Skip to main content
Back

Monthly Market Review Bulan Oktober 2021

9 November, 2021

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

Pada bulan Oktober indikator makro Indonesia terus menunjukkan pemulihan. Pembatasan mobilitas yang masih berlanjut (kelonggaran aturan di daerah dengan situasi Covid-19 yang lebih baik) menghasilkan penurunan tajam kasus harian baru dan tingkat hunian tempat tidur rumah sakit. Sementara itu, kemajuan vaksinasi terus meningkat. Sejalan dengan membaiknya mobilitas dan aktivitas ekonomi, PMI Manufacturing naik menjadi 57.2, rekor tertinggi, dari 52.2 di bulan sebelumnya. Sementara itu, Indeks Harga Konsumen naik 0.12% MoM, 1.66% YoY, didorong oleh inflasi transportasi dan makanan. Inflasi inti juga naik, menjadi 1.33% YoY dari 1.30% di bulan sebelumnya. Pada 3Q21, Indeks Harga Produsen naik lebih lanjut, didorong oleh harga komoditas yang tinggi dan meningkatnya biaya logistik. Kami memperkirakan inflasi akan meningkat tahun depan karena produsen akan meneruskan kenaikan biaya. Namun, mengingat titik awal yang rendah, inflasi akan tetap terkendali. Indonesia mencatatkan surplus perdagangan yang kuat sebesar USD 4.4 miliar pada bulan September, menjadikannya surplus tujuh belas bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Ekspor naik 47.6% YoY (vs 64.1% YoY pada Agustus), sebagian besar didorong oleh batubara, yang tercatat tumbuh 203% YoY (vs 165% pada bulan Agustus). Impor meningkat 40.3% YoY (vs 55.3% di bulan sebelumnya).

Pertumbuhan PDB mencapai 3.5% YoY di 3Q21, didorong oleh konsumsi rumah tangga yang lebih lambat di tengah pembatasan mobilitas akibat gelombang kedua Covid-19. Konsumsi rumah tangga turun 1.0% YoY. PDB didukung oleh pertumbuhan ekspor bersih yang kuat (26.2% YoY). Dari sisi sektor, pertambangan, pertanian dan kesehatan tumbuh kuat. Kami melihat bahwa PDB akan pulih di 4Q21, karena konsumsi rumah tangga dan investasi akan menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Kepercayaan konsumen dan indeks mobilitas telah menunjukkan peningkatan yang baik sejak September karena mitigasi pandemi yang lebih efektif telah mendorong pembukaan kembali ekonomi secara bertahap.

Kondisi fiskal pemerintah terus membaik. Pendapatan fiskal meningkat 17% YoY di 9M21, karena kombinasi dari ekonomi domestik yang lebih sehat (PPN meningkat 20% YoY) dan pendapatan eksternal yang kuat (bea ekspor naik 911% YoY, pajak pendapatan minyak & gas meningkat 46% YoY). Penerimaan bukan pajak juga kuat, melampaui target FY21. Di sisi lain, belanja fiskal turun -2% YoY terutama karena penurunan transfer ke daerah. Defisit fiskal mencapai 2.74% dari PDB sementara pembiayaan telah melampaui target. Pada akhir tahun ini kami memperkirakan defisit anggaran akan lebih rendah dari perkiraan 5.7% dari PDB.

 

PASAR SAHAM

Indeks Harga Saham Gabungan mencatat kenaikan 4.84% MoM di bulan Oktober, mengungguli MSCI Asia Pacific ex Jepang (+1.70% MoM) dan MSCI Emerging Market  (+0.93%)  karena kuatnya arus bersih dari investor asing sebesar USD926m, dari USD305m di bulan sebelumnya. Mitigasi pandemi yang efektif dan vaksinasi yang dipercepat meningkatkan daya tarik pasar. Rupiah terapresiasi 1.01% MoM. Financials menjadi sektor dengan kinerja tertinggi (+8.7% MoM), diikuti oleh Basic Materials (+6.20%), sementara Technology menjadi sektor dengan kinerja terendah (-0.4%). Tapering Fed, yang dimulai bulan ini, sudah diperhitungkan oleh pasar. Komunikasi The Fed yang jelas, langkah tapering yang dilakukan secara bertahap dan kondisi ekonomi Indonesia yang jauh lebih baik akan memberikan efek tapering yang berbeda dibandingkan dengan tahun 2013.

Mitigasi pandemi yang efektif, pertumbuhan pendapatan perusahaan yang tinggi, dan IPO pemain besar dalam sektor new economy akan memberikan dukungan bagi pasar, sementara mitigasi pandemi yang tidak efektif tetap menjadi risiko utama bagi pasar saham. Ke depannya keberhasilan pelaksanaan reformasi juga merupakan faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan investor, pasar keuangan, dan ekonomi. Kami percaya bahwa eksposur perekonomian Indonesia akan tetap positif dan kami tetap optimis pada daya tarik investasi jangka panjang di Indonesia.

 

PASAR OBLIGASI 

Di bulan Oktober indeks BINDO kembali mencatatkan kinerja positif +0.75% MoM atau setara +4.71% YTD, dengan  imbal hasil obligasi 10 tahun turun dari level 6.26% di bulan September ke level 6.06%.   Penurunan imbal hasil ini berlawanan arah dengan kenaikan imbal hasil UST di tengah keyakinan pasar bahwa The Fed tetap akan melakukan tapering walalupun data ketenagakerjaan Amerika Serikat mengecewakan.   Notulen rapat FOMC mengimplikasikan anggota dewan setuju dengan proses tapering yang akan berakhir tengah tahun depan cukup tepat dilakukan, dan mendiskusikan pengurangan pembelian aset sebesar USD10 miliar per bulan dan mortgage backed securities sebesar USD5 miliar per bulan, walaupun ada juga anggota dewan yang berharap pengurangan lebih agresif.  Sentimen global tetap sangat dinamis di tengah isu tapering dan inflasi Amerika Serikat yang tinggi, tercatat 5.4% YoY.  Dengan volatilitas global yang terjadi, di bulan Oktober kemarin investor asing juga sangat berhati-hati. 

Sebaliknya, sentimen pasar domestik terlihat lebih positif dengan berlanjutnya kondisi pasokan obligasi yang terjaga, perbaikan kasus harian COVID-19, dan juga likuiditas perbankan yang tetap berlimpah.  Pemerintah memperkecil proyeksi defisit anggaran tahun ini di tengah ekspektasi kenaikan pendapatan akibat membaiknya ekonomi, reformasi pajak, dan kenaikan harga komoditas. Pemerintah juga mengumumkan revisi penerbitan obligasi yang lebih rendah dari IDR958 triliun yang diumumkan di bulan Juli lalu, menjadi harnya IDR879 triliun.  Kasus harian COVID-19 turun ke bawah 1000 kasus untuk pertama kalinya sejak 1 tahun terakhir. Pemerintah melonggarkan aktivitas, dan menerima kembali wisatawan asing ke Bali, serta meningkatkan batas kepadatan di ruang publik.  Likuditas antar bank tetap tinggi dan stabil, membuat volume perdagangan di pasar meningkat dipimpin obligasi jangka pendek.  Seiring berita bahwa lelang obligasi pemerintah bulan Oktober akan menjadi yang terakhir di tahun ini, pasar mengalami mini rally yang membuat imbal hasil 10 tahun turun ke level 6.0%.

Investor asing membukukan penjualan bersih senilai  IDR12.51triliun, kepemilikan  turun menjadi  21.24% dari bulan sebelumnya 21.56%.  Perbankan komersial mengurangi kepemilikan IDR9.58 triliun dengan  kepemilikan turun ke level 25.79%.  Di lain pihak, Bank Indonesia menambah sedikit kepemilikan sebesar IDR1.79 triliun, dengan  persentase kepemilikannya stabil di 22.50%.   Asuransi dan Dana Pensiun mencatat pembelian bersih terbesar  dengan persentase kepemilikan naik dari  13.34% ke 14.61%.   Kepemilikan reksa dana naik IDR1.76 triliun, dengan persentase kepemilikan naik menjadi 3.31% dari sebelumnya 3.28%. Kepemilikan individu dan investor lainnya mencatat penjualan bersih terbesar di periode ini, dengan kepemilikan turun signifikan dari 13.25% ke 12.54%.

Kurva imbal hasil bulan Oktober membentuk pola bullish steepening, dengan  dengan imbal hasil tenor 10 tahun memimpin penurunan sebesar 21bps.   Imbal hasil tenor pendek juga turun,  tenor 2 tahun turun 8bps dan tenor 5 tahun turun 20bps.  Sementara itu tenor menengah 15 tahun turun 11bps.  Di tenor panjang, imbal hasil 20 tahun turun 7bps dan 30 tahun turun 2bps.

 

Unduh Dokumen

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm