Skip to main content
Back

Monthly Market Review Desember 2023

8 Januari 2024

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI
 

Indikator makro Indonesia tetap stabil. Inflasi umum turun menjadi 2.6% YoY dari bulan November 2.9% YoY, dipicu penurunan harga pangan terutama cabai. Inflasi pangan di Desember tercatat 6.2% YoY dari bulan sebelumnya 6.7% YoY. Secara bulanan, inflasi umum tercatat datar tumbuh 0.4% , sama seperti kenaikan bulan sebelumnya. Inflasi inti sedikit turun di 1.8% YoY dari bulan sebelumnya 1.9% YoY, dan menjadi inflasi inti terendah sejak April 2021, terus mengindikasikan lemahnya daya beli. Rendahnya inflasi inti terutama dipicu oleh sektor kesehatan, perawatan pribadi, dan jasa. 
 

Belanja negara meningkat ke IDR616 triliun di bulan Desember, dua kali lipat dari bulan November sebesar IDR270 triliun, terutama dipicu oleh peningkatan belanja material dan modal, subsidi energi, dan juga transfer ke daerah. Di lain pihak, pendapatan negara naik ke IDR312 triliun di bulan Desember dari bulan sebelumnya IDR222 triliun. Secara keseluruhan, belanja negara tahun 2023 mencapai 100% dari target, sementara pendapatan tercatat 105% dari target. Defisit anggaran tercatat sebesar 1.65% dari PDB, jauh lebih rendah dari estimasi sebelumnya 2.3% PDB. 

 

PASAR SAHAM
 

Pasar saham bereaksi positif di bulan Desember setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuan di level yang sama dan mengomunikasikan rencana untuk mengkaji ulang kebijakan moneter seiring inflasi dan pasar tenaga kerja yang mulai melemah. IHSG naik +2.7% MoM namun tetap kalah unggul dibandingkan pasar global (MSCI World +4.8%), Asia Pasifik ex Jepang (MSCI APXJ +4.5%) dan juga emerging market (MSCI EM naik 3.7%). Sektor material dasar (+6.6%) dan energi (+4.1%) memimpin kenaikan, sementara sektor transportasi dan logistik (-5.3%) dan teknologi (-4.5%) menjadi yang paling terpuruk. Terjadi arus masuk dana asing senilai USD4.97.1 juta. 
 

Fundamental Indonesia yang kuat (seperti posisi fiskal, nilai tukar dan inflasi yang terjaga, pertumbuhan PDB yang stabil, serta rasio utang yang sehat), dan suku bunga acuan The Fed yang sudah mendekati puncak, serta pemulihan China yang tidak sesuai harapan diperkirakan dapat menopang selera investor asing untuk memilih Indonesia. Pasar saham Indonesia diperdagangkan pada valuasi yang atraktif, lebih rendah dari rata-rata 10 tahun terakhir. Kami terus percaya bahwa perekonomian Indonesia akan tetap positif dan juga tetap optimis akan daya tarik investasi jangka panjang Indonesia.

 

PASAR OBLIGASI
 

Pasar obligasi tetap tangguh dengan indeks BINDO kembali mencatat kinerja positif +1.26% di bulan Desember, membuat kinerja tahun berjalan sebesar +8.56%. Mengikuti penurunan imbal hasil UST 10 tahun yang turun dari 4.33% ke 3.88% (-4.5bps), imbal hasil obligasi 10 tahun turun dari 6.61% ke 6.45% (-15bps). Walaupun terjadi tren penurunan, pasar tidak lepas dari volatilitas, karena imbal hasil sempat kembali melonjak ke 6.74% sebelum turun kembali ke level terendah dalam 4 bulan. Data ekonomi Amerika Serikat dan kebijakan moneter The Fed membuat pasar tetap stabil. Inflasi Amerika Serikat yang melambat ke 3.10% (sebelumnya 3.20%) menjadi sinyal perekonomian yang mulai melambat. Dengan beberapa data penting menunjukkan pelemahan, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di level 5.25-5.50%, ditambah revisi dot plot yang juga menurun. Walaupun The Fed tetap menyatakan kemungkinan kenaikan suku bunga belum tertutup, kenyataannya level suku bunga tertinggi di 2023 lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya, dan penurunan suku bunga diproyeksikan terjadi di 2024.
 

Sementara dari pasar domestik, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 6.00%. Secara historis, lelang obligasi dan sukuk di periode ini biasanya ditangguhkan, namun berbeda dengan tahun ini. Tiga lelang terakhir di bulan Desember tetap dilaksanakan walaupun permintaan yang datang tidak sesuai harapan. Permintaan yang ada lebih rendah dibandingkan lelang-lelang sebelumnya menjelang libur Natal dan tahun baru. Walaupun demikian, pemerintah berhasil menerbitkan 32.14 triliun di bulan Desember, terdiri dari IDR19 triliun untuk obligasi konvensional, IDR 9.14 triliun dan IDR4 triliun untuk sukuk. 
 

Investor asing membukukan pembelian bersih senilai IDR8.17 triliun, membuat kepemilikan asing naik ke 14.93% dari bulan sebelumnya 14.89%. Bank Indonesia menambah kepemilikan IDR1.47 triliun, namun persentase kepemilikan turun dari 24.33% ke 24.19%. Perbankan komersial menjadi pembeli terbesar di periode ini, menambah kepemilikan IDR11.57 triliun membuat persentase kepemilikan melonjak ke 21.75%. Investor individu dan lain-lain tetap menjadi mencatat beli bersih, dengan kepemilikan naik ke 17.51% dari sebelumnya 17.46%. Walaupun asuransi dan dana pensiun juga mencatat beli bersih, kepemilikannya sedikit turun ke 18.47% dari sebelumnya 18.48%. Reksa dana mencatatkan kenaikan sebesar IDR1.21 triliun, namun persentase kepemilikan tetap sebesar 3.15%. 
 

Di bulan Desember kurva imbal hasil bergerak dalam pola bullish steepening, di mana tenor pendek memimpin kenaikan, imbal hasil tenor 5 tahun turun 23bps. Seiring pergerakan positif, imbal hasil tenor pendek lainnya juga turun 19bps. Imbal hasil tenor menengah juga turun, dengan imbal hasil tenor 10 tahun turun 15bps dan 15 tahun turun 19bps. Untuk tenor panjang, imbal hasil tenor 20 tahun turun 12bps dan 30 tahun turun 7bps.

 

 

Unduh Dokumen



  • IDB: Fed memberi sinyal penundaan penurunan suku bunga

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Confirm