juli 2023

9 Agustus 2023

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

 

Indikator makro Indonesia melanjutkan pemulihan. Di bulan Juni surplus perdagangan naik ke USD3.5 miliar, naik dari USD0.4 miliar di bulan Mei, terutama dipicu oleh impor yang lebih lemah dari ekspektasi. Angka bulan Juni membuat neraca perdagangan kumulatif kuartal kedua berada di level USD7.8 miliar, lebih rendah dari kuartal pertama sebesar USD12.1 miliar, seiring tren penurunan harga komoditas. Total akumulasi surplus di semester pertama 2023 tercatat sebesar USD19.9 miliar, turun dari USD25 miliar di periode yang sama tahun 2022. Baik impor maupun ekspor turun secara bulanan, sebagai dampak normalisasi setelah pengapalan yang lebih tinggi di bulan Mei. Di lain pihak, pertumbuhan ekspor juga turun menjadi -21% YoY di bulan Juni, dari 1% di Mei. Ekspor komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah, produk nikel dan tekstil turun akibat lemahnya permintaan dari negara-negara maju. 

 

Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5.75% untuk keenam bulan berturut-turut. Bank sentral menekankan stabilitas nilai tukar Rupiah sebagai prioritas. Cara-cara yang dilakukan termasuk intervensi dan operation twist. BI juga mengumumkan sektor-sektor dengan rasio cadangan wajib yang diperbolehkan lebih rendah, untuk mendorong pertumbuhan pinjaman. Untuk meningkatkan likuiditas USD di pasar dalam negeri, pemerintah mengharuskan eksportir untuk membawa masuk kembali ke pasar keuangan domestik, setidaknya 30% pendapatan ekspor dengan nilai minimum USD250 ribu. Pembaharuan regulasi ini diharapkan dapat menaikkan cadangan devisa dan menopang nilai tukar Rupiah. 

 

Inflasi umum turun ke level 3.08% YoY di bulan Juli dari bulan sebelumnya 3.52%, terutama dipicu oleh inflasi pangan yang lebih rendah. Inflasi inti yang tidak mengikutsertakan barang-barang yang harganya ditetapkan pemerintah dan juga barang-barang yang harganya fluktuatif, juga turun menjadi 2.43% YoY di bulan Juli dibandingkan bulan sebelumnya 2.58%. Inflasi diperkirakan akan mencapai titik terendah di bulan September, akibat berakhirnya dampak kenaikan harga BBM tahun lalu.


PASAR SAHAM

IHSG naik +4.05% di bulan Juli, mengungguli pasar global (MSCI World +3.29%), namun lebih rendah dari pasar Asia (MSCI Asia Pacific ex Japan +5.39%) dan kawasan berkembang (MSCI EM +5.80%). Setelah arus keluar di bulan sebelumnya, di bulan Juni terjadi arus masuk dana dari investor asing senilai +USD181.6 juta. Energi (+10.7%) dan bahan dasar (+10.2%) menjadi sektor yang terunggul, sementara teknologi (-1.7%) menjadi satu-satunya yang berkinerja negatif. Rupiah terdepresiasi -0.09% setelah unggul di kawasan ASEAN selama 5 bulan sebelumnya.


Lembaga pemeringkat Fitch menurunkan peringkat kredit Amerika Serikat dari AAA ke “dalam pantauan negatif” dengan alasan penurunan standar tata kelola dan perselisihan terkait batas utang. Kekhawatiran terkait penurunan peringkat dan Fed Funds Rate yang menjelang puncak dapat menopang minat investor asing pada negara-negara berkembang. Saham Indonesia diperdagangkan pada valuasi atraktif, lebih rendah dari rata-rata 10 tahun terakhir.  Kami terus percaya bahwa perekonomian Indonesia akan tetap positif dan juga tetap optimis akan daya tarik investasi jangka panjang Indonesia.

 

​PASAR OBLIGASI​

Pasar obligasi domestik kembali tenang di tengah ketidakpastian dan volatilitas pasar global, dengan indeks BINDO konsisten mencatatkan kinerja positif sebesar +0.63% MoM atau +7.43% YTD. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun turun 1bps dari 6.24% ke 6.23%, sementara di periode yang sama imbal hasil UST 10 tahun naik 20bps dari 3.76% ke 3.96%. Sebelumnya imbal hasil UST sempat turun setelah indikator inflasi PCE melemah sebelum notulen rapat bank sentral FOMC dirilis, di mana beberapa anggota rapat mempertimbangkan kenaikan 25bps yang membuat pasar kembali khawatir tentang arah kebijakan suku bunga, juga pembahasan terkait lemahnya permintaan global. Lebih jauh lagi, tensi geopolitik juga menambah ketidakpastian, terkait Rusia yang membatalkan kesepakatan mengenai perdagangan gandum Ukraina, yang diperkirakan dapat membuat pasokan pangan dunia terganggu. 

Dari sisi domestik, pasar obligasi terus menunjukkan kekuatan.  Di awal bulan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun sempat diperdagangkan di level 6.16%. Fundamental makro domestik yang solid masih menjadi faktor dominan kuatnya pasar, ditambah dengan surplus perdagangan yang baik, pertumbuhan kredit yang masih cukup rendah 7.76% YoY, dan inflasi yang jinak. Selain itu, faktor global seperti inflasi produsen di Amerika Serikat yang juga turun kembali meningkatkan ekspektasi bahwa siklus kenaikan Fed Funds Rate sudah menjelang akhir, dan imbal hasil UST sempat kembali turun ke 3.74% walaupun kembali meningkat di akhir bulan. Pada akhirnya imbal hasil obligasi 10 tahun ditutup di level 6.23% di akhir bulan, masih tetap lebih rendah dibandingkan di awal bulan. Di akhir bulan juga, The Fed pada akhirnya memang menaikkan suku bunga kembali, sesuai dengan ekspektasi konsensus, ke level 5.25-5.5%.

Investor asing mencatatkan pembelian bersih senilai IDR8.30 triliun di bulan Juli, membuat kepemilikan meningkat jadi 15.56% dari bulan sebelumnya 15.51%. Di lain pihak Bank Indonesia  menurunkan kepemilikan sebesar IDR21.45 triliun (sama dengan bulan sebelumnya), dengan persentase kepemilikan turun dari  25.50% ke 24.93%.  Sementara itu perbankan komersial juga mencatat posisi jual, mengurangi kepemilikan IDR8.76triliun, membuat persentase kepemilikan turun ke 22.67%. Investor individu dan lain-lain juga mencatatkan beli bersih terbesar, kepemilikannya naik dari 15.49% ke 15.51%. Asuransi dan pensiun konsisten menjadi pembeli bersih, kepemilikan naik dari 17.33% ke 17.67%. Reksa dana mencatatkan kenaikan IDR5.73 triliun dan kepemilikan naik menjadi 3.25%.


Di bulan Juni kurva imbal hasil menunjukkan pola tak teratur, dengan imbal hasil tenor pendek dalam tekanan menunjukkan kurva bearish flattened, sementara tenor menengah panjang justru menunjukkan kurva bullish flattening. Imbal hasil tenor 2 tahun naik 20bps, diikuti tenor 5 tahun yang naik 6bps. Sebaliknya di tenor menengah, imbal hasil 10 dan 15 tahun turun masing-masing 1 dan 5bps. Untuk jangka panjang, tenor 20 dan 30 tahun turun masing-masing 10 dan 7bps.

 

Unduh Dokumen



  • IDB: Pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IWH: Outlook defisit fiskal AS melebar

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • IDB: Pelemahan sektor teknologi menekan kinerja pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more