Skip to main content
Back

Monthly Market Review Bulan September 2021

8 Oktober, 2021

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

Kondisi makro ekonomi Indonesia bulan September terus menunjukkan pemulihan.  Pembatasan sosial (dengan pelonggaran di kawasan tertentu yang menunjukkan perbaikan kondisi COVID-19) menghasilkan penurunan tajam baik kasus harian maupun keterisian ranjang rumah sakit.  Sementara itu vaksinasi juga terus ditingkatkan.   Terjadi deflasi bulanan -0.04% di September, terutama dipicu penurunan harga pangan -0.12ppts akibat cuaca yang menopang produksi.   Terjadi inflasi di sektor restoran dan transportasi (+0.03ppt) seiring beberapa kawasan secara gradual mulai memperlonggar pembatasan sosial.   Sektor perumahan dan peralatan juga konsisten mencatat inflasi  kisaran +0.2 – 0.3ppts di beberapa bulan terakhir.  Inflasi diperkirakan meningkat setelah pelonggaran aktivitas semakin luas kawasannya. 

Pengendalian fiskal terus menunjukkan penguatan.  Di 8 bulan pertama defisit anggaran tercatat -2.3% dari PDB, sementara pembiayaan tercatat sebesar 53% dari target.  Pendapatan menunjukkan pertumbuhan kuat +14% YoY, terutama dihasilkan dari pajak impor yang meningkat.  Di lain pihak, belanja turun -1.5%YoY, terutama karena penurunan transfer anggaran ke daerah.  Untuk tahun 2022, pendapatan pemerintah ditargetkan naik +6.4%, sementara target defisit sebesar -4.9% dari PDB.  Anggaran juga mengalokasikan belanja  yang cukup besar, memberikan fleksibilitas jika ada kebutuhan peningkatan belanja untuk menopang pemulihan ekonomi. 

Bank Indonesia yakin stabilitas ekonomi Indonesia akan terjaga, tidak seperti yang terjadi di 2013.  Tapering yang akan datang ini tidak lagi mengejutkan karena sudah dikomunikasikan jelas sejak awal oleh The Fed.  Posisi cadangan devisa Indonesia yang kuat juga berfungsi sebagai bantalan.  Bank Indonesia terus melakukan intervensi 3 sisi melalui pasar obligasi dan pasar mata uang serta DNDF.

 

PASAR SAHAM

IHSG menguat +2.32% dan terjadi aliran dana masuk asing sebesar USD305 juta, setara dengan aliran masuk bulan sebelumnya sebesar USD312 juta.  Kinerja IHSG mengungguli MSCI World, MSCI Emerging Market, dan  MSCI Asia Pacific ex Japan, yang masing-masing terkoreksi -4.3% seiring peningkatan kasus COVID-19, krisis energi, dan dunia yang bersiap menghadapi Fed taper.  Sektor energi (+32.4% MoM) menjadi sektor terunggul seiring harga energi yang naik signifikan.  Kenaikan harga energi akan menguntungkan ekonomi Indonesia dan sektor energi Indonesia adalah produser besar berbagai komoditas energi.   Sektor teknologi berkinerja paling buruk, mencatatkan penurunan -141% MoM.  Mitigasi pandemi yang efektif, pertumbuhan laba tinggi, dan IPO dari perusahaan besar di sektor new economy akan menjadi katalis bagi pasar, sementara memburuknya pandemic merupakan risiko utama bagi pasar saham. Mitigiasi pandemic yang efektif dan pelaksanaan reformasi kebijakan merupakan faktor krusial untuk memulihkan keyakinan investor dan ekonomi ke depannya. Kami percaya bahwa eksposur pada ekonomi Indonesia akan tetap positif dan optimis pada daya tarik investasi jangka panjang di Indonesia.

 

PASAR OBLIGASI 

Pasar obligasi tetap menunjukkan kinerja positif dimana sepanjang tahun berjalan sampai akhir September indeks BINDO mencatat penguatan +3.94%, walaupun secara bulanan melemah   -0.21% MoM, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun naik dari 6.0% ke level 6.26% di bulan September.  Kenaikan imbal hasil ini sejalan dengan kenaikan imbal hasil UST yang diperdagangkan di kisaran 1.54% seiring peningkatan volatilitas global.  Investor asing menahan diri sebelum masuk ke pasar domestik, menunggu hasil meeting bank sentral Amerika Serikat dan sinyal kapan Fed tapering akan dilakukan.  Beberapa anggota The Fed menyatakan preferensinya untuk tapering dilakukan segera, namun sebagian anggota lagi berargumen bahwa data-data makro terbaru yang lemah akan membuat implementasi tapering mundur.  Masalah utang Evergrande di China dan varian delta yang masih bergejolak juga berkontribusi pada sentimen negatif global, menekan pasar di bulan September. 

Di tengah sentimen negatif dari pasar global, faktor domestik yang solid menjadi pendorong krusial stabilitas pasar lokal.   Pasokan obligasi yang terjaga dengan target lelang obligasi kembali diturunkan terkait skema burden sharing pemerintah dan bank sentral.  Ditambah lagi, realisasi defisit anggaran yang mungkin akan lebih kecil dibandingkan target awal 5.7% dari PDB akan semakin mengurangi kebutuhan penerbitan obligasi di pasar primer, yang artinya pasokan obligasi akan lebih terbatas lagi.  Perbaikan penanganan COVID-19 juga menenangkan pasar, seiring penurunan kasus harian dan peningkatan vaksinasi.  Beberapa data ekonomi terlihat melemah akibat pembatasan sosial, namun dengan adanya perbaikan pandemi, data-data tersebut diperkirakan akan kembali membaik seiring pelonggaran aktivitas yang mulai dilakukan.    

Investor asing membukukan penjualan bersih senilai  IDR18.67 triliun, kepemilikan  turun menjadi 21.56% dari bulan sebelumnya 22.44%.  Perbankan komersial menambah pembelian IDR53.82 triliun dengan  kepemilikan meningkat ke level 26.06%.  Bank Indonesia juga menambah kepemilikan sebesar IDR4.82 triliun, namun persentase kepemilikannya turun menjadi 22.50% dari sebelumnya 22.86%.  Asuransi dan Dana Pensiun mencatat penjualan bersih,  dengan persentase kepemilikan turun dari 14.45% ke 13.34%.   Kepemilikan reksa dana naik IDR6.39 triliun, dengan persentase kepemilikan naik menjadi 3.28% dari sebelumnya 3.20%.  Kepemilikan individu dan investor lainnya adalah pembeli terbesar bulan ini, dengan kepemilikan yang naik menjadi 13.25% dari bulan sebelumnya 11.68%.

Di bulan September kurva imbal hasil membentuk pola bearish flattening  dengan imbal hasil tenor 10 tahun melonjak 19bps.  Imbal hasil tenor pendek juga meningkat,  tenor 2 tahun naik 7bps dan tenor 5 tahun naik 10bps.  Sementara itu tenor menengah 15 tahun naik 10bps.  Di tenor panjang, imbal hasil 20 tahun naik 5bps dan 30 tahun naik tipis 2bps.

 

Unduh Dokumen

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm