Skip to main content
Back

Monthly Market Juli 2022

9 Agustus, 2022

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

Kondisi makro Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan PDB tercatat 5.44% YoY di kuartal kedua, dibandingkan 5.01% YoY di kuartal pertama. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari ekspektasi. Pendorong utamanya adalah pertumbuhan ekspor dan konsumsi privat yang melebihi ekspektasi. Ekspor naik 55.7% YoY, jauh lebih tinggi dari 20.7% YoY di kuartal pertama. Konsumsi privat naik 5.5% YoY dari 4.3% YoY di kuartal pertama, sebagai hasil dari mobilitas yang meningkat selama libur Idul Fitri. Data ini sesuai dengan pertumbuhan tinggi sektor transportasi dan akomodasi. Transportasi naik 21.3% YoY (vs 15.8% YoY di kuartal pertama) sementara akomodasi naik 9.8% (vs 6.6% di kuartal pertama). Di lain pihak, pelemahan terlihat pada belanja pemerintah yang turun 5.2% YoY. Investasi (pembentukan modal tetap bruto) juga tumbuh lebih lambat 3.1% YoY dibandingkan 4.1% YoY di kuartal sebelumnya. Untuk kuartal berikutnya, kami perkirakan pertumbuhan akan terus solid, memperhitungkan efek dasar yang rendah akibat pembatasan aktivitas dan tingginya kasus COVID-19 varian Delta tahun lalu.

Surplus perdagangan meningkat USD5.1 miliar di bulan Juni, lebih tinggi dari konsensus. Ekspor menguat 21.3% MoM setelah penurunan tajam bulan Mei akibat jumlah hari kerja yang pendek saat libur Idul Fitri dan dimulainya kembali ekspor sawit. Secara kuartalan, surplus perdagangan mencapai USD15.6 miliar di kuartal kedua, naik 9.2% QoQ dari USD9.3 miliar di kuartal pertama. Alhasil kami perkirakan akan terjadi surplus neraca berjalan untuk empat kuartal berturut-turut, semakin menguatkan kemungkinan surplus neraca berjalan untuk keseluruhan tahun 2022.

Inflasi umum bulan Juli melonjak ke 4.94% dari 4.35% bulan sebelumnya. Pemicu utamanya masih sama seperti bulan lalu, seperti cabai (+0.2ppts) dan bawang putih (+0.1ppts) akibat musim penghujan yang tinggi. Sebagai tambahan, pemerintah juga menaikkan harga elpiji non subsidi (+0.05ppts). Di lain pihak, harga minyak sayur terus turun (-0.07ppts). Inflasi inti naik ke level 2.86% dari 2.63% YoY bulan sebelumnya, terutama akibat kenaikan tarif pesawat terbang (+0.1ppts). Kami memperkirakan inflasi umum dapat melewati level 5% di bulan-bulan mendatang akibat risiko inflasi pada harga-harga yang diatur pemerintah, dan juga kenaikan biaya produsen yang dibebankan pada konsumen. Walaupun demikian, inflasi dari harga pangan yang bergejolak mungkin dapat turun gradual seiring kondisi cuaca yang membaik. Inflasi inti diperkirakan dapat meningkat ke ~3.5% untuk keseluruhan 2022 akibat kenaikan harga dari pabrikan dan grosir, serta kenaikan inflasi jasa akibat efek dasar yang rendah. Seiring peningkatan inflasi inti, BI diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan 2-3 kali di paruh kedua 2022 ini, dimulai di kuartal ketiga.

 

PASAR SAHAM

Setelah penurunan di bulan Juni, IHSG sedikit menguat di bulan Juli, naik 0.57%, mengungguli MSCI Asia Pasifik Ex. Jepang (-0.37%), dan MSCI Emerging Market (-0.69%). Pernyataan The Fed - yang memprioritaskan penanganan inflasi tetapi kenaikan suku bunga ke depan tidak akan agresif – disambut pasar baik oleh pasar global, dengan MSCI World menguat 7.86%. Masih terjadi jual bersih asing sebesar USD149.7 juta, namun jauh lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar USD501.3 juta. Secara sektoral, sektor kesehatan menjadi yang terburuk melemah 4.37%. Di lain pihak, sektor energi menjadi yang terunggul dengan kenaikan 13.4%, diikuti oleh sektor industrial yang menguat 8.10%.  

Volatilitas berlarut akibat perang dan respons kebijakan, serta mitigasi pandemi yang tidak efektif tetap menjadi risiko utama bagi pasar saham. Di Indonesia, peningkatan inflasi tahun ini masih cukup terkendali di kisaran 4% - 5%, jauh lebih rendah dibandingkan inflasi di atas 8% pada periode pengetatan moneter tahun 2013. Pembukaan kembali ekonomi dan pertumbuhan laba korporasi yang tinggi dapat menopang pasar saham. Kami percaya bahwa eksposur perekonomian Indonesia akan tetap positif dan kami tetap optimis pada daya tarik investasi jangka panjang di Indonesia.

PASAR OBLIGASI 

Pasar obligasi Indonesia melanjutkan kinerja bulanan positif, di mana indeks BINDO menguat +0.51% MoM, memperkecil kinerja negatif tahun berjalan sampai bulan Juli menjadi -0.60%. Sebelumnya imbal hasil obligasi 10 tahun sempat melesat hampir mencapai 7.5% mengikuti volatilitas UST yang melonjak ke 3.08%. The Fed menaikkan suku bunga untuk keempat kalinya di 2022 sebesar 75bps ke level 2.25-2.50%, seiring inflasi bulan Juni yang melebihi ekspektasi di 9.10% YoY, level tertinggi sejak November 1982. Walaupun pengetatan moneter berlanjut, terlihat ada perubahan dalam pernyataan The Fed, di mana kini arah kebijakan ke depan dianggap pasar tidak lagi akan seagresif sebelumnya. Perubahan yang tampaknya dilakukan sebagai respons atas lemahnya indikator perumahan dan manufaktur ini membuat pasar obligasi domestik terangkat.

Dari pasar domestik, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 3.5% seiring inflasi inti bulan Juli yang terjaga di 2.86%. Keputusan ini dianggap kurang sigap dalam mengkaji kondisi, dan setelah pengumuman ini pasar obligasi tertekan. Meskipun demikian, pasar obligasi akhirnya kembali stabil dan di akhir bulan imbal hasil 10 tahun turun ke 7.11%, ditopang beberapa faktor: likuiditas yang masih berlimpah, pasokan obligasi yang terjaga, dan imbal hasil UST yang stabil di kisaran 2.65%. Walaupun sudah mencapai dua digit di level 10.66% YoY di bulan Juni, namun pertumbuhan kredit yang lambat menjaga likuiditas tetap lancar. Terlebih lagi, Japan Credit Rating Agency mengafirmasi peringkat utang Indonesia di level BBB+ dengan outlook stabil. Sementara itu kementerian Keuangan melanjutkan program pengungkapan harta sukarela, dengan menerbitkan obligasi Syaariah BPS035 yang jatuh tempo di 2024 dengan imbal hasil 7.34% khusus untuk program pengungkapan sukarela ini.

Selama bulan Juli Investor asing membukukan jual bersih senilai IDR28.98 triliun membuat kepemilikan asing turun ke 15.36% dari 16.09% bulan sebelumnya. Perbankan komersial menambah IDR20.13 triliun dengan persentase naik ke level 24.95%. Bank Indonesia juga menambah kepemilikan sebesar IDR14.97 triliun, sehingga kepemilikan naik dari 25.68% menjadi 25.77%. Baik asuransi maupun dana pensiun juga mencatat pembelian, dengan kepemilikan naik menjadi 16.32% dari 15.94%. Reksa dana mencatat peningkatan tipis sebesar IDR0.28 triliun, namun persentase kepemilikannya turun dari 3.16% ke 3.14%. Investor individu dan lain lain mencatat pembelian bersih, dengan posisi kepemilikan naik dari 14.37% ke 14.45%.

Kurva imbal hasil bergerak acak, dengan tenor pendek bergerak dan tenor 20Y kalah unggul dibanding tenor lainnya. Imbal hasil tenor 2Y dan 5Y naik 19bps dan 33bps diikuti oleh tenor 20Y yang naik 17bps. Imbal hasil tenor menengah turun, di mana tenor 10Y turun 9bps dan tenor 15Y turun 49bps. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun naik 7bps.

 

Unduh Dokumen

  • IDB: Sentimen pasar positif menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Mei 2024: Pasar obligasi setelah kenaikan BI Rate dan ‘Higher for longer’ The Fed

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
  • IWH: Moderasi inflasi AS mengangkat sentimen pasar global

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Informasi libur

Menyambut Hari Raya Waisak 2568 BE, kantor kami tidak beroperasi pada 23-24 Mei 2024 dan akan kembali beroperasi pada 27 Mei 2024. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Informasi libur

Menyambut Hari Raya Waisak 2568 BE, kantor kami tidak beroperasi pada 23-24 Mei 2024 dan akan kembali beroperasi pada 27 Mei 2024. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Confirm